Refleksi Diri dari Kemacetan

Who Am I?

Setiap berangkat kantor, pastilah satu hal yang tidak akan pernah terlewati adalah kemacetan. Hidup di Jakarta memang harus begitu, kalau tidak macet bahkan terkesan aneh. Bahkan  saking macet begitu kentalnya dengan budaya Jakarta, ketika weekend, banyak warga Bandung berseloroh “saking enaknya sama kemacetan, setiap weekend kemacetannya di bawa ke Bandung”. Benar atau tidak itu hanyalah sebuah guyonan saja, mohon jangan di ambil hati. Tingkat kemacetan di Jakarta memang makin parah. Perjalanan penulis dari rumah sampai kantor misalnya, mencapai 2 jam. Itu baru dari rumah sampai kantor. Bagaimana kalau pulangnya? Setali tiga uang, tetap saja 2 jam juga. Seandainya masuk kerja sembilan jam, maka banyak sekali waktu yang kita gunakan hanya untuk kantor. Berarti total penulis merelakan waktunya 13 jam hanya untuk kantor saja. Tidur normal adalah 7 jam, maka sisanya adalah 4 jam yang bisa dipergunakan untuk keluarga, teman-teman atau saudara-saudara kita lainnya. Menurut pembaca apakah ada yang salah dengan hal itu? Mengapa kita hanya disibukan oleh urusan kantor saja?

Kembali lagi ke topik kemacetan, adanya kemacetan sebenarnya dapat memberikan kenikmatan bagi kita. Selama 4 jam yang tersisa itu, bukankah masih ada hal yang bisa kita lakukan? Membaca buku misalnya. atau bisa saja kita melakukan deep thinking. Hal terakhir ini paling sulit dilakukan, karena saking banyaknya masalah yang menyertai, kita biasanya selalu memikirkan masalah-masalah yang ada. Banyak orang, bahkan teman-teman saya pun terjebak dengan rutinitas, hingga lupa bahwa waktu terus berjalan dan hidup ini sangatlah singkat.

Untungnya ada kemacetan, sekali-kali penulis juga suka melakukan deep thinking supaya tidak lupa bagaimana menjalani hidup ini sebenarnya. Maksudnya hidup yang berkualitas, bukan hanya diperbudak oleh rutinitas saja dan menyelesaikan masalah-masalah orang lain dan menghiraukan diri kita sendiri. Tadi sudah kita bicarakan hidup ini singkat, kenapa kita tidak melakukannya secara berkualitas? Mengapa pula kita terjebak dengan rutinitas? Tapi kan masalah selalu datang silih berganti? 

Memang masalah selalu datang silih berganti, namun tergantung kitanya juga yang menganggap bahwa itu masalah atau bukan? Apakah itu sebuah prioritas yang harus kita lakukan sekarang atau bisa kita tunda? Memangnya tidak jenuh selalu terlibat masalah melulu? Coba pikir ulang, kenapa kita selalu terlilit masalah terus? Apakah memang ada sesuatu yang salah dalam diri kita atau kah ada faktor lain di luar kendali kita? Seandainya di luar kendali kita, coba pikir ulang kenapa hal itu terjadi? Jangan-jangan mungkin kita memang lupa bersyukur. Bersyukur akan nikmatnya kehidupan yang diberikan, bersyukur bahwa kita memiliki istri yang men-support kita di saat susah, bersyukur bahwa kita memiliki ragam teman yang dapat berbagi, dan masih banyak rasa syukur yang dapat kita lakukan. Kembali lagi ke jangan-jangan. Jangan-jangan kita selalu memikirkan masalah dibandingkan rasa syukur itu?

Mencari uang itu perlu, tetapi jangan lupa uang itu tidak bisa membahagiakan. Bahagia kan datangnya dari hati. Kalau uang banyak, tetapi hati tidak bahagia, susah juga ya? Meski pun tidak bisa dipungkiri, uang bisa memberikan jalan menuju kebahagiaan, namun faktornya tetap bukan uang itu sendiri. Uang hanyalah perantara, yang terpenting tetap kebahagiaan utama itu dalam hati kita. Mungkin terasa ngawang-ngawang jika kita membicarakan kebahagiaan. Tetapi hidup di dunia ini ya cuma itu saja, kalau tidak ‘susah” ya ‘bahagia’.

Cobalah mulai sekarang rajin-rajin mencintai diri kita dan orang-orang terdekat. Siapa saja orang terdekat yang kita miliki? Coba pikirkan, apa saja yang telah mereka lakukan kepada pembaca selama hidup ini, niscaya tidak akan terbayar. Orang tua kita contohnya, tanpa pamrih membesarkan kita, berusaha mati-matian merawat kita dari kecil. Meski pun dalam kondisi yang pas-pasan selalu berusaha memenuhi kebutuhan kita. Terkadang penulis suka memperhatikan Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang tinggalnya di gerobak. Dengan tertatih-tatih mereka mengayunkan langkahnya sambil menarik gerobak berisi anak-anak mereka di dalamnya. Sang anak dengan cerianya mengenggam boneka kusam satu-satunya. Mungkin satu-satunya kemewahan yang dimiliknya adalah boneka itu. Tetapi meski begitu, sang anak masih bisa tersenyum lebar. Sang ayah dan ibunya pun masih bisa menafkahi mereka. Seolah-olah mereka tidak memiliki kekhawatiran hidup. Coba pembaca pikirkan, mengapa hal itu terjadi? Kalau boleh jujur, masalah mereka sama pembaca itu lebih banyak siapa? dengan uang dari gaji mau pun usaha yang dimiliki pembaca toh tidak bisa membuat bahagia? Kenapa hati selalu resah? Mengapa keluarga tersebut masih bisa tersenyum lebar. Selagi di kasih kesempatan oleh Allah, kenapa tidak kita gunakan hidup yang singkat ini untuk membahagiakan orang tua kita. Jangan sampai hal itu terlambat, karena kita tunda-tunda. Entah kenapa, jika kita membahagiakan orang-orang terdekat kita, apalagi orang tua yang telah membesarkan kita, rejeki selalu mengalir dan tanpa kita sadari kita akan hidup lebih bahagia.

Tingkat kemacetan yang parah memang tidak bisa dihindari, namun bukan berarti membolehkan kita untuk mengutuk dan sumpah serapah kepada kemacetan itu. Apalagi membuat diri kita menjadi tidak sabar dan ingin terburu-buru melulu. Kenapa tidak kita buat sebaliknya, mensyukuri kemacetan dengan mengoreksi apa sich sebenarnya yang kita lakukan selama ini? Apakah itu yang kita mau? Apakah kita telah benar-benar berada dalam jalur yang benar? Untuk apa tujuan hidup di dunia ini sebenarnya?

Jakarta

15 Juli 2012, 02:32 WIB

Iklan

5 comments

  1. Wah jadi kepikiran buat bikin tema ini nih di blog. Setelah dipikir2 misalnya 13 jam buat urusan kantor, 7 jam buat tidur, dan 4 jam buat keluarga. Berarti waktu paling banyak itu ada di kantor, so kemungkinan besar kita bisa meninggal dunia di kantor, hehe. Bekerja sekaligus mempersiapkan kematian. 🙂

    • hhehehe…. kadang kita tidak sadar walau pun kenyataannya kita sedang sadar2nya… terlalu di manja oleh kantor.. hingga lupa yang lain…:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s