Menjelajahi Gua Haul (Ujung Genteng Series Bag.1)

Berpose di Busway PGC

Gank Vacation (GV) kembali melakukan perjalanan ke luar kota. Kali ini Kami menuju Ujung Genteng, Sukabumi. Bagi segelintir orang mungkin nama itu tidak asing lagi, khususnya para backpacker. Bisa dibilang perjalanan ini tergolong berani, pasalnya sebulan sebelumnya baru saja Kami dari Pulau Tidung yang berada di Kepulauan Seribu, Jakarta. Karenanya pada perjalanan kali ini hanya beberapa saja yang dapat hadir mengikuti perjalanan ini. Apalagi perjalanan ini tergolong backpacker, jadi tingkat kenyamanannya tidak senyaman ketika Kami ke Tidung. Sebelum melangkah lebih jauh alangkah lebih baiknya saya perkenalkan terlebih dahulu anggota GV yang dapat berangkat ke Ujung Genteng, yakni Mpai (Supri Haryanto), Iin (Iin Squall), Jeva (Jefry Fernando), Ryan (Meister Ryan) dan Debong (Hieko Deby).

Jam telah menunjukan pukul 19.00 WIB. Sesuai rencana, Kami berlima sepakat berkumpul di Pusat Grosir Cililitan (PGC) yang juga merupakan lokasi tengah di antara tempat tinggal kelima orang yang akan melakukan perjalanan. Selain itu, tempat itu juga merupakan lokasi yang pas sebagai transit makan malam sebelum selanjutnya kami bertolak ke terminal bus Kp.Rambutan menggunakan Busway yang tepat berada di depan PGC.

Aku merupakan orang pertama yang sampai di PGC. Belum terlihat batang hidung yang lainnya. Apa mereka semua terkena macet, pikirku. Maklum tingkat kemacetan di Jakarta sudah demikian parahnya sehingga “tepat waktu” terkadang menjadi barang langka. Aku sendiri harus menempuh 2 jam perjalanan dari lokasi kantor yang berada di daerah Sudirman ke PGC dengan diiringi oleh bunyi klakson kendaraan bermotor yang tak kunjung padam.

Istirahat menuju Gua Haul

Menghadapi tingkat kemacetan yang parah mungkin hanya kesabaranlah yang dapat Kita lakukan. Tanpa sadar gerimis mulai turun dan Aku khawatir hal itu akan membuyarkan rencana Kami ke Ujung Genteng. Mudah-mudahan hujan tidak turun lebih deras. Syukur hujan akhirnya berhenti. Tidak berapa lama, Ryan datang menghampiri. Disusul oleh Mpai, Jeva dan terakhir Debong, member baru GV.

Aku cukup salute dengan keberanian Debong karena memberanikan dirinya untuk tetap ikut meskipun Kami belum pernah ada yang bertatap muka sebelumnya. Awalnya memang akan ada lagi 1 wanita yang akan ikut dalam rombongan, namun karena ada kejadian luar biasa yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya teman kami yang satu itu (Ndit), membatalkan kepergiannya. Dia harus menemani kekasihnya, Eko, yang sedang mengalami musibah. Ndit dan Eko sendiri merupakan anggota GV dan baru saja mengikuti traveling bersama Kami ke pulau tidung pada September 2011 lalu.

Debong akhirnya tetap memutuskan untuk pergi bersama kami, 4 orang lelaki lainnya. Dengan gaya casual yang nyantai dan tampak rapi serta sepatu kets yang dikenakannya, mungkin tidak akan ada yang menyangka kalo dia akan backpacker-an. Meskipun begitu, gaya nyantainya membuat kami yang baru bertatap muka memudahkan Kami langsung akrab. Seketika saja obrolan disertai candaan sudah mulai keluar dari mulut masing-masing.

Kelelawar di Gua Haul

Waktu menunjukan pukul 20.00, perut kami mulai bernyanyi keroncongan. Hampir saja Kami melupakan makan malam. Maklum sebagian dari Kami langsung berangkat dari kantornya, sementara yang lain dari rumahnya. Agar tidak masuk angin dalam perjalanan nanti ke sukabumi dan mengingat perjalanan memakan cukup waktu, Kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu di KFC PGC dengan menu 1 ayam 1 nasi dan 1 pepsi cola.

Keberangkatan dari PGC

Perlahan suara keroncongan yang sempat berirama mulai menghilang, tergantikan suara gelak tawa kelima orang backpacker. Selagi menunggu makanan mengendap di perut, Kami pun mulai memaparkan tempat-tempat persinggahan mana saja yang akan dilalui. Secara garis besar, perjalanan kami sampai ke Ujung Genteng akan seperti ini :

PGC –> Nak Busway ke Kp. Rambutan –> Naik Bis ke terminal Sukabumi –> Naik angkot Lembur Situ –> Naik ELF ke Surade –> Naik Ojek ke Curug Cikaso (batal, karena akhirnya kami sewa angkot) –> Ujung Genteng.

Setelah membeli karcis untuk 5 orang dengan harga tiket Rp3.500/orang, mulailah kami menunggu di shelter busway. Walau karcis sudah ditangan, namun busway koridor VII jurusan Kampung Melayu-Kampung Rambutan tidak kunjung datang. Kami harus menunggu busway kurang lebih 30 menit sebelum akhirnya busway jurusan itu datang menghampiri. Di sela-sela obrolan menunggu, ternyata salah satu anggota kami, Mpai, baru pertama kali dalam seumur hidupnya naik busway. Awalnya Kami tidak percaya, masa sich baru pertama kali? Tapi mengingat dia tidak tahu-menahu arah busway mana saja, kami akhirnya percaya makhluk yang satu itu memang belum pernah naik busway. Jadilah kami berfoto ria dan mulai mengabadikan titik tolak keberangkatan Kami.

Debong Dituntun Salah Satu Guide

Suara rem berdecit membuyarkan sesi foto kami. Busway jurusan Kp.Melayu-Kp.Rambutan tepat berada di hadapan Kami. Satu per satu Kami langkahkan kaki memasuki bus itu. Desak-desakan pun tidak terhindarkan, mengingat pada jam itu masih tergolong jam sibuk pulang kantor. Untungnya busway ber-AC, meski pun berdesak-desakan dan dalam kondisi berdiri hal itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk bersuka ria. Lagi pula perjalanan PGC – Kp. Rambutan tidak memakan waktu lama. Apalagi penumpang semakin berkurang ketika busway semakin mendekati daerah Pasar Rebo.

Sampailah kami berlima di terminal Kp. Rambutan setelah terlebih dahulu membayar biaya retribusi masuk terminal senilai Rp2.000 untuk 5 orang. Jejeran bus ekonomi dan bisnis dari Kp.Rambutan ke kota lainnya berbaris dengan rapi. Setelah bertanya-tanya di lintasan berapakah bus jurusan Sukabumi, akhirnya kami pun melenggangkan kaki ke lintasan bus yang dimaksud. Bus jurusan Sukabumi itu ternyata kosong melompong, hanya Kami dan beberapa orang saja di barisan depan yang berada dalam bus. Mau tidak mau Kami harus menunggu penumpang lainnya untuk memenuhi kursi bus yang kosong. Seingat Kami, bus baru berangkat dari terminal Kp. Rambutan pukul 22.00 WIB. Dengan kata lain kami menunggu di terminal itu kurang lebih 40 menit. Setelah membayar Rp25.000/orang kepada kondektur bus, Kami duduk dengan tenang menunggu bus berangkat sambil makan snack dan minuman yang telah dibeli.

Bus pun mulai menderu dan perlahan mulai meninggalkan terminal. Kursi yang sebelumnya kosong, satu per satu mulai terisi. Sementara sisanya akan di isi oleh penumpang yang diangkut dalam perjalanan ke arah sukabumi. Malam pun semakin larut, beberapa penumpang mulai terlelap dalam peraduan. Saya sendiri tak kuasa menahan kantuk. Sementara yang lain masih terjaga sambil sesekali melirik ke luar jendela.

Jam telah menunjukan pukul 01.00 WIB, tidak terasa kami telah berada di Sukabumi. Ketika tersadar, bus yang Kami tumpangi berada di area pom bensin dekat terminal bus Degung. Rupanya bus tidak akan kembali ke Jakarta pada hari itu. Untungnya pada saat yang sama, terdapat angkot menuju Lembur Situ seperti yang kami rencanakan sebelumnya. Dengan membayar Rp5.000/orang akhirnya sampai juga kami ke terminal Lembur situ.

Pontang-panting di ELF

Berfoto dalam Gua

Kini perjalanan akan kami lalui dengan menaiki ELF. ELF itu sendiri adalah angkutan umum seukuran Colt dengan posisi bangku semuanya menghadap ke depan, tidak seperti angkutan pedesaan yang penumpangnya saling berhadapan. Harga per orangnya sebesar Rp25.000. Dengan alunan dangdut yang membahana mengiringi perjalanan, dimulailah petualangan kami.

Jalanan terlihat lengang, hanya terlihat satu dua orang saja yang tampak batang hidungnya. Rupanya banyak warga Sukabumi yang lebih memilih istirahat di rumah dibandingkan keluyuran di jalanan. Hal ini kontras dengan penduduk Jakarta yang semakin malam untuk wilayah tertentu semakin ramai.

Kondisi jalanan rupanya sudah rusak parah. Sesekali kami terlonjak bangun jika ELF melalui lobangan-lobangan yang berserakan di sepanjang jalan. Namun hal itu rasanya biasa saja. Yang luar biasa justru ketika jalanan tidak rata, banyak lobangan, berkelok-kelok zig-zag dengan ekstremnya serta naik turun. Bayangkan dengan kondisi seperti itu ELF dilajukan begitu kencangnya dengan kecepatan mencapai 80 KM/jam. Bisa dipastikan penumpang didalamnya seperti naik pontang-panting, salah satu wahana di Dufan.

Kelelawar di Gua Haul

Beruntung sekali para penumpang yang tempat duduknya terisi penuh sehingga tidak ada ruang kosong diantaranya. Lonjakan demi lonjakan serta zig-zag yang tidak beraturan tidak akan mempengaruhi posisi duduk. Lain halnya dengan Aku, Mpai dan Debong. Kebetulan kami berada di barisan belakang. Harusnya di barisan belakang terisi 4 orang, namun sebelum terisi penuh, mobil tersebut telah melaju. Dengan demikian ketika ELF dikemudikan dengan kecepatan  tinggi serta berbelok zig-zag tanpa menurunkan kecepatannya, secara otomatis Kami bertiga akan terpelanting ke kiri dan kanan mobil. Masih bersyukur Aku dan Debong yang posisinya dekat dengan jendela, Kami  masih dapat berpegangan ke pegangan besi yang ada di sepanjang jendela mobil. Mungkin pegangan tersebut dibuat memang ditujukan untuk itu.

Namun lain halnya dengan Mpai, karena posisinya di tengah, maka dia tidak dapat berpegang di besi tersebut, maka ketika mobil berbelok ke kiri dengan ekstrem secara otomatis dia akan terpelanting ke kanan, sebaliknya jika ELF berbelok ke kanan dengan ekstrem dia akan terpelanting ke kiri. Masalahnya belokan ekstrem ini 90% pasti terjadi dibandingkan belokan biasa. Memang butuh perjuangan untuk naik ELF itu.

Kondisi berbeda di alami Jeva dan Ryan yang barisan duduknya pas terisi 4 orang. Mereka berdua tidak akan terpelanting seperti kami, karena pundak mereka dengan penumpang lainnya saling menempel sehingga tidak ada ruang kosong. Akibatnya ketika terjadi belokan ekstrem, mereka tidak akan terpengaruh sama sekali. Justru yang Kami lihat sepertinya mereka asyik sekali tidurnya.

Sampai di Surade

Kurang lebih pukul 4.30 WIB kami baru tiba di mesjid Surade. Setelah sebagian dari Kami sholat subuh dan cuci muka serta bersih-bersih di mesjid, Kami pun mulai bertanya-tanya kepada penduduk sekitar  mengenai angkot jurusan Curug Cikaso dari situ. Ternyata tidak ada angkot jurusan Surade-Cikaso. Yang ada adalah jurusan Surade-Ujung Genteng. Karena tujuan kami adalah Curug Cikaso dahulu, maka mau tidak mau kami harus naik ojek atau menyewa angkot. Itu satu-satunya pilihan kami.

Suasana Pagi di Cikaso

Mpai akhirnya menanyakan berapa harga ojek ke Cikaso kepada tukang ojek yang sudah setia menunggu di pinggiran jalan Surade. Mereka mau mengantarkan Kami ke Cikaso dengan harga Rp25.000/orang. Kami berpikir bagaimana kami ke Ujung Gentengnya? Dengan tidak adanya angkot ke daerah Cikaso tentunya ini akan menyulitkan. Untungnya tidak berapa lama ada angkot yang ke Ujung Genteng lewat. Dengan dibantu penduduk setempat yang kebetulan sholat shubuh bareng, akhirnya kami dapat men-charter angkot tersebut dengan harga Rp80.000 untuk kami berlima.

Namun jangan senang dahulu, ternyata tukang ojek rupanya keberatan dengan hal itu. Mereka tidak terima akan adanya pendapatan yang hilang karena Kami tidak jadi menggunakan jasa mereka. Beberapa tukang ojek menghampiri supir angkot itu. Setelah terjadi negosiasi antara tukang ojek dan sopir angkot akhirnya diputuskan, meskipun dengan berat hati, sopir angkot harus memberikan uang Rp10.000 kepada tukang ojek itu sebagai gantinya.

Ternyata keputusan Kami tepat dengan menyewa angkot. Selain lebih murah, udara dingin yang masih menusuk di pagi hari tidak begitu kami rasakan ketika berada di dalam angkot. Bayangkan jika kami naik ojek, mungkin sepanjang perjalanan akan terus menggigil. Selain dapat mengantarkan kami ke Curug Cikaso,  angkot itu pun bersedia mengantarkan Kami ke Ujung Genteng dengan biaya sewa Rp100.000. Bukan hanya itu, Kami pun meminta angkot itu keesokan harinya mengantarkan kami kembali dari Ujung Genteng ke Surade dengan biaya sewa yang sama Rp100.000 dengan menjemput langsung dari penginapan. Dengan demikian masalah transportasi sudah beres. Betapa senangnya karena Kami tidak perlu repot-repot mencari angkot balik dari Surade. Belum lagi angkot itu akan menjemput Kami secara langsung dari penginapan.

Jeva di Cikaso

Semalaman di jalan rupanya cukup menguras energi Kami berlima. Tidak terasa nyanyian keroncongan di perut kembali datang dan kian pagi semakin kencang membahana. Karena kami sampai di Curug Cikaso pukul 5.30 WIB, maka dipastikan Kami merupakan pelancong pertama yang datang. Tiket pun belum dibuka. Namun telah tampak beberapa orang sedang memperbaiki jalanya untuk menjala ikan. Tidak perlu menunggu lama, pengelola areal wisata itu datang menghampiri, mungkin karena telah melihat kami dari kejauhan. Setelah membayar harga masuk Rp5000/orang, Kami pun beristirahat sebentar setelah semalaman di angkot.

Sebenarnya untuk ke Curug Cikaso langsung dari tempat diturunkannya Kami dari angkot hanya cukup berjalan kaki dikarenakan letaknya yang tidak terlalu jauh. Walau pun mereka menyediakan juga transportasi air (diantar menggunakan sampan) dari tempat masuk sampai Curug Cikaso dengan hanya membayar Rp7.000/orang. Berhubung Kami ingin ke Gua Haul yang lokasinya cukup jauh dan melewati Curug Cikaso, maka secara otomatis biaya Rp300.000 yang Kami keluarkan sudah termasuk didalamnya . Biaya tersebut untuk sewa perahu dan perlengkapan masuk gua. Untuk 2 pemandu yang mengiringi, Kami memberikan honor Rp20.000 untuk 2 orang itu (Rp10.000/orang).

Menunggu Nasi Goreng

Sambil menunggu, Kami berlima memutuskan untuk sarapan pagi berupa nasi goreng dengan ceplok telor seharga Rp10.000/orang. Setelah semuanya siap, dimulailah perjalanan air Kami menuju Gua Haul. Tampak aliran sungai begitu tenangnya tersapu jalannya perahu. Dengan warna air yang begitu hijaunya diringi rimbunan pepohonan yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan aliran sungai, tampak begitu indahnya pemandangan yang tersaji. Seolah-olah Kami telah meninggalkan peradaban. Diperkirakan perjalanan ke gua haul akan memakan waktu kurang lebih 20 menit saja.

Gua Haul

Dua orang yang mengiringi Kami tampaknya cukup antusias seperti kami. Betapa tidak, melalui obrolan, Kami baru mengetahui bahwa selama 2 tahun terakhir ini belum pernah ada orang sekalipun yang menginjakan kakinya ke gua Haul. Kami merupakan orang pertama setelah 2 tahun gempa menerjang kawasan itu. Kami semakin gembira, betapa tidak, jarang-jarang pengalaman ini bisa kami dapatkan ketika traveling. Apalagi memasuki gua yang setelah 2 tahun tidak pernah dimasuki oleh manusia.

Memang tampak indah sepertinya, namun karena Gua tersebut sudah lama terasing, secara otomatis jalan darat dari tepian perahu berlabuh ke gua sudah tidak tampak lagi sama sekali. Yang tampak hanyalah semak-semak dan pohon-pohon serta tanaman merambat yang menghalangi perjalanan. Bisa dibilang ini merupakan perjalanan tersulit yang pernah kami hadapi selama ini. Kondisi tanjakan yang begitu ekstrem dengan kemiringan kurang lebih 70 derajat sampai 80 derajat benar-benar membuat Kami harus ekstra hati-hati. Belum lagi semut merah yang juga setia mengiringi perjalanan dari bawah tempat perahu berlabuh ke atas tempat pintu Gua berada.

Keringnya Cikaso

Dua orang pemandu yang mengiringi dengan sigap membabat dan menerobos pepohonan yang ada di hadapannya menciptakan jalur baru buat Kami. Karena kondisi yang tidak diperkirakan ini, Debong yang menggunakan “sandal jepit biasa” sering terpeleset, Kami pun memutuskan untuk saling menjaga diri dan saling memperhatikan satu sama lainnya.

Ketika di depan pintu Gua, semua ternganga menyaksikan pemandangan di hadapan kami. Bukan apa-apa, jutaan kelelawar yang sedang bertengger di pintu gua tampaknya kaget. Karena kagetnya itulah, mereka mulai berterbangan memencar masuk ke dalam Gua. Kami tidak menyangka Gua yang akan dimasuki terdapat ribuan kelelawar. Jadi Kami harus menunggu terlebih dahulu sampai pintu Gua benar-benar bersih dari Kelelawar yang menghalangi. Bau guano (kotoran kelelawar) yang menumpuk selama 2 tahun mulai menusuk hidung. Hawa panas yang dipancarkannya pun benar-benar terasa dari luar gua.

Setelah melakukan ritual tertentu, salah satu pemandu kami mulai memasuki Gua. Hal ini dilakukanny untuk berjaga-jaga jika ada binatang lainnya yang mengganggu serta sebagai ada permisi jika memang ada makhluk pengganggu lainnya. Setelah selesai, satu per satu pun Kami mengikutinya. Tampak tumpukan guano berwarna hitam pekat di sana-sini. Mulai dari dinding, tanah yang Kami pijak, bahkan yang kita anggap bongkahan batu ternyata adalah sebuah tumpukan guano. Seperti jalur pendakian ke Gua Haul, kali ini pun Kami harus hati-hati untuk tidak terpeleset, mengingat kelembaban yang cukup tinggi dalam gua. Kalau sudah begitu tangan Kami semua tidak ada yang bersih sama sekali. Semuanya berbalut guano. Setidaknya tetesan air dalam gua dari atas cukup menyegarkan Kami.

Namun lagi-lagi Kami tertipu, setelah mengarahkan lampu senter ke atas, terlihat ribuan kelelawar sedang memandangi Kami satu per satu dengan seksama sambil mengeluarkan kotorannya. Ternyata tetesan air yang Kami rasakan sebenarnya adalah kotoran kelelawar yang berwarna hijau pekat. Pantas saja lama ke lamaan tangan yang terkena tetesan terasa panas.

Sayangnya perjalanan ke dalam gua tidak sedalam yang diinginkan. Sebelum masuk lebih dalam, Debong tampaknya sudah tidak kuat berada di dalam gua. Selain karena dia kesulitan menapaki jalan dengan menggunakan “sandal jepit biasa”, banyaknya kelelawar yang lalu lalang berkelebat di kiri-kanannya membuat dia tidak mampu bergerak ke dalam lebih jauh lagi. Mukaku sendiri sempat bertabrakan dengan kelelawar yang lewat.

Debong Pose di Perahu

Melihat hal itu Aku dan Jeva yang berada pas di belakang Debong akhirnya memutuskan untuk berbalik ke luar setelah bercakap-cakap terlebih dahulu dengan pemandu kami, Mpai dan Ryan yang posisinya telah berada di kelokan gua di depan Kami. Mereka masih saja membujuk Kami untuk tetap masuk ke dalam kelokan itu, karena Mereka telah melihat sebuah ruangan indah dalam gua. Seperti yang dikatakan juga oleh pemandu Kami. Karenanya mereka tetap berusaha menbujuk agar Kami dapat bergerak lebih dalam lagi. Namun apa daya, kondisi Debong yang tidak memungkinkan untuk tetap maju mau tidak mau kami harus berkompromi. Pada akhirnya kami memutuskan untuk ke luar gua melalui pintu yang sama.

Keringat telah mengguyur tubuh Kami. Sementara pakaian pun tidak luput dari tempelan guano. Walau ada penyesalan mengapa Kami tidak memasuki areal gua lebih dalam lagi, namun setidaknya pengalan tersebut menjadi tidak terlupakan. Setelah sempat berfoto-foto sekedarnya, Kami pun kembali ke Curug Cikaso.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s