Gank Vacation Jelajahi Tidung dan Snorkling di Tiga Pulau (part 1)

GV di Perahu

Gank Vacation (disingkat GV) akhirnya berpetualang lagi ke Tidung dan tiga pulau lainnya pada 17-18 September 2011 lalu. Setelah sebelumnya ke Situ Gunung, Sukabumi yang menguji kekuatan fisik dan mental, kini kembali berpetualang menjelajahi kepulauan seribu. Memang tidak semuanya Kami jelajahi. Dari 110 buah pulau yang terdaftar di kepulauan seribu, GV hanya menyempatkan diri ke 4 pulau saja, yakni pulau tidung sebagai tempat menginap dan sisanya 3 lagi pulau air, pulau putih dan pulau payung sebagai tempat snorkling kami.

Petualangan ini merupakan hal pertama bagi GV, khususnya di lepas pantai. Selama ini objek traveling

yang kami tuju biasanya daerah pegunungan atau bersifat wisata kota seperti Purwokerto dan Yogyakarta. Namun tidak ada salahnya menambah pengalaman. Namanya juga adventure traveling, kenikmatan terbesar justru ketika kita dapat menjelajahi tempat asing yang belum pernah di kunjungi oleh rata-rata member GV. Kalau memang bisa, harusnya GV justru menemukan tempat baru yang belum ditemukan orang lain seperti Columbus menemukan benua Amerika. Apakah ini khayalan? Tentu tidak, ini adalah sebuah pengharapan. Semoga ini menjadi kenyataan bagi GV.

Semua anggota GV yang traveling ke Tidung

Seperti biasa, perjalanan GV ke tidung pun tidak serta merta direncanakan jauh-jauh hari. Sifatnya lebih spontanitas. Ketika dapat wangsit, segera dilakukan tanpa tedeng aling lagi atau memikirkan bagaiman nantinya. Selain adrenalin terpacu, yang ikut pun benar-benar yang berniat, bukan sekedar lip service saja. Dari pengalaman selama ini, biasanya mereka yang menjawab “liat nanti saja”, “kalau gak ada halangan gw ikut” dan pernyataan-pernyataan lainnya yang meragukan kemungkinan besar tidak akan ikut. Bukan maksud Kami selaku member GV memastikan secepatnya keputusan mereka tanpa memahami kesulitan-kesulitan yang mungkin sedang mereka hadapi. Namun hal ini memang sengaja kami lakukan untuk mengukur dana yang terkumpul apakah dapat menutupi biaya yang timbul. Jika pun ada berlebih mungkin dapat dipergunakan untuk hal lain yang bisa menambah kenyamanan traveling.

Makan pagi di Tidung kecil

Lagi pula apa susahnya sich mengatakan “gw ikut” atau “gw gak ikut”. Tidak susah untuk mengucapkannya. Ketegasan memang barang penting di GV. Kasihan member lainnya yang telah menyatakan ikut terombang-ambing oleh ketidaktegasan member lainnya. Patut di ingat, kami dari GV tidak mengambil keuntungan, setiap perjalanan yang dilakukan lebih cenderung memaksimalkan dana yang terkumpul dan dipergunakan untuk kenyamanan baik makanan, transportasi, penginapan dan lain-lainnya member GV yang ikut pada saat itu. Intinya kita senang sama-sama, menderita pun sama-sama pula. Karena konsepnya kebersamaan, maka wajar jika nantinya ketika traveling terjadi masing-masing member yang ikut mendapat tugas demi kelancaran perjalanan.

Ketika GV berencana ke Tidung pun masih ada beberapa member yang ragu-ragu ikut atau tidak. Jadi untuk memastikan jadi atau tidaknya, Kami harus memastikan uang patungan sebesar Rp250.000 harus dikumpulkan secepatnya sebelum hari H. Selain kami dapat memastikan siapa saja yang benar-benar ikut, yang ragu-ragu akan terpental secara otomatis karena di desak untuk memberikan pernyataan. Dana sebesar Rp250.000 per orang akan dipergunakan untuk biaya kapal Muara Angke – Tidung pulang-pergi, tempat penginapan, makan 2 hari, sewa perahu buat snorkling, dan alat-alat snorkling dan catering.

Siap-siap berangkat snorkling

Awalnya kami tidak berharap yang ikut akan sebanyak kemarin. Kami perkirakan yang ikut hanya sekitar 12-14 orang saja. Namun di luar dugaan, dua kawan Kami dari Cianjur (Azi & Reza) pada Jumat malam datang memastikan ikut ke Tidung. Belum lagi temen kantor kami yang juga turut ikut pula (Nani, Sri dan keluarga) serta teman Facebook yang baru pertama kali bertemu (Ndit dan Eko).

Akhirnya setelah memastikan siapa saja yang berangkat ke Tidung diperoleh jumlah 25 orang. Tentunya hal ini membuat Kami senang sekaligus agak khawatir. Bukan apa-apa, ini pertama kalinya jumlah yang ikut lebih dari 10 orang (Biasanya GV berangkat traveling hanya berjumlah 8 atau 10 orang). Belum lagi 3 orang di antara yang ikut merupakan para ibu tercinta Kami. Sri membawa Ibunya dan adik ibunya serta sepupunya, Tia. Mouna juga mengajak Ibunya. Hal lain juga harus diperhatikan adalah adanya tiga orang vegetarian yang turut serta, yakni Sri, Ibunya dan adik ibunya. Ini juga merupakan hal baru bagi GV. Tetapi meminjam istilah penyanyi Pop Syahrini, Alhamdulilah yach semuanya dapat diakali dana berjalan lancar, meski nantinya ada musibah yang menimpa Kami.

Berpose depan fotografer

Diharapkan bagi semua yang ikut sudah berada di Muara Angke jam 5.00 WIB. Sebagian memang baru bertemu di sana, seperti Ndit, Eko, Sri dan keluarganya. Sementara bagi member wanita GV yang rumahnya di Depok (Ciel) dan Ciputat (Aie dan Uzzy) agar tidak ketinggalan perahu, mereka menginap di rumah Mouna pada malam hari sebelum keberangkatan. Sementara Rony bersama Nani dari Bekasi menggunakan sepeda motor Rony. Lagi pula adanya tambahan tiga orang di rumah Mouna, sedikitnya akan membantu Mouna menyiapkan bahan makanan untuk makan siang nanti di perahu yang telah dipersiapkan oleh Hadi dan istri pada H-1 (Jumat, 16 Sept 2011).

Harusnya mereka berempat tidak perlu repot menyiapkan bahan makanan untuk makan siang, namun mengingat keterbatasan dana dan kondisi yang tidak memungkinkan membeli di tempat (karena akan menghambat waktu perjalanan), maka akhirnya diputuskan agar Hadi dan Istri membantu menyiapkan makanan untuk makan siang berupa 4 ekor ayam goreng dan 4 ekor ayam bakar. Ayam goreng untuk makan siang di Pasir Putih dan ayam bakar untuk malam harinya.

Secara total list yang ikut ke Tidung antara lain:

1. Mpai
2. Inul
3. Mouna
4. Indro
5. Ciel
6. Aie
Menuju Pulau Air
7. Uzzy
8. Ronny
9. Nani
10. Ryan
11. Hadi
12. Imel
13. Zaki (anak Hadi & Imel)
14. Rahmat
15. Reza
16. Azi
17. Sayni
18. Ndit
19. Eko
20. Ade (keponakan Ndit)
21. Sri
22. Tia
23. Nyokapnya Sri
24. Nyokapnya Tia
25. Ryan
 
Sayni salto dari jembatan cinta

Pukul 4.00 WIB akhirnya Kami berkumpul di rumah Mouna. Semuanya bertolak dari rumah Mouna, kecuali Ndit, Eko, Sri, Tia dan keluarga yang baru bertemu di Muara Angke karena jarak mereka dari rumah lebih dekat ke sana. Para Wanita akan diantar menggunakan mobil mouna bertolak ke Muara Angke, kecuali Nani yang dibonceng Rony. Sementara bagi lelaki lainnya menggunakan motor. Jalanan masih terlihat lengang. Hanya satu atau dua mobil saja yang ada di hadapan Kami beriringan susul menyusul menapaki jalan di pagi hari. Udara dingin yang menusuk kulit mengharuskan Kami setidaknya menggunakan sweater sebagai penghangat tubuh.

Kondisi jalanan yang lengang membuat perjalanan menuju pelabuhan Muara Angke berlangsung cepat. Kurang lebih satu jam kemudian, kami telah sampai di pelabuhan. Setelah terkumpul semua, sebagian dari Kami menyempatkan diri untuk sholat Shubuh dahulu di pom bensin dekat pelabuhan. Meski tidak ada air, namun hujan beberapa menit sebelumnya masih menyisakan air yang mengucur tanpa henti dari atap pom bensin tempat Kami sholat. Dari pada tidak berwudhu, akhirnya kami gunakan air yang mengucur itu membasuh satu per satu anggota tubuh.

Sesampainya di Muara Angke terasa sia-sia jika tidak membeli bahan seafood menemami bakar ayam malam harinya di Tidung. Lagi pula setelah snorkling seharian, pasti fisik pun memerlukan asupan energi yang cukup besar untuk memulihkan kelelahan yang mendera. Akhirnya diputuskan untuk membeli 2 kilogram Udang, 3 kilogram ikan bawal dan cumi seharga Rp30.000.

Kondisi Muara Angke saat keberangkatan ke Tidung

Pelabuhan Muara Angke pada saat itu begitu ramai. Terlihat banyak orang Jakarta yang juga berencana menghabiskan waktunya di pulau Tidung seperti Kami. Selidik demi selidik ternyata mereka adalah peserta acara Mulung Tidung 2 yang diperuntukan untuk membersihkan pulau Tidung dari sampah-sampah yang berserakan di sekeliling pulau. Rencananya acara ini akan diikuti oleh 500-600 peserta. Namun acara ini tidaklah gratis, para peserta itu diharuskan membayar biaya sebesar Rp190.000 untuk 1 malam 2 hari. Pastinya akan banyak orang Jakarta berada di pulau tidung. Untungnya hari pertama tidak Kami fokuskan di pulau tidung, melainkan di tiga pulau lainnya. Kalau ternyata berbarengan, tentulah liburan Kami tidak akan nyaman terganggu aktivitas mulung tidung.

Perjalanan dari Muara Angke ke Tidung menggunakan perahu yang Kami tumpangi memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Selain warna perahu berwarna warni mencolok, setiap perahu memiliki nama masing-masing yang tertera di samping perahu. Ada yang bernama “Raksasa” (perahu kami), “Satria”, “Kian Santang”, “KM Jahra”, dan lain sebagainya, menjadikannya pembeda satu sama lain. Meski memiliki nama yang berbeda, umumnya setiap perahu memiliki dua area penumpang. Satu bagian atas dan satu bagian bawah yang ada toiletnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s