Spiritual Awareness

Akhirnya tiba juga bulan Ramadhan di mana saya sebagai seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa sejak subuh pagi hingga maghrib menjelang. Karena saya sendiri jarang berpuasa sunnah, di hari pertama puasa wajib sepertinya tubuh masih harus beradaptasi. Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, karena pada bulan ini, kita diwajibkan menahan hawa nafsu kita dan membangkitkan nilai-nilai spiritual kita. Sepertinya memahami ajarang Islam dalam konteks fiqh selama 11 bulan di luar Ramadhan sepertinya sudah cukup untuk kita melangkah ke hal lain. Saatnya di bulan Ramadhan ini kita melihat Islam dan memahaminya dalam konteks spritual.

Ketika pertama kali belajar Islam, kecenderungan bagi setiap orang adalah memahami fiqh (hukum islam) dan sedikit sekali menyentuh qalbu. Hingga terasa bahwa Islam itu hanyalah kumpulan bentuk-bentuk peraturan yang kaku agar kita bisa selamat menuju dunia akhirat nantinya. Jika sebuah fatwa baru muncul, maka mau tidak mau kita harus mengikuti fatwa itu. Sebagai umat Islam tentulah wajib bagi kita untuk mengikuti fatwa-fatwa baru terhadap permasalahan yang belum ada jawabannya.

Dengan segala kemampuan pikir dan latar belakang yang dimiliki para pembuat fatwa, saya yakin bahwa mereka berusah semaksimal mungkin membuat produk hukum yang dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi umat Islam. Begitu juga saya meyakini bahwa sang pembuat fatwa itu tidak ingin umat Islam terpecah belah menjadi berbagai golongan berdasarkan fatwa-fatwa yang dihasilkan, dalam hal ini mazhab (kumpulan fatwa-fatwa yang dihasilkan oleh seorang fuqaha).

Namun terkadang bagi pengikutnya, yang hanya bertaklid buta terhadap fatwa-fatwa yang keluar tanpa meng-crosschek terlebih dahulu bagaimana fatwa itu dibuat, hal tersebut justru menimbulkan permusuhan kepada orang-orang yang tidak mengikuti fatwa ulama yang diikutinya. Istilahnya fanatisme buta. Kalau sudah begini Islam menurut saya pribadi sudah menjadi kaku, dan jauh dari tujuan Islam itu sendiri, yakni sebagai rahmatan lil’ alamin.

Perdebatan-perdebatan fiqh justru menjadi tema sentral dari umat Islam. Mereka hampir melupakan bahwa diturunkannya Islam itu sebagai jalan hidup menuju kebahagian dunia dan akhirat. Yang mereka ketahui hanyalah sebatas fiqh saja. Dan ada beberapa orang yang justru dengan mudahnya mengkafirkan golongan lain yang tak sepaham dengan dirinya. Atau mencibir, menjauhi orang-orang yang tak sepaham dengannya.

Sebagai seorang mualaf, saya justru berpikir, apa iya Islam itu seperti ini? Kembali saya melakukan penelusuran-penelusuran kenapa bisa terjadi seperti itu? Harusnya ada kesatuan di antara umat Islam, bukan saling merasa dirinya dan golongannyalah yang paling benar, sementara golongan yang lain adalah salah atau “tersesat”.

Sepertinya banyak dari kita sejak kecil yang belajar islam memang ditujukan untuk lebih memahami fiqh dan sejarah Islam saja. Kita melupakan bahwa ada nilai-nilai lain yang harus beriringan sejalan. Bukankah islam itu komprehensif? Kita sepertinya lupa bahwa dalam Islam kita juga harus meningkatkan spiritual yang kita miliki sehingga Islam yang kita miliki dapat sepenuhnya merasuk dalam tubuh dan jiwa kita. Tidak sebatas pengetahuan sejarah atau fiqh belaka.

Saya yakin orang yang tinggi tingkatan spiritualnya, maka dia akan lebih wise memandang orang lain yang berbeda dengan dirinya. Mukanya akan bersinar, tidak ada kemurungan dalam raut wajahnya. Mudah menebar senyum seperti Rasulullah. Menjalani hidup dengan lapang dada, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Kenapa hal itu bisa terjadi? Ingat tulisan saya yang berjudul .

Dalam tulisan itu di jelaskan, bahwa seorang yang memiliki SQ tinggi, maka antar dia dan Allah semakin dekat. Kalau orang itu makin dekat kepada Allah, maka Allah sebagai Maha Pengampun dan Maha Penyayang, akan menjadikan diri orang itu pun memiliki nilai-nilai yang tidak jauh berbeda. Bagaimana mungkin orang yang dekat sama Allah akan menjauhi atau memusuhi makhluk ciptaan-NYA. Kalau dia mengagumi Allah, maka yang terjadi dia akan menjadi kepanjangan tangan Allah dan menyanyangi umat manusia ciptaan-NYA.

Banyak orang akhirnya mulai mencari nilai-nilai spiritual yang belum pernah mereka dapatkan selama ini. Kekayaan dan kekuasaan yang mereka dapati tidak membawa mereka menuju kebahagiaan. Yang ada keserakahan untuk minta lebih dan lebih lagi dari apa yang dimilikinya menjadi suatu keharusan dalam hidup mereka. Karenanya mereka sulit sekali berbahagia. Untuk itu mulailah mereka mencari nilai-nilai spiritual yang dapat membawa kebahagiaan.

Untuk itu, kita harus aware terhadap nilai-nilai spiritual hingga menjadikan diri kita memahami orang lain atau ajaran orang lalin tidak sebatas kulit luarnya saja, tidak juga hanya berupa tata aturan belaka tanpa isinya. Nilai spiritual ini biasanya kita dapatkan melalui ajaran agama kita masing-masing. Bukankah setiap ajaran agama menyarankan pemeluknya menuju kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat?

Jadi jangan heran jika sebagian umat Islam mencari nilai-nilai spiritual itu di luar ajaran Islam. Bukan karena ajaran Islam tidak memiliki nilai-nilai itu, melainkan mereka sendirit tidak mengetahui bahwa Islam juga memiliki nilai-nilai spiritual di dalamnya. Selama ini yang mereka ketahui dalam Islam lebih kepada praktek dan tata cara ritual Islam itu sendiri, kurang mengena isi di dalamnya. Namun sebagian lainnya sudah mengetahui bagaimana mencari nilai-nilai itu. Tengok saja tirakat-tirakat sufi seperti Naksabandiyah, Qadariyah, Rifa’iah, Samaniah, dan tarikat-tarikat lainnya yang mengajarkan Islam dalam tingkatan qalbu atau manajemen hati.

Berbeda dengan fiqh yang lebih cenderung mengajarkan ke tata cara bagaiamana seharusnya Islam dijalankan, tarikat-tarikat itu lebih mengedepankan manajemen hati dan keberserahan diri kepada pemilik syariat Islam itu sendiri. Namun terkadang ada juga tarikat-tarikat yang melupakan syariat. Kalau yang begini, saya sendiri tidak setuju. Harusnya antara tarikat dan syariat tidaklah bertentangan, namun saling melengkapi. Hal ini pula yang diyakini begawan sufi Ibnu Arabi, atau fuqaha kontemporer Indonesia Quraish Shihab yang membahasa secara khusus dengan judul “Mensalafikan sufi dan mensufikan salafi”.

Berapa banyak dari kita yang aware tentang spiritualisme? Jarang sekali kita mengetahuinya, karena memang pembahasan mengenainya jarang dilakukan antar kita. Hingga jangan heran kita hampir tidak mengetahui nilai-nilai itu. Sebenarnya tidak susah kalau kita mau sedikit aware mengenai subjek itu. Bukan sesuatu hal yang sulit, tetapi bukan juga sebuah proses yang langsung jadi, melainkan sebuah proses  yang berkesinambungan selama manusia hidup. Belajarlah mengikhlaskan segala sesuatunya kepada Allah SWT dan biarlah DIA yang menjadi pembimbing kita. Karena dengan izinnyalah kita semua dapat berpikir, menelaah, bergembira, sedih, susah, tertawa, bahagia, dan lain sebagainya.

Jika kita bersungguh-sungguh mencari tahu, minimal aware, terhadap nilai spiritual sedikit demi sedikit hijab antara kita dengan Allah akan terkikis. Dan ketika kita akhirnya memahaminya, tanpa kita mau, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s