Ilusi Avatar Kepribadian

Patung Dewa Wisnu

Waktu menunjukan pukul 20.35. Saatnya bagiku untuk beranjak pulang. Sudah cukup bagi diriku terikat oleh belenggu kantor. Saatnya aku menikmati kebebasan. Ke alam bebas, kalau perlu ke alam imajiner yang dapat kita ciptakan semaunya sebelum esok kembali terbelenggu. Tetapi apakah kita benar-benar telah terbebas?

Ya, bisa aku katakan aku terbebas dari belenggu kantor. Aku tidak ragu itu. Namun tidak sepenuhnya bebas dari belenggu-belenggu lainnya. Jaring-jaring serat optik yang sempat terlepas kembali membelenggu diriku. Ya, saatnya aku menyalakan Blackberry-ku. Diriku mulai terkoneksi kembali.

(kloneng)….. Ku lihat tampilan blackberry messenger ku… Satu pesan masuk

Tersenyum aku dibuatnya. (tak tik tuk tak tik tuk) secepat juga aku membalasnya. Di sana pun melakukan hal yang sama. Tak berapa lama aku kembali mendapatkan balasan.Keasyikan balas-membalas membuat diriku terlupa bahwa sedari pulang kantor masih ada sosok lain di sampingku. Temanku membisu di pojokan dan membiarkan diriku asyik dengan gadget-ku itu. Ya Tuhan bagaimana aku lupa. Ku merasa bersalah dan menyesal tindakanku itu. Dia hanya tersenyum dan memaklumi apa yang kulakukan. Herannya sampai sekarang aku bingung, kenapa dia tidak membeli blackberry?

Namun dengan santai dan sarkastik dia menjawab “Buat apa beli, kalau di kantor sudah ada internet. Apa hidup kita ini cuma terkoneksi internet saja?. Dari pagi hingga tidur kita terkoneksi. Kapan kita meluangkan waktu untuk diri kita sendiri? kapan kita bisa menenangkan pikiran kita sendiri?”

Begitulah jawabannya. Aku hanya mengiyakan saja dan tak ambil pusing jawabannya. Namun setelah berpisah, kembali pikiranku menerawang tak tentu arah dan mencerna apa yang dia katakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa dalam beberapa detik melupakan teman seperjalananku? Harusnya tidak seperti itu. Di jaman di mana jarak tidak menjadi penting lagi, harusnya kita semakin mahir berkomunikasi? Apakah karena kita semakin mudah memiliki teman baru sampai-sampai teman lama dapat kita “buang” dengan mudahnya?

Kita semakin terasing dalam dunia nyata, namun di sisi lain kita semakin populer dalam dunia maya. Apakah dunia fisik kini tidak menjadi penting lagi, hingga kita lebih mementingkan dunia maya dibandingkan fisik? Pada akhirnya terciptalah avatar-avatar kepribadian yang katanya mencerminkan kepribadian pengguna. Jika sebelumnya kita tidak sebebas mengekpresikan diri dalam dunia fisik, maka hal itu tidak berlaku di dunia maya. Kita bisa mengekspresikan apa pun yang kita inginkan. Siapa pun bisa menjadi apa yang dia mau. Padahal aku sendiri tahu, apa yang aku ciptakan tidak sepenuhnya merupakan representasi diriku sebenarnya dalam dunia nyata. Itu hanyalah sebuah kepribadian imajiner yang aku ciptakan dan tidak ada sangkut pautnya dengan kepribadian asliku.

Kalau sudah begitu, bagaimana? Apakah tidak akan terjadi konflik kepribadian jika ternyata kita semakin larut dalam avatar kepribadian kita yang baru? Pada akhirnya bagaimana kita tahu mana kepribadian kita yang asli atau bukan? Bukankah itu semua adalah hasil dari kreasi kita sendiri? Baik avatar kita atau diri kita sendiri semuanya adalah diri kita? Seandainya antara kita dengan avatar yang kita ciptakan adalah diri kita, harusnya kita bisa menjadi avatar kita di dunia nyata. Tetapi apa bisa begitu mudahnya kita melakukan itu? Semuanya kembali ke masing-masing diri kita.

Aku kembali terhenyak akan pertanyaan-pertanyaan itu. Jati diriku kini mulai terusik oleh avatar jadi-jadian yang kuciptakan sendiri. Menilai diriku yang turut larut dalam dunia maya terkadang semakin menjauhkanku kepada teman-temanku dalam dunia nyata. Aku sering kali memilih teman dunia maya dan begitu gampangnya menyatakan perasaan atau sesuatu kepada mereka tanpa pembatas lagi. Seolah-olah aku seratus persen percaya begitu saja. Padahal siapa mereka? Apa hebatnya mereka dibandingkan teman-teman yang telah aku miliki selama ini? Kenapa kita begitu mudahnya percaya kepada orang baru dan tidak kepada teman dunia nyata kita? Apakah ada yang salah? Mengapa mereka bisa begitu penting dibandingkan teman-teman nyata kita? Sehingga kita lebih asik untuk menatap layar mini ponsel walau pun teman dunia nyata kita berada di dekat kita?

Pertanyaan-pertanyaan klise yang tak kunjung habis dipertanyakan. Sebenarnya aku sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ini hanyalah sebuah renungan dari orang yang tidak begitu mengerti kenapa semuanya dapat terjadi. Kulihat jam di tanganku. Waktu menunjukan pukul 22.12. Ternyata tanpa tersadar, aku kini telah berada di depan pintu rumah. Keheningan mulai memasuki alam bawah sadarku. Mungkin saatnya aku beristirahat dan terbuai dalam lelap dan menyonsong hari esok yang lebih baik lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s