MLM: Bersikap Positif atau Tercuci Otaknya

Mungkin banyak dari para pembaca memiliki teman, saudara atau kerabat dekat yang menggeluti MLM. Tidak ada yang salah dengan menggeluti bidang ini, bahkan banyak nilai positif di dalamnya, selama masih dalam koridor yang sehat. Maksud saya sehat, tidak menjelek-jelekan MLM lain atau pun orang-orang yang tidak mau gabung ketika di ajak. Secara pribadi, saya merasa dengan ikut sebuah MLM secara tidak langsung akan terjadi doktrinisasi mengenai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tujuannya jelas agar satu visi dengan perusahaan, namun bagaimana jika ternyata disalahgunakan atau dipersepsikan berbeda bagi beberapa orang? Sehingga dengan proses doktrinisasi itu menjadikan diri mereka merasa lebih baik dibandingkan di luar komunitas mereka.

Saya pribadi pernah menggeluti sebuah MLM, tidak hanya sekali namun dua kali, meski pun kedua-duanya saya akui secara jujur belum bisa dikatakan berhasil. Ketertarikan awal sebenarnya untuk pengembangan diri pribadi yang pendiam menjadi mudah berinteraksi dengan orang lain. Selain itu iming-iming passive income, pendapatan yang kita terima tanpa mengharuskan kita bekerja di dalamnya, tentu memiliki daya tarik tersendiri.

Pelajaran pertama kali masuk adalah bagaimana caranya melakukan presentasi yang baik, bagaimana edifikasi (menghormati) dan yang terpenting bagaimana selalu berpikiran positif. Semuanya sedikit demi sedikit dapat aya pelajari, nmun kendala terbesar saya adalah mengajak orang bergabung ke dalam MLM yang saya geluti. Sepertinya memang saya tidak berbakat dalam hal ini. Saya merasa seperti berbohong atau terlalu membesar-besarkan sesuatu yang menurut saya pribadi biasa saja. Mungkin ini jugalah penyebab saya melakukannya tanpa menyertainya dengan ketulusan hati, padahal banyak yang bilang jika mengerjakan sesuatu tanpa hati, maka tidak akan berhasil. Kalau pun membawa keberhasilan, itu pun keberhasilan rata-rata karena niatan yang sekedarnya itu. Ini merupakan pendapat pribadi saya, jadi tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Pada akhirnya kegagalanlah yang saya terima.

Mungkin takdir saya  memang bukan di bidang itu atau takdir saya ada di tempat lain yang memang benar-benar membutuhkan skill yang saya miliki. Entahlah apakah ini sebagai sebuah pembelaan pribadi atau tidak, biarlah pembaca sendiri yang menjawabnya. Lagi pula bagaimana jadinya dunia seandainya semua orang berbondong-bondong ber-MLM dan semuanya tidak ada yang mau jadi karyawan. Tentunya ini merupakan sebuah kemustahilan. Seandainya semua memilih jalan itu, siapa yang akan memproduksi barang-barang yang selalu ditawarkan mereka? Siapa pula yang akan menggaji mereka, yang mengurusi komisi-komisi dan pembukuan keuangan mereka? Jadi bisa disimpulkan setiap orang memiliki peranannya masing-masing.

Namun pikiran mengenai takdir berada di MLM masih menghantui. Apa memang saya tidak ditakdirkan di MLM ini atau dengan kata lain berbakat dalam penjualan melalui sistem MLM? Ternyata tidak  butuh lama jawaban tersebut muncul. Teman saya secara tiba-tiba menawarkan MLM baru dengan strategi baru dan saling support satu sama lainnya. Penjabaran yang menarik darinya membuat saya berpikir kenapa tidak mencobanya lagi seperti sebelumnya. Toh minimal sudah memiliki ilmu presentasi dari MLM sebelumnya, jadi tinggal menyesuaikan saja dengan MLM yang baru. Tidak jauh-jauh memang, ada seminar, ada reward bagi presentasi dengan jumlah tertentu, ada pertemuan dengan kualifikasi tertentu dan lain sebagainya. Meski berbeda sistem, namun beberapa bagian terlihat sama.

Kembali saya bersemangat. Mulailah satu per satu diidentifikasi siapa yang akan menjadi prospek. Tidak ketinggalan teman-teman sepermainan pun dijadikan target. Banyak yang mencemooh, namun banyak pula yang berpikiran positif meski dia tidak turut bergabung. Beberapa dari yang mencemooh belakangan hari bahkan menuai sukses di MLM lain. Mungkin memang waktunya belum tepat. Dalam dunia MLM penolakan dari calon prospek bukan berarti kegagalan melainkan waktunya mereka  bergabung belum tepat. Jadi tinggal menunggu waktu yang tepat saja hingga pada akhirnya mereka akan bergabung di kemudian hari. Betapa positifnya sikap seperti itu.

Seperti layaknya sebuah organisasi, semakin tinggi menjulang semakin banyak saja isu-isu tidak sedap yang merontokan komunitas. Pembajakan kerap terjadi. Ini pun menimpa petinggi-petinggi yang ada yang pada akhirnya membuat kebingungan para downline dibawahnya yang tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa para petinggi tersebut yang kemarin-kemarin begitu antusiasnya menawarkan MLM, kini harus ikut MLM lain, bahkan beberapa dari mereka mulai menebarkan isu-isu negatif tentang MLM yang telah dibesarkannya itu. Tentunya downline pun makin kebingungan. Ada apa ini? Kenapa mereka yang keluar berkata seperti itu? Saya sendiri pada saat itu pun termasuk yang goyah dan memutuskan untuk keluar. Entah terlalu cepat memutuskan berhenti atau memang saya tidak suka untuk berkarir di MLM. Saya hanya merasa semakin lama semakin tidak nyaman mengerjakannya. Akhirnya saya memutuskan berhenti, dari pada menjalani hal itu dengan penuh tekanan batin.

Namun yang menjadi perhatian saya ketika saya telah keluar adalah masuknya beberapa teman saya yang sebelumnya sangat negatif ke dalam sebuahperusahaan MLM.  Tidak menunggu waktu lama, mereka pun mulai merubah sikap menjadi lebih positif. Saking positifnya terkadang saya justru merasa mereka hanya mengikuti saja tanpa tahu mengapa mereka melakukannya, a.k.a di doktrin. Mungkin inilah penyebab ketidaknyamanan saya sehingga saya memutuskan untuk berhenti. Meski saya bisa dibilang tidak seberhasil dia, namun sebagai teman saya sangat bersyukur dia bisa sukses.

Namun saya agak khawatir perubahan secara mendadak tersebut dapat membawa mereka justru dijauhi oleh teman-teman lamanya. Akibat kata-kata positif yang selalu didengungkan dan diingat setiap harinya, ketika dahulu saya masih bergabung dalam sebuah MLM, saya mulai memiliki pikiran aneh. Saya merasa bahwa orang-orang di luar MLM itu orang-orang negatif, jadi akan lebih baik mengurangi waktu untuk bergaul dengan orang-orang itu dan mulai bergaul dengan teman-teman di komunitas barunya yang memiliki visi yang sama. Toh kan bahasanya bahasa sama. Tidak ada selamat siang, sore dan malam, yang ada hanyalah selamat pagi.

Saya jadi berpikir, apakah ini memang termasuk sebuah proses indoktrinisasi (cuci otak) karena mengaburkan realita sebenarnya? Apalagi jika sudah terjadi pengkotak-kotakan di luar MLM itu hanyalah sekumpulan orang negatif yang belum tahu kebenarannya  sementara di dalam MLM adalah orang-orang positif. Lagi-lagi ini sebuah justifikasi yang terlalu dibesar-besarkan menurut saya. Mungkin ini juga yang menyebabkan alam bawah sadar saya menjadi tidak sinkron dengan apa yang saya kerjakan.

Kalau saya menulis seperti ini pasti banyak orang MLM yang tidak akan setuju.  Namun setuju atau tidaknya merupakan sebuah pendapat pribadi. Orang lain pun boleh berpendapat berbeda dengan saya, namun jangan sampai perbedaan itu menjadikan kita memiliki sikap permusuhan.

Hal lain yang menjadi pikiran saya adalah pernyataan kebanyakan orang-orang MLM yang beranggapan bekerja sebagai karyawankantoran seperti sebuah kesalahan? Apakah sebuah dosa sehingga bila menggeluti MLM dosa itu terhapuskan? Kenapa saya bilang seperti itu? Coba saja perhatikan, pasti banyak penggelut MLM yang akan bersikap negatif  terhadap orang yang menjadi karyawan. Buat apa dari pagi sampai sore kerja di kantor dan hanya tidur beberapa jam setiap harinya sementara mereka bisa kerja santai tetapi penghasilannya melebihi para karyawan kantoran  itu? Seolah-olah ada warga kelas satu (MLM) dan warga kelas dua (karyawan). Bukankah mereka harusnya bisa berlapang dada menyikapi perbedaan itu. Toh seperti yang saya telah jelaskan di atas, merupakan sebuah kemustahilan jika semua orang bekerja sebagai anggota MLM. Padahal kalau dilihat dari sudut pandang karyawan itu, mereka sendiri yang memutuskan untuk menempuh jalan itu dengan segala resiko yang akan dihadapinya nanti. Mungkin para penggiat MLM lupa kalau sebagian besar mereka pun masih bekerja sebagai karyawan kantoran atau pun sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan kantoran sebelum sukses di sebuah MLM.

Terkadang juga saya memikirkan kira-kira apa yang ada dalam pikiran anggota MLM itu? Apakah selalu mengenai kesuksesan-kesuksesan yang akan dicapainya? Selalu berpikir positif, tidak boleh negatif? Tidak boleh menyerah karena menyerah adalah ciri orang gagal.  Mereka hanya diperbolehkan menampilkan semua emosi positif dan meninggalkan emosi negatif. Kalau begitu apa bedanya mereka dengan robot? Kira-kira apakah jika melakukan hal itu akan menjadikan diri kita lebih baik? Kembali lagi apakah ini sebuh proses doktrinisasi?

Mungkin salah satu proses doktrinisasi yang paling berhasil adalah anggapan sebagian besar mereka apa yang dilakukannya adalah sedang membesarkan bisnis mereka sendiri tanpa terikat waktu seperti pegawai kantoran. Di sini justru saya tidak melihatnya seperti itu. Terlepas mereka berpikiran seperti itu sebenarnya  ada dua kenyataan yang harusnya mereka sadari. Pertama, mereka adalah tenaga sales perusahaan MLM.  Semakin baik omzet penjualan mereka, secara otomatis mereka akan mendapatkan komisi yang lebih besar. Coba saja omzet penjualan mereka turun, pastinya komisi yang didapat pun akan turun dengan sendirinya. Kedua, tanpa mereka sadari sebenarnya mereka justru bekerja selama 24 jam. Dengan semakin tinggi posisinya, semakin banyak downline yang dimilikinya, dan semakin banyak pula hal-hal yang harus diperhatikannya dibandingkan posisi ketika pertama kali dia bergabung.

Wah panjang sekali tulisan ini. Maaf jika sebagian mungkin ada yang tersinggung akan tulisan ini. Tulisan ini hanya sekedar tulisan belaka,seperti judul blog ini. Saya pribadi salut kepada orang-orang yang sukses, terlepas dari MLM atau pun bukan. Salam sukses.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s