Tidak Selamanya Ilmu Pengetahuan dapat Menjelaskan Segala Hal

Pernah mengetahui Multiple Personality Disorder (MPD)? Saya yakin anda semua pernah mendengarnya atau anda sebenarnya lebih mengenal istilah itu dengan “kepribadian ganda”? Karena menariknya orang-orang yang memiliki kepribadian ganda, maka MPD sering dijadikan pembahasan dalam novel-novel populer, seperti Sidney Sheldon “Tell Me Your Dreams” yang mengisahkan seorang wanita yang memiliki 4 kepribadian ganda atau pun dalam sebuah film seperti Shelter yang dibintangi Julianne Moore yang baru saja saya tonton.

Kasus MPD sendiri memang benar-benar ada dalam kenyataannya. Jumlah kepribadian ganda yang pernah dimiliki seseorang pernah mencapai 90 alter ego (kepribadian lain). Kalau anda pernah membaca “Sybil”, seorang anak kecil yang memiliki 13 kepribadian, anda akan memahami begitu kompleksnya kepribadian anak tersebut. Namun di situ pulalah yang menjadi perhatian para psikolog. Walau masih banyak menuai kontroversi mengenai penyakit ini, apakah ciptaan atau ada dengan sendirinya, namun bagi banyak orang pembahasan mengenai hal ini selalu menjadi pusat perhatian, tidak terkecuali saya.

Itu pun yang dibahas dalam film Shelter. Film ber-genre horor ini sebenarnya bukan tipe horor yang saling bunuh-bunuhan namun lebih menekankan faktor psikologi di dalamnya. Dibuka dengan adegan Cara (diperankan Julianne Moore), seorang psikolog di hadapan jaksa penuntut yang dimintai pendapatnya mengenai kepribadian ganda. Cara sendiri berkeyakinan bahwa alter ego diciptakan sendiri oleh kepribadian asli seseorang, bukan tanpa tidak diketahui oleh kepribadian aslinya sendiri. Jika teorinya benar, maka sejumlah kasus dakwaan yang berkelit atas nama kepribadian ganda akan terjerat hukum. Pasalnya baik orang itu atau pun alter egonya yang melakukannya merupakan satu orang yang sama.

Namun semuanya dapat berubah setelah Cara menghadapai pasien unik yang belum pernah dia temui selama ini. Jika dalam kasus MPD biasanya ada alter ego yang menjadi dominan dan penguasa alter ego yang lain, maka dalam kasus yang dihadapi Cara setiap alter ego memiliki posisi sama kuat, tidak ada yang dominan. Untuk memunculkan alter ego yang lain cukup dengan menanyakan secara langsung alter ego yang lain kepada alter ego yang dihadapannya sekarang.

Namun keanehan tidak hanya sampai disitu. Alter ego yang ditampilkan di hadapan Cara adalah kepribadian-kepribadian orang yang telah meninggal dunia, bukan ciptaan kepribadian aslinya. Mungkin jika sebatas hanya mengetahui informasi umum saja dan berpura-pura menjadi karakter orang yang telah meninggal dunia merupakan sesuatu yang biasa. Namun bagaiaman jika alter ego yang ditampilkan mengetahui secara persis kehidupan sejak kecil hingga hal-hal paling rahasia yang hanya diketahui oleh orang yang meninggal itu dengan orang-orang terdekatnya?

Parahnya sang pasien tidak memiliki kaitan langsung dengan orang-orang yang telah meninggal itu dan dia jadikan alter egonya. Kejadian yang lebih aneh lagi, alter ego yang tampil justru kepribadian anaknya dan ayahnya sendiri. Tidak satu pun fenomena yang dihadapannya sesuai dengan teori-teori yang dipelajari. Berbagai teori telah dia coba, namun tetap saja kebuntuan selalu menghadangnya.

Ketakukan mulai menyergapi Cara. Ayah dan anak satu-satunya kini telah tewas. Sang pasien kini mulai menampilkan alter ego ayah dan anaknya. Seolah-olah dia berhadapan langsung dengan ayah maupun anaknya, bukan orang lain. Padahal secara fisik yang dihadapinya merupakan orang berbeda dibandingkan ayah dan anaknya.

Belum pernah Cara tidak mengetahui segala hal mengenai dunia psikologi. Dia sering dijadikan rujukan bagi psikolog lain atau pun diminta bantuannya oleh sejumlah instansi. Jangan-jangan memang ada yang salah dengan apa yang dia yakini selama ini? Berpikir demikian akhirnya dia mencari tahu mengenai asal usul penyakit tersebut, hingga bertemulah dia dengan seorang dukun wanita untuk mencari tahu asal usul penyakit yang diderita sang pasien. Namun apa kata sang dukun. “Kamu tidak akan percaya”.

Awalnya Cara memang tidak percaya, namun setelah melihat bagaimana sang dukun memindahkan jiwa orang yang dioperasinya ke dalam sebuah toples dan mengurungnya disana sampai dia selesai melakukan operassi. Kemudia dia kembalikan jiwanya setelah operasi selesai, mau tidak mau membuat Cara percaya tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Semua keyakinan-keyakinan yang selama ini dianutnya runtuh seketika. Tidak selamanya ilmu pengetahuan dapat menjelaskan segala hal.

Dalam kasus yang dihadapi Cara. Alter ego pasiennya memang kepribadian asli orang-orang yang telah meninggal. Dengan kata lain dalam diri pasien, terdapat jiwa asli orang yang telah meninggal. Apakah ini fiktif atau nyata? Bagi sebagian orang hal itu mustahil, namun pada kenyataannya apa yang dihadapi Cara benar-benar terjadi. Saatnya bagi Cara harus keluar dari kerangka berpikir dan keyakinan yang selama ini dianutnya dan telah mendarah daging.

Bagaimana mungkin jiwa orang lain bisa berada dalam jiwa orang yang masih hidup? Bagaimana mungkin dalam satu tubuh terdapat berbagai macam jiwa? Saya sendiri belum bisa memastikan hal tersebut, namun saya punya teori yang menarik dan teorinya seperti ini:

Saya meyakini bahwa dalam satu tubuh hanya bisa terdapat satu jiwa, tidak akan lebih. Alasan saya, jika dalam tubuh seseorang itu memiliki lebih dari 1 jiwa, maka akan terdapat ketidakteraturan dalam pengambilan keputusan atau pun pengendalian anggota tubuh. Jadi dalam kasus yang dihadapi Cara, ketika sang pasien berganti alter ego, artinya ada jiwa alter ego sebelumnya harus keluar, kemudian alter ego yang baru masuk ke dalam tubuh sang pasien.

Lho bagaimana bisa jiwa bisa keluar masuk seenaknya? Saya yakin bisa. Sampai saat ini belum ada ilmu pengetahuan modern yang dapat melihat jiwa secara utuh dan bertempat dimana. Para peneliti pun hanya meyakini bahwa jiwa ada namun tak terlihat. Lagi pula dalam beberapa kasus ada beberapa orang yang dapat melepaskan jiwanya tanpa paksaan dengan kesadaran dia sendiri, seperti Out of Body Experience (OBE). Di Indonesia kita sebut “Meraga Sukma”.

Kalau udah berbicara seperti ini, takarannya sudah mencakup metafisis. Menjelaskan kepada orang yang hanya berkutat kepada apa yang dia lihat saja baru percaya, sama saja buang-buang waktu. Seperti yang tadi dijelaskan diatas, tidak semua ilmu pengetahuan itu dapat menjelaskan segala hal. Banyak di sekitar kita kejadian-kejadian yang belum dapat dijelaskan. Kalau pun berusaha dijelaskan, itu pun masih sekedar hipotesa-hipotesa yang belum jelas faktanya. Dalam kasus Cara, bagaimana mungkin sang dukun dapat mencabut dan mengembalikan jiwa pasien yang dioperasinya dengan semaunya dan begitu mudahnya. Namun itulah yang terjadi. Percaya atau tidak, apa yang dilihatnya benar-benar terjadi.

Akhir tulisan saya tidak hanya ingin mengingatkan pembaca untuk selalu membuka mata, hati, telinga, namun juga membuka pikiran kita terhadap segala segala kemungkinan-kemungkinan baru yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Mungkin saja kemungkinan-kemungkinan itu akan membuat sudut pandang yang kita yakini selama ini rontok seketika.  Bukan karena kita salah meyakini sesuatu yang salah, tetapi karena kekurangtahuan kitalah dan keengganan kitalah mencari hal-hal baru yang menjadi penyebab kebuntuan berpikira kita sendiri.

Iklan

7 comments

  1. saya sangat terkesan dengan tulisan anda, saya percaya bahwa setiap mahluk hidup memiliki jiwa.namun sering kita dengar di negara barat bahwa banyak manusia yang tidak punya jiwa… sungguh kehidupan yang sangat menyedihkan kalo manusia sudah tidak memiliki jiwa.

    • wah terima kasih mbak atas pujiannya…
      memang sekarang ini banyak manusia yang kehilangan jiwanya,, tidak hanya di barat tetapi juga di Indonesia….. bahkan yang lebih parahnya, terkadang yang punya jiwa pun seolah tak memilikinya…

      • apa maksudnya “banyak manusia yang kehilangan jiwanya”? berarti dalam tubuh itu kosong tak berjiwa dong?

  2. buat mbak dara…

    banyak manusia yg kehilangan jiwanya maksudnya adalah tidak dipergunakan jiwanya secara semestinya,..

    namun saya juga sempat berpikir,, ,apakah iya jiwa itu harus berada dalam tubuh ataukah tidak? hal ini sendiri dari sisi ilmu pengetahuan masih belum ada yg memahaminya… meskipun kalo kita analogikan dengan tubuh astral, badan halus yang keluar dari tubuh fisik, bisa dikatakan bahwa jiwa ada di dalam tubuh. Namun meski pun badan halus itu sudah keluar, tetap saja masih ada keterikatan dengan tubuh fisik sang bersangkutan.

    wallahu alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s