Gank Vacation Jelajahi Tidung dan Snorkling di Tiga Pulau (part 2)

GV snorkling di pulau air

Jam 7.00 WIB kapal kami mulai meraung krok krok krok krok. Suaranya seperti tidak asing di telinga Saya. Bagi penulis pribadi, suara itu mengingatkan kepada mainan masa kecil perahu perahuan yang terbuat dari lempeng seng berbahan bakar minyak sayur dan diberi sumbu untuk dinyalakan oleh api. Ketika sumbu itu disulut api, kapal akan bergerak dengan sendirinya mengitari air dalam baskom sambil mengeluarkan bunyi khas krok krok krok krok.

Perlahan kapal mulai meninggalkan pelabuhan. Lamat-lamat jejeran perahu yang beraneka ragam terlihat semakin kecil tergantikan pemandangan air di sisi kiri kanan belakang dan depan. Semakin jauh meninggalkan Jakarta, air laut yang tadinya berwarna agak kecoklatan dan berbau amis pun mulai menghilang tergantikan warna biru laut seperti yang sering terlihat di layar kaca. Gugusan pulau pun satu per satu menyambangi Kami. Pulau Bidadari, Pulau Onrust, Pulau Rambut, Pulau Karang dan Pulau Burung merupakan diantara beberapa pulau yang kami lewati untuk mencapai pulau Tidung.

Keindahan pulau pasir putih

Kendati 3 jam lamanya di perahu, nyatanya hal itu tidak memudarkan kegairahan Kami. Bahkan kami semakin berisik, sementara penumpang kapal lainnya lebih memilih tidur atau makan di kapal. Ada-ada saja memang gaya dan tingkah pola anak-anak GV yang selalu bercanda diiringi gelak tawa. Kalau tidak ramai, bukan GV namanya. Rony bahkan memberanikan diri ke atas atap perahu sambil sesekali berpose tidak jelas.

Bersantai di pinggiran pulau pasir putih

Menurut rencana pada hari pertama sesampainya disana, GV ke penginapan menaruh barang sebentar, lalu mulai berangkat snorkling. Dilanjutkan malamnya acara bakar ayam dan bakar seafood yang telah dibeli. Pada hari kedua akan menjelajahi tidung kecil, terjun dari jembatan cinta untuk berenang dan sebagian mungkin akan naik banana boat atau outbound atau juga bermain jet ski. Intinya pada hari kedua setelah melihat sunrise di jembatan cinta, lalu jelajah tidung kecil, sisanya bebas bagi masing-masing orang. Terserah bagi mereka mencicipi wahana yang telah disediakan disana. Namun musibah menghampiri kami. Mungkin saking asyiknya dan kerepotan membawa barang bawaan, Kami terlupa bahan seafood yang telah dibeli di Muara Angke. Tidak ada satu pun yang membawa bahan itu dari perahu sehingga ketika Kami tersadar bahan itu masih di perahu dan perahunya pun telah meluncur kembali ke Jakarta. Nasi sudah jadi bubur, satu-satunya cara adalah menunggu esok hari ketika sesampainya di Muara Angke mencari info mengenai nasib bahan tersebut. Namun sampai saat itu sudah dipastikan ikan yang telah dibeli sudah tidak segar lagi, mungkin sebagian sudah berbau. Maka kami putuskan untuk merelakan saja bahan untuk makan malam kami. Cukup hanya dengan ayam bakar saja, yang terpenting perut dapat terisi dan tidak kosong.

Hari pertama

Tidur siang di pulau pasir putih

Kegiatan snorkling pun dimulai. Setelah menyewa satu set alat snorkling seharga Rp35.000 dan menyewa perahu berangkatlah kami menuju pulau pertama, pulau air. Bagi sebagian Kami, ketakutan berenang di lautan memang menjadi momok tersendiri. Tidak semua yang ikut bisa berenang. Pengalaman di kolam renang saja belum ada, apalagi di laut yang kedalamannya di beberapa tempat tertentu bisa mencapai ribuan meter. Tidak ada cara lain mengatasi ketakutan itu selain setiap orang memberanikan diri menyebur ke laut mengatasi ketakutan yang dialaminya. Jika ketakutan terus menghantui, kapan bisa bersenang-senangnya? Akhirnya semua sepakat untuk memberanikan diri menyebur ke laut. Rasa asin air mulai terasa. Belum terbiasa menggunakan alat snorkling juga menjadi salah satu kendala sebagian dari kami. Namun dengan berlalunya waktu, setiap orang mulai menyesuaikan diri dan sisanya adalah sejarah. Pemandangan batu karang yang indah membuat ketakutan yang timbul berangsur-angsur hilang. Semuanya tampak bergembira. Sayang spot di pulau air ternyata tidak begitu luas, meski begitu pengalaman pertama snorkling menjadi kisah tersendiri dan sesuatu yang patut dibanggakan.

Mencoba snorkling di pulau air

Kurang lebih 40 menit di sana, Kami beranjak ke pulau pasir putih. Jika di pulau Air, banyak terumbu karang yang terlihat melalui kaca mata renang, di pulau pasir putih hanya terlihat hamparan pasir di bawah laut. Berhubung halusnya butiran yang ada di dalam, maka ketika kami mengepakan kaki kami pas snorkling, sapuan air turut menggerakan pasir di dalamnya. Lama-lama air pun mulai keruh. Akhirnya Kami memutuskan untuk tidak snorkling di sana, melainkan beristirahat. Dengan air yang berwarna kehijauan dan pesisir pantai di isi pasir putih disertai serpihan karang putih mati rasanya tempat itu memang cocok untuk peristirahatan dibandingkan spot snorkling. Sebagian tidur-tiduran di pinggir pantai, sebagian lagi mencari karang mati dan sisanya berenang di pinggir pantai.

Puas beristirahat, kami pun menuju lokasi snorkling terakhir di pulau payung. Karena jaraknya hanya 15 menit dari pulau tidung, maka ini menjadi pulau terakhir kunjungan Kami. Saat itu waktu telah menunjukan pukul 16.00 WIB dan arus air sudah terlihat agak kencang. Namun hal itu tidak menyurutkan Kami. Satu per satu mulai menceburkan diri kembali. Tidak disangka, dibandingkan pulau Air, spot di sini jauh-jauh lebih indah dan lebih luas. Terumbu karang begitu beraneka ragam. Warna warni keindahan terumbu karang seakan tidak akan habis-habisnya kami pandangi. Tidak hanya itu, sesekali lalu lalang ikan berwarna warni mengiringi langkah kami. Sebagian dari kami mencoba memberikan nasi sisa yang tidak habis dimakan. Seketika itu juga ikan-ikan berhamburan menghampiri sang pemberi. Pemandangan yang tersaji begitu indah dan menggemaskan.

Berpijak pada terumbu karang

Sore pun menjelang, akhirnya semuanya kembali ke perahu, suara mesin perahu mulai terdengar krok krok krok krok. Setelah sampai di penginapan, Kami pun bersih-bersih. Setelah ayam bakar telah siap tersedia, kami pun beramai-ramai makan malam seadanya akibat musibah kehilangan bahan seafood pada siang harinya. Walau tidak mewah, setidaknya nasi dan ayam bakar sudah cukup menahan cacing perut berdemonstrasi.

Hari kedua

Jam menunjukan jam 4.00 WIB pagi. Sebagian telah bangun pagi lebih awal dan mulai membangunkan yang lainnya. Rencananya hari itu GV akan melihat sunrise dari jembata cinta. Untuk itu mau tidak mau kita harus berangkat jam 5 dari tempat menginap mengingat jaraknya yang cukup jauh, sekitar 40-50 menit perjalanan dari penginapan mencapai  jembatan cinta. Tidak ada satu pun yang mandi, setiap orang hanya menggosok gigi dan mencuci mukanya saja.

Selesai snorkling

Jam 5.00 WIB semua bertolak dari penginapan. Jalan lurus seakan tidak berujung cukup membuat lelah kaki. Ternyata tidak hanya GV saja yang ingin menyaksikan sunrise di Tidung, para peserta Mulung Tidung pun rupanya tidak mau ketinggalan. Mereka pun mulai mengiringi satu kami. Lama-lama jumlah kami menjadi banyak. Karena jarak yang cukup jauh menuju lokasi, beberapa terlihat menyewa sepeda dari rumah penduduk dan beberapa lainnya menggunakan ojek motor.

Sayangnya harapan melihat sunrise harus pupus. Mendung tipis menghalangi pandangan kami melihat terbitnya matahari. Jadi kami hanya berfoto-foto saja di sekitar jembatan cinta. Matahari baru terlihat memerah setelah berada di ketinggian tertentu. Syukur matahari masih kelihatan, serentak kami pun mulai mengabadikan momen itu. Foto orang-orang berpose dengan background matahari merah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi kala itu.

Menyusuri jembatan yang menghubungkan pulau tidung besar dan pulau tidung kecil ternyata cukup memberikan relaksasi bagi pikiran dan jiwa. Bagaimana tidak. di sepanjang jembatan kayu selalu disuguhi pemandangan laut yang begitu menakjubkan. Air laut di bawah jembatan begitu bersih sampai-sampai karang yang ada di dalam terlihat dengan begitu jelasnya.

Berendam di pulau payung

Daya tarik yang begitu besar dari pemandangan di bawah laut mengundang sebagian orang untuk turut berenang dengan meloncat dari jembatan cinta. Satu per satu pengunjung jembatan cinta melepaskan bajunya dan ketika semuanya siap, mereka pun meloncat satu per satu menciptakan cipratan air yang tinggi di sekeliling mereka. Sebagian anggota GV juga tidak mau ketinggalan, setelah menjelajahi tidung kecil, Sayni, Reza dan Rahmat bertiga memberanikan diri meloncat dari jembatan cinta. Bagi Sayni agar lebih menciptakan momen yang indah bagi dirinya dan orang yang melihatnya, maka loncatannya pun  bukan sembarangan loncatan melainkan salto 360 derajat di udara sebelum semburan air laut menghujam badannya.

Harusnya sebelum melakukan acara loncatan di jembatan cinta, GV berencana menyusuri pulau tidung kecil sampai paling ujung pulau yang memang jarang disentuh oleh para pengunjung. Karena jarang disentuh pastinya pemandangannya pun lebih indah. Namun karena banyak yang telah kecapaian setelah marathon snorkling kemarinnya dan juga ada tiga orang anggota GV yang dituakan akhirnya rencana itu dibatalkan. Makanya Sayni bertiga dapat loncat indah di jembatan cinta.

Ndit flying fox

Ndit dan Eko tidak mau kalah. Di saat tiga orang GV di atas melakukan loncat indah di jembatan cinta, mereka justru berperan serta dalam wahana outbound. Dengan berbekal Rp35.000, mereka bergelayutan dari satu pohon ke pohon lainnya. Puncaknya mereka flying fox dari pohon di sekitar pantai ke laut. Dengan demikian dapat dipastikan mereka akan basah terkena air laut yang dijadikan tujuan akhir flying fox.

Selesainya Ndit dan Eko ber-outbound ria, Sayni bertiga rupanya telah pindah lokasi. Kini mereka berada di pinggir pantai. Namun kali ini mereka bukan bertiga, melainkan berempat ditambah Rahmat. Dengan hanya mengenakan celana pendek saja dan baju atas tidak dipakai mulailah lenggak lenggok berpose di bawah jepretan kamera Inul dan Rony. Heran mau saja mereka disuruh lari-larian sama Inul. Katanya sich supaya ekspresinya lebih keliatan natural. Dasar pada narsis, mau-mau saja mereka menuruti perintah Inul, yang penting ada foto keren terlihat seperti beach boys.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 11.00 WIB, saatnya bagi GV packing untuk bertolak dari Tidung menuju Jakarta kembali. Tiket telah di tangan, jadi kami tidak terlalu khawatir kebagian perahu. Supaya dapat lebih lama di Tidung memang sedari awal Kami berniat menggunakan perahu terakhir dari Tidung. Diperkirakan jam 16.00 WIB baru sampai di Muara Angke.

Kelelahan setelah traveling marathon selama 2 hari

Tampak segurat senyuman manis dari setiap member GV yang baru saja traveling di Pulau Tidung dan tiga pulau Air, Pasir Putih dan Payung. Meski singkat dan budget terbatas, namun kami bahagia setidaknya usaha kami untuk traveling menjauh dari Jakarta terbayar sudah. Ekspektasi yang berlebihan serta kekhawatiran berlebihan sudah hilang entah kemana. Sisanya hanyalah senyuman disertai kelelahan yang sangat digenjot traveling ala GV. Banyak member GV yang tertidur pulas selama perjalanan di perahu menuju Muara Angke. Sementara saya, ingin sedikit lagi menikmati suasana laut dengan menginjakan kaki di geladak depan bersama Ciel melihat butiran-butiran gelombang laut yang pecah tersibak laju perahu. Sampai ketemu di trip selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s