Keseragaman Ide antar Manusia

Setiap saya membaca buku atau menonton film atau pun sekedar mengamati, saya melihat adanya satu kesatuan ide atau pemikiran antara orang-orang itu. Padahal kalau di amati secara seksama antara satu dengan lainnya tidak saling mengenal, namun mengapa mereka memiliki satu ide yang sama? Inilah yang menggelitik saya mencari tahu mengapa hal itu bisa terjadi.

Dari beberapa kali perenungan, saya pribadi menyimpulkan bahwa hal itu bisa saja terjadi dan bukan tidak mungkin timbulnya kesatuan ide walau satu sama lain tidak saling mengenal. Bukankah kita semua berasal dari zat yang tunggal, Allah SWT? Karena berasal dari zat yang sama, maka lahirnya ide yang sama antara makhluk ciptaan-NYA bukan sesuatu yang aneh.

Seperti teori dentuman besar maha dashyat yang terjadi sekitar 13.700 juta tahun lalu dan membentuk alam semesta kita saat ini, maka prosesnya tergolong sama. Ketika belum ada alam semesta, yang ada hanyalah satu zat yang sangat panas sekali dan menunggu waktu pecah. Pada saat itu belum ada namanya planet, bintang, matahari, atau bahkan bumi tercinta kita. Yang ada hanyalah zat cair yang siap meledak kapan saja. Ketika pada akhirnya ledakan terjadi, kepingan-kepingan yang terpecah membentuk berbagai bentuk seperti yang kita ketahui saat ini. Namun apakah teori itu benar terjadi? Beberapa ilmuwan meyakini hal itu. Saya sendiri juga meyakini hal itu.

Saya akan menganalogikan proses yang sama dari satu zat menjadi berbagai bentuk yang bebeda melalui proses terbentuknya janin dalam rahim. Seperti teorin big bang, bukankah terbentuknya janin didahului oleh bersatunya sperma dan sel telur membentuk satu blastocyst, bukan dua, tiga, atau pun lebih dari itu. Pada perkembangan selanjutnya, dari diameter yang kecil itu sebagian akan menjadi tulang, sebagian menjadi darah, kuping, tangan, kaki, mulut, organ-organ dalam tubuh, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan disini. Intinya bentuk-bentuk fisik yang tercipta di kemudian hari hanyalah berasal dari sebuah bentuk sederhana, blastocyst.

Begitu pula dengan ide-ide yang berada dalam setiap pikiran orang. Siapakah pencipta ide-ide itu? Saya yakin hanya satu, pencipta Alam Semesta ini, Allah SWT. Tidak ada yang lain. Adanya kesamaan ide yang tejadi antar manusia dimulai sejak masa ruh ditiupkan. Pada saat itu mulailah penanaman ide-ide ke dalam jiwa manusia. Masalah nanti ada orang yang tidak tahu atau tidak bisa me-recall ide-ide yang telah ditanamkanNYA pada saat dia hidup, maka itu lain persoalan. Cukup bagi Allah hanya meniupkan instrumen ide tersebut, dan sisanya manusia itu sendirilah yang berupaya sebisa mungkin me-recall ide itu.

Kalau begitu, apakah secara serta merta manusia dapat tahu dengan sendirinya ide-ide itu? Kan sudah pasti ada, jadi kenapa hanya sebagian saja yang mendapatkannya dan sebagian lain tidak? Kalau masalah ini tergantung lagi oleh kemauan dan daya juang manusianya sendiri yang menginginkan ide itu didapatkan. Proses untuk mendapatkan ide itu pun untuk setiap orang berbeda-beda. Pengalaman bisa menjadi trigger secara tidak sengaja atau dengan sengaja me-recall ide yang telah ditanamkan Allah. Atau ada juga yang secara langsung tanpa melalui pengalaman. Dengan kata lain ide itu datang dengan sendirinya. Seperti tercerahkan begitu saja. Tidak disyaratkan memperoleh pengalaman terlebih dahulu, contohnya proses penemuan pesawat terbang, atau bahkan pesawat ulang alik. Apa sebelumnya ada manusia yang membayangkan akan bisa menaiki pesawat terbang di atas daratan atau bahkan keluar dari planet bumi, tempat berpijak selama ini? Saya rasa tidak ada. Namun kini hal itu tergolong wajar saja.

Adanya ide yang satu mungkin dapat dijelaskan melalui konsep “ide”-nya Plato. Sementara mengapa sebagian orang dapat mengetahui dan mendapatkan ide-ide baru terus sementara yang lainnya selalu kesulitan mendapatkannya, maka akan saya jelaskan melalui konsep “cahaya” Suhrawadi melalui teori penyebaran cahaya.

Bila Plato menitikberatkan kepada bagaimana ide itu tidak berwujud dan berasal dari dunia ide yang berbeda dengan dunia yang kita tempati. Maksudnya ide itu tidak berubah, yang berubah adalah hasil yang tampak di dunia kita. Makanya ada sebagian manusia yang memiliki pemikiran yang sama. Karena pada dasarnya ide yang tertanam di dunia ide, merujuk pemikiran Plato, tidak berubah. Karena tidak ada perubahan, maka setiap manusia yang dapat memiliki ide yang sama mengenai suatu hal.

Mengenai kenapa ada sebagian orang bisa menemukan ide yang tertanam atau tidak, saya menganalogikannya dengan konsep cahaya Suhrawardi. Semakin besar cahaya yang didapatkan dari Allah sampai kepada manusia, maka semakin besar pula mereka akan dapat me-recall ide-ide itu. Sebaliknya jika mereka semakin jauh, maka sekat antara Allah dan manusia semakin tebal. Hal inilah yang menyebabkan sebagian orang kesulitan menemukan ide-ide baru.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, di tempat berbeda dan pemikiran yang berbeda akan mendapatkan satu ide yang sama, karena Allah telah memberikan instrumen ide yang dapat di-recall oleh manusia untuk dipergunakan di kemudian hari sejak ditiupkan ke dalam ruhnya. Namun untuk mendapatkan ide-ide yang tertanam itu diperlukan usaha pribadi manusia itu sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s