Berenang di Tepian Pantai Pangumbahan (Ujung Genteng Series Bag.2 end)

Pantai Pangumbahan di Pagi Hari

Jika melihat foto-foto di web atau pun pengalaman orang yang pernah ke Curug Cikaso terlihat begitu indahnya. Curahan air dengan wallpaper dinding alami berwarna berupa hijau lumut yang menempel pada setiap lekukan dinding membuat panorama alam itu seakan menghipnotis penglihatnya untuk berlama-lama memandangnya. Mungkin jarang Curug yang memiliki keindahan seperti Curug Cikaso. Maka dengan banyaknya keindahan yang ditawarkan membuat Kami tak kuasa untuk menyambanginya seperti orang-orang sebelum Kami.

Fasilitas yang ada di areal Curug cikaso rupanya sedang dibuat. Jika dahulu hanya jalan setapak merah saja, saat Kami kesana terlihat para pekerja sedang membuat jalan setapak berupa plesteran. Sepertinya Curug Cikaso akan dipromosikan besar-besaran oleh Pemda setempat. Toilet umumnya pun sudah tersedia dan sangat bersih. Airnya begitu dingin, jadi sangat menyegarkan ketika selesai mandi. Apalagi setelah dari Gua haul. Salah satu hambatan objek wisata ini adalah sulitnya transportasi untuk ke areal itu. Sampai saat ini belum ada angkutan yang secara langsung dari Surade ke Cikaso atau pun dari Ujung Genteng ke Cikaso. Satu-satunya yang bisa mengantar para wisatawan adalah ojek motor, namun tukang ojek biasanya akan memberikan tarif begitu mahal, biasanya Rp25.000/orang. Bisa dibilang inilah hambatan minimnya pelancong ke Curug Cikaso.

Kadang apa yang Kita harapkan belum tentu tercapai. Itu pun yang kami alami. Bayangan Curug Cikaso yang begitu indahnya dengan derasnya aliran air didalamnya ternyata tidak Kami temukan. Curug Cikaso saat itu kering kerontang. Air yang ada di bawahnya pun menyusut drastis dari tepian. Kami hanya melihat tebing curug saja, tanpa ada aliran air di dalamanya. Menurut pengelola di daerah itu memang sudah sejak lama belum turun hujan, makanya hal itulah yang membuat aliran air Curug Cikaso tidak mengalir sama sekali.

Ryan jadi Tante Girang

Awalnya kami cukup kecewa, namun setelah dipikir-pikir, kapan lagi Kami mendapati sebuah curug yang benar-benar kering tanpa ada airnya sama sekali. Jeva, Mpai dan Ryan memutuskan untuk berenang di danau di bawahnya. Sementara saya dan Debong memutuskan untuk mandi saja membersihkan kotoran guano yang masih menempel di badan. Tidak berapa lama mereka bertiga yang berenang pun mengikuti langkah saya dan Debong.

Ujung Genteng

Jam telah menunjukan pukul 09.00 WIB, angkot charteran Kami rupanya telah menunggu dengan setia mengantarkan Kami berlima ke Ujung Genteng. Seperti jalanan dari Lembur situ ke Surade, jalanan ke Ujung Genteng dari Cikaso pun tidak jauh berbeda. Yang membedakannya adalah tidak adanya kelokan yang berzig-zag zig-zag seperti jalur Lembur Situ-Surade. Cukup jauh rupanya dari Cikaso ke Ujung Genteng. Perjalanan kurang lebih 1 jam. Namun sepertinya hal tersebut tidak terasakan. Perhatian kami teralihkan oleh pohon-pohon kelapa yang berada di sisi kiri-kanan jalan, seperti jamaknya daerah pantai. Dengan kata lain Kami telah memasuki wilayah Ujung Genteng dalam waktu dekat.

Penginapan

Suasana Penginapan

Meski tujuan Kami ke Ujung Genteng, namun kami lebih memilih menginap di daerah Cibuaya, dekat dengan pantai Pangumbahan, tempat penangkaran penyu. Sebenarnya bisa saja Kami menginap di Villa Amanda Ratu di Ujung Genteng, namun demi pengurangan biaya perjalanan akhirnya sepakat untuk menginap di daerah Cibuaya. Lagi pula letaknya tidak jauh dari pantai pangumbahan, tujuan Kami berikutnya.

Di daerah Cibuaya tidak perlu khawatir tidak mendapatkan tempat penginapan. Harganya pun bervariasi dari kisaran harga Rp200.000 – Rp400.000. Kami sendiri mendapatkan biaya sewa Rp250.000 setelah negosiasi dengan pemilik rumah. Walau pun murah, ini sudah melalui tahap negosiasi yang cukup alot sehingga Kami beruntung mendapatkan rumah dengan 2 kamar, 1 kamar mandi, Kipas angin, ruang tamu, TV dan Beranda depan.

Tukik Berenang untuk Pertama Kalinya

Letak penginapan Kami agak jauh dari jalanan depan angkutan umum. Normalnya kalau Kami jalan dari bagian depan layaknya angkot menurunkan penumpangnya di Cibuaya, maka berjalan kaki untuk ke dalam ke tempat penginapan Kami akan memakan waktu kurang lebih 40 menit, meskipun banyak tukang ojek yang dapat kita sewa. Seandainya Kami akhirnya menginap di bagian luar daerah Cibuaya, maka untuk sampai ke pantai pangumbahan tentunya akan memakan waktu dan terbilang jauh. Menggunakan ojek pastinya akan lebih membebani biaya pengeluaran. Hal ini yang tidak Kami mau. Namun karena letak penginapan Kami di bagian dalam, maka untuk sampai ke pantai pangumbahan cukup berjalan kaki saja di pesisir pantai dan kurang lebih 20 menit akan sampai di pantai pangumbahan.

Kira-kira jam 16.00 WIB setelah sebelumnya istirahat 1-2 jam, Kami memutuskan untuk pergi menyusuri pantai Pangumbahan. Dibandingkan pantai lainnya yang selama ini kami datangi, Pantai pangumbahan merupakan pantai dengan pasir putih yang bersih dan sangat halus sekali. Saking halusnya seperti debut di pinggiran jalan yang selalu tersapu angin. Bisa dibilang tidak ada sampah yang mengotori pantai itu. Jadi benar-benar masih alami. Rasanya Kami ingin berlama-lama di tempat itu. Tujuan kami sore itu bukan untuk menikmati keindahan pantainya, tetapi ingin mengetahui jam berapa pada malam hari itu penyu-penyu akan bertelur di tepi pantai. Setidaknya menyaksikan penyu-penyu bertelur memberikan suasana traveling yang berbeda.

Makan Malam di Cibuaya

Pantai ini memang terkenal juga dengan penangkaran penyunya, jadi jangan heran jika ada kerumunan orang di pinggir pantai seperti yang Kami temui saat itu. Terlihat kerumunan orang yang berbaris rapi menunggu aba-aba dari ketua panitia. Sekejap Kami pun bergegas menghampiri untuk mengetahui kegiatan apa yang sedang dilakukan. Ternyata sedang ada acara sebuah komunitas mobil dengan acara utamanya adalah pelepasan Tukik (anak penyu) ke laut. Barisan yang terdiri dari bapak, ibu, remaja dan anak-anak begitu setia menunggu aba-aba dari ketua panitia. Ketika ombak akhirnya datang, pada saat yang sama ketua panitia langsung memberikan aba-aba pelepasan Tukik yang ada di tangan mereka.

Satu per satu Tukik yang berukuran kecil itu berhamburan menghampiri laut. Ada yang langsung berhasil, ada juga yang masih menunggu ombak berikutnya datang menghampiri dan membawa para Tukik yang tertinggal  masuk ke laut. Acara selesai ketika sinar matahari kian redup dan perlahan tergantikan dengan kegelapan. Sementara Kami berjalan kembali ke penginapan di tengah kegelapan malam sepanjang pesisir pantai, mengingat acara selanjutnya akan dimulai pukul 10.00 WIB. Rasanya Kami tidak sanggup untuk kembali ke tempat penangkaran penyu. Rasa lelah telah datang menghampiri, meski pun Jeva dan Mpai sepertinya masih belum kelelahan seperti kami bertiga. Namun pada akhirnya mereka pun tak kuasa menahan lelah. Tidak berapa lama peri tidur akhirnya datang dan membuat Kami terlena dalam buaian mimpi.

Dinding Cikaso tanpa Air

Esok harinya di saat sang surya masih belum menampakan wajahnya, Kami bergegas bangun. Sayang jika melewati sunrise di pagi hari. Kembali Kami harus kecewa, mendung masih menutupi wajah sang mentari hingga terbenam di balik badannya. Mentari baru terlihat ketika waktu telah menunjukan pukul 08.30 WIB. Kendati demikian kekecewaan terbalas dengan bermainnya Kami di tepian pantai sambil berenang ketika ombak datang. Hanya Debong seorang saja yang masih belum turut serta masuk dalam permainan, sementara yang lainnya telah basah kuyup terlempar ombak yang datang silih berganti. Akhirnya Kami memutuskan untuk memaksanya ikut bermain dan membenamkannya dalam deburan ombak seperti yang Kami lakukan. Jadilah semuanya basah kuyup tanpa terkecuali.

Permainan tidak hanya itu, Kami juga mencoba membenamkan Ryan di dalam pasir dengan membentuk bongkahan pasir seperti bentuk wanita. Yang tampak hanyalah wajah Ryan, namun penampakan pasirnya adalah penampakan tante girang. Mungkin biasa saja, namun mimik muka Ryan yang sangat menjiwai karakter pasir buatan itu membuat Kami kesulitan membedakan mana Ryan mana tante girang. Setelah semuanya terbentuk barulah Kami berfoto-foto untuk mendokumentasikan momen yang jarang Kami lakukan itu.

Berenang di Pantai Pangumbahan

Acara permainan Kami selesai pukul 11.00. Saatnya kembali ke penginapan dengan menyusuri pantai seperti yang kami lakukan sebelumnya. Terlihat ada yang melakukan pemotretan Pre-wedding di tepi pantai. Memang pantai pangumbahan memberikan eksotisme tersendiri bagi para pelancong yang menyambanginya. Jadi pemotretan seperti itu merupakan hal biasa di sana.

Kembali ke Jakarta

Setelah mandi dan packing, Kami menelepon sopir angkot untuk mengantarkan Kami ke Surade dan bertolak ke terminal Sukabumi. Agak cukup lama menunggu, soalnya ketika Kami telepon, sang sopir masih membawa penumpang. Baru ketika jam telah menunjukan jam 12.00 WIB, angkot datang dan Kami pun mulai meninggalkan Cibuaya.

Mpai kesurupan Glen Fredly

Waktu telah menunjukan pukul 13.30 WIB ketika Kami sampai di Surade. Belum juga naik ELF, tiba-tiba ada kondektur bus menghampiri kami dan bertanya mau naik ELF atau bis ke lembur situ, karena keduanya memang lewat daerah itu. Kalau ELF berakhir di situ, sementara bus masih melanjutkan perjalannya ke terminal bus. Jika naik ELF harus membayar Rp25.000/orang untuk ke Lembur Situ, maka naik bus cukup membayar Rp20.000/orang. Tetapi jika kita mau langsung ke terminal bus maka biayanya menjadi Rp25.000/orang. Melihat gelagat kehilangan penumpang, supir ELF tidak mau ketinggalan dari kondektur bus dan berseloroh “Kalau mau cepat naik ELF, kalo mau murah naik Bus”. Tagline yang unik dari perseteruan mencari penumpang. Meski begitu Kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan bus karena akan langsung membawa Kami ke terminal dengan membayar Rp25.000/orang.

Angkot Sewaan

Jam 17.00 WIB sampailah di terminal sukabumi. Ternyata pada jam itu bus yang ke arah Jakarta sudah tidak ada lagi. Mau tidak mau Kami harus mencari angkutan alternatif. Setelah bertanya kesana kemari, Kami memutuskan naik ELF jurusan Bogor dengan membayar Rp22.000/orang. Untungnya tingkat kemacetan jalan raya sukabumi-bogor tidak terlalu parah, hanya tersendat-sendat saja, khususnya di pasar Cibadak. Meski begitu kendala berikutnya Kami temui sesampainya di Terminal Branangsiang, Bogor pada pukul 19.30 WIB. Rupanya bus yang ke arah Jakarta juga sudah tidak ada. Sebenarnya ada mobil “omprengan” dari Branangsiang ke arah Jakarta, namun baru masuk terminal di atas jam 21.00 WIB. Menunggu satu setengah jam tentunya akan membuang-buang waktu. Kalau pun Kami memaksa naik mobil omprengan pada saat itu juga, disarankan Kami kembali naik ke Ciawi, dengan kata lain Kami harus kembali balik arah ke atas. Akhirnya kami putuskan untuk naik bus apa pun yang melewati Kp.Rambutan dengan membayar bus Rp7.000 dari terminal Branangsiang ke terminal Kp. Rambutan. Dari Kp. Rambutan Debong bisa langsung naik bus sekali ke tempat kost-annya, sementara Kami berempat dapat naik busway kembali.

Biaya Keseluruhan

Secara keseluruhan biaya yang harus Kami tanggung untuk perjalanan 2 malam 3 hari ke Ujung Genteng seperti di bawah ini :

  • Busway ke Kp. Rambutan                               Rp3.500/orang
  • Retribusi terminal Kp. Rambutan                      Rp2.000
  • Bus Kp.Rambutan – Sukabumi                        Rp25.000/orang
  • ELF Lembursitu – Surade                                Rp25.000/orang
  • Sewa Angkot ke Cikaso                                  Rp80.000
  • Snack & Minuman                                          Rp120.000
  • Sewa Angkot Cikaso – Ujung Genteng             Rp80.000
  • Tiket Masuk Cikaso                                        Rp5.000/orang
  • Honor Guide buat 2 orang                                Rp20.000
  • Sewa Perahu & Perlengkapan Gua                   Rp300.000
  • Sewa Angkot Ujung Genteng – Surade             Rp100.000
  • Penginapan                                                    Rp250.000
  • Bus Surade – Terminal Degung, Sukabumi       Rp25.000/orang
  • ELF Sukabumi – Bogor                                   Rp22.000/orang
  • Bus Bogor – Kp. Rambutan                             Rp7.000/orang
  • Busway ke PGC                                             Rp3.500/orang

Total biaya yang dikeluarkan                                         Rp1.557.500

Dengan demikian dana patungan Kami menjadi             Rp320.000/orang

Perjalanan ke Ujung Genteng merupakan perjalanan backpacker seutuhnya yang pernah dilakukan GV. Meski anggota GV pada saat itu hanya 4 orang, ditambah member baru, Debong, setidaknya perjalanan tersebut memberikan warna baru bagi GV. Semoga di perjalanan-perjalanan berikutnya banyak member GV lainnya yang dapat bergabung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s