Kontrak Derivatif Syariah!

Pada saat perjalanan pulang kantor, saya dan teman saya berdiskusi mengenai isi revisi Undang-Undang nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Bukan apa-apa, namun dari isinya saya berkesimpulan bahwa si pembuat UU (DPR) sebenarnya tidak mengerti yang sedang dibicarakan. Saya sendiri heran, koq bisa-bisanya ada istilah Kontrak Derivatif Syariah. Bagaimana mungkin kontrak derivatif di syariahkan. Untuk sekelas obligasi saja, hukum Islam menggunakan terminologi lain, walau substansinya berbeda.

Bila obligasi sebutan konvensional, maka obligasi berbasis syariah dinamakan sukuk. Ini pun tidak sama persis dengan obligasi konvensional. Pasalnya, jika obligasi konvensional merupakan sebuah bentuk utang yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan dalam jangka waktu tertentu, maka sukuk bisa disamakan dengan penyertaan modal (seperti saham), karena sukuk harus memiliki underlying asset sebagai jaminan. Tidak mungkin sukuk yang dikeluarkan tidak memiliki jaminan aset. Makanya jika sukuk dikatakan obligasi syariah, saya rasa tidaklah tepat. Karena obligasi tidak memerlukan jaminan aset, tetapi lebih kepada trust dengan di iming-imingi tambahan bunga pada saat jatuh tempo nanti.

Oleh karena itu akan sangat tidak mungkin ada kontrak derivatif syariah. Karena setahu saya pribadi, namanya kontrak derivatif itu tidak memiliki underlying asset yang dijadikan jaminan. Dalam hal komoditas, maka kontrak berjangka bisa disebut produk derivatif. Dari definisi yang didapatkan dari wikipedia, kontrak berjangka adalah suatu kontrak standar yang diperdagangkan pada bursa berjangka, untuk membeli ataupun menjual aset acuan dari instrumen keuangan pada suatu tanggal dimasa akan datang, dengan harga tertentu.

Sebelum lebih jauh pembaca kebingungan mengenai istilah derivatif, alangkah lebih baiknya saya kemukakan terlebih dahulu apa itu derivatif. Dari wikipedia, derivatif adalah sebuah kontrak bilateral atau perjanjian penukaran pembayaran yang nilainya diturunkan atau berasal dari produk yang menjadi “acuan pokok” atau juga disebut ” produk turunan” (underlying product); daripada memperdagangkan atau menukarkan secara fisik suatu aset, pelaku pasar membuat suatu perjanjian untuk saling mempertukarkan uang, aset atau suatu nilai disuatu masa yang akan datang dengan mengacu pada aset yang menjadi acuan pokok.

Nah, berkaitan dengan kontrak derivatif syariah, akan tidak mungkin sebuah kontrak dengan dibalut syariah itu tidak memiliki underlying asset. Mau tidak mau kontrak derivatif syariah harus memilikinya. Dengan demikian istilah itu tidak tepat. Saya tidak tahu apakah pembuat undang-undang baru tersebut sebenarnya memahami atau tidak istilah dari derivatif. Atau mungkin memang pemahaman saya dengan mereka berbeda mengenai derivatif itu sendiri.

Namun bukan saya membela diri, istilah lain yang mengacu kepada OTC (Over the counter),  perdagangan di luar bursa, pada undang-undang baru itu disebut Perdagangan Alternatif. Istilah perdagangan alternatif menurut saya terlalu luas pemakaiannya untuk sekedar perdagangan di luar bursa. Mungkin maksudnya agar ada bahasa Indonesia yang mewakili istilah itu di dalam negeri. Namun tetap saja hal tersebut membuat kebingungan beberapa pihak, karena jauh sekali terminologi aslinya dengan artinya dalam bahasa Indonesia.

Namun terminologi-terminologi baru yang dikeluarkan di atas sepertinya memerlukan penjelasan lebih lanjut dari peraturan-peraturan di bawah UU itu, agar masyarakat dan pelaku keuangan itu sendiri memahami dan tidak rancu penggunaan istilah itu. Jangan sampai sudah susah payah dibuat istilah baru namun tidak dipakai oleh para pelaku pasar, karena tidak terbiasanya mereka menyebut istilah itu.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s