Tiga Cara Traveling yang Dilakukan para Traveler

Sebagai pecinta traveling, terkadang setiap orang memiliki preferensi yang berbeda bagaimana seharusnya traveling itu diadakan. Tidak ada yang lebih enak atau pun tidak enak, itu semuanya tergantung dari bagaimana kita menjalani traveling itu sendiri dan tujuan dari traveling yang kita lakukan.

Sesekali pernah juga ngobrol dengan teman-teman mengenai bagaimana mereka biasanya traveling. Beberapa ada yang menggunakan travel agent, beberapa juga ada yang beramai-ramai pergi karena ada promosi, atau juga ada yang backpacker-an seperti yang sekarang ini sedang tren. Namun dari beberapa obrolan di atas, saya berkesimpulan hanya terdapat 3 jenis traveler saja.

Pertama, ada yang memang benar-benar stay di suatu tempat yang cukup lama atau bisa kita sebut wisatawan. Ciri pada tipe ini yang terpenting adalah kenyamanan. Jika mereka traveling, maka mereka ingin traveling yang mereka lakukan telah diatur sedemikian rupa tanpa mereka repot sama sekali sehingga pada akhirnya mereka benar-benar hanya traveling saja tanpa mengurusi tetek bengek yang tidak penting. Umumnya traveling jenis ini pun dikenal akan keleluasaan penggunaan waktu di sebuah objek wisata. Mereka bisa berjam-jam disana, bahkan bisa seharian di tempat itu.

Bagaimana cost-nya? Tentunya dengan segala fasilitas yang telah tersedia dan memberikan kenyamanan sedemikian rupa, cost yang harus dikeluarkan menjadi membengkak. Namun bagi tipe ini cost bukan masalah, yang terpenting mereka dapat menikmati segala keindahan yang disajikan. Bukankah mereka traveling itu untuk sebuah ajang rekreasi? Jadi benar-benar harus dinikmati setiap detiknya. Lagi pula untuk apa tergesa-gesa jika memang bisa santai?

Lalu bagaimana dengan penginapannya? Pastinya AC tidak pernah ketinggalan dengan minimal King Size Bed atau double Bed menjadi salah satu ciri tipe ini. Guide? Ini juga merupakan salah satu ciri khas yang terdapat pada tipe ini. Kendati demikian pembeda utama antara tipe ini dengan tipe yang lain adalah lamanya mereka menghabiskan waktu di salah satu objek wisata. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, umumnya mereka akan berlama-lama di dalam objek wisata, bisa berjam-jam bahkan seharian.

Sementara untuk tipe yang lainnya, menyetor muka saja  bisa dibilang sudah cukup. Namun biasanya dalam sebuah objek wisata paling lama kurang lebih hanya 1 jam saja. Setelah berfoto-foto dahulu, waktu selebihnya akan dipergunakan untuk mencapai objek wisata lainnya. Dengan kata lain, kalau bisa sekaligus semua objek wisata di daerah itu dapat dikunjungi, kenapa tidak? Dari pada lain waktu ke tempat yang sama dengan biaya yang sama serta beberapa bagian telah dikunjungi, tentunya selain cost juga akan berlipat-lipat, tenaga dan waktu pun akan terbuang percuma.

Jadi lah tipe ini atau tipe kedua sebagai tipe petualang atau lebih dikenal backpacker. Karena sifatnya backpacker, maka secara otomatis kalau bisa cost yang dikeluarkan seminim mungkin. Kalau bisa bermalam di mesjid, kenapa tidak? Kalau pun pada akhirnya membutuhkan penginapan, biasanya tipe ini akan mencari penginapan sekedarnya saja. Yang terpenting masih ada tempat buat rebahan. Toh biasanya mereka lebih concern menjelajahi objek-objek yang ada di tempat itu dari pada banyak waktu di tempat penginapan. Kalau bisa, sekali traveling semua telah dijelajahi tanpa satu pun tertinggal. Bahkan penginapan biasanya hanya digunakan beberapa jam saja.

Mengapa pada tipe yang kedua mereka meminimalkan cost? Jawabannya jelas, selain irit dan tidak punya banyak dana, sisa dana yang harusnya dikeluarkan jika mereka melakukan traveling seperti tipe pertama, dapat digunakan untuk traveling berikutnya ke objek wisata yang lain. Dengan kata lain, jika tipe pertama dengan jumlah dana yang sama hanya mendapatkan satu objek wisata saja, namun pada tipe kedua akan mendapatkan dua atau tiga, bahkan lebih objek wisata yang dapat dikunjungi. Lagi pula berlama-lama di suatu tempat cepat membosankan sementara masih banyak lagi tempat bagus lainnya yang lebih baik dibandingkan tempat itu. Mengenai Guide, sepertinya tidak pernah ada dalam kamus backpacker traveler.

Meski terjadi perbedaan dalam dua tipe di atas, dalam prakteknya seseorang bahkan lebih suka mengkombinasikan dua tipe itu menjadi tipe ketiga, semi backpacker. Walau istilahnya terkandung kata backpacker, tidak bisa disebut murni backpacker atau pun sebaliknya, murni wisatawan. Jadi kita katakan saja semi backpacker.

Namun terlepas dari itu istilah-istilah di atas, hal paling utama adalah bagaimana kita bisa menikmati traveling yang kita lakukan. Mungkin ada yang lebih menyukai backpacker, seperti saya, atau juga sebagai wisatawan, yang semuanya telah diatur. Tidak ada yang lebih enak atau tidak, yang terpenting enjoy aja lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s