Berkeliling Jawa Timur (part 1)

Persawahan daerah Malang-Kediri

Mungkin tiada hari yang dinanti-nantikan selain hari ketika saya bertolak dari bandara Soekarno Hatta menuju bandara Abdul Rachman Saleh pada 30 Juni 2011 . Walau saya (Indra) dan kolega saya, Maria Ulva (Maul)  ditugaskan keliling Jawa Timur melakukan survey, namun bagi saya pribadi perjalanan ini bukan sekedar tugas, melainkan relaksasi dari rutinitas kantor yang monoton. Saya sendiri tidak mengetahui seluk beluk mengenai Jawa Timur, apalagi menginjakan kaki di daerah itu sebelumnya.

Namun lain halnya dengan Maul. Baginya, beberapa kota yang kami tuju sudah tidak asing lagi. Malang, contohnya. Telah sering baginya menginjakan kakinya di daerah itu. Kediri, kota tujuan berikutnya, merupakan tempat pendidikan SMA-nya. Berbekal pengetahuan kedua daerah itu, diharapkan survey yang kami lakukan di sana akan lebih cepat selesai. Selain itu, bahasa Jawa yang dikuasainya akan menimbulkan kedekatan secara personal antara Maul, selaku surveyor, dan para responden yang diwawancarainya.

Namun malang nian bagi kami berdua. Baru saja menampakan kaki di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, email baru dari Jakarta kami terima. Isinya tak lain adanya perubahan daerah survey. Jika daerah survey sebelumnya adalah Malang, Kediri, Lamongan, Sidoarjo dan Surabaya, maka dengan adanya email tersebut Lamongan diganti dengan Banyuwangi. Seketika kami berdua kaget. Jika memang Banyuwangi menjadi daerah survey, kami tidak mungkin bertolak ke Malang, melainkan ke Surabaya karena letaknya lebih dekat ke Banyuwangi. Namun apa lacur, telah sampainya di Malang, mau tidak mau kami harus berbesar hati dan merubah rencana perjalanan yang sebelumnya telah kami susun.

Menunggu taxi datang di depan bandara Abdul Rachman Saleh Malang

Bagi saya pribadi, udara dingin yang terasa di kulit mampu mengatasi perubahan rencana itu. Lagi pula pada hari pertama kami bersepakat untuk meluangkan waktu di daerah Malang dan sekitarnya dengan berjalan-jalan dan tidak melakukan survey terlebih dahulu. Bagi kami, selain kondisi fisik, kondisi mental pun menjadi perhatian. Agar senyuman Kami dapat lepas dan pekerjaan tidak menjadi beban akan lebih baik bagi kami untuk merelaksasikan otak kami setelah beberapa hari sebelumnya di Jakarta banyak pekerjaan-pekerjaan deadline yang menuntut kami untuk segera menyelesaikannya.

Udara dingin yang menyergap dapat benar-benar Kami rasakan. Meski tidak sedingin kawasan Ciwidey, Bandung, dinginnya udara Malang, khususnya malam hari, dapat benar-benar terasa ketika kami keluar dari penginapan. Bahkan AC di salah satu pusat perbelanjaan masih kalah dingin dibandingkan udara luar Malang. Saya tersadar ketika baru saja selesai makan malam di salah satu pusat perbelanjaan daerah itu.

Berfoto di alun-alun kota Malang

Hal lain yang menarik dari Malang adalah murahnya makanan di daerah itu. Bagi yang senang wisata kuliner, Malang bisa menjadi tujuan wisata selanjutnya. Sebagai perbandingan murahnya harga makanan di daerah itu, saya ambilkan contoh masakan Ayam Goreng Madu. Jika di Jakarta satu porsi makanan itu dijual dengan harga Rp11.000, namun di Malang hanya dihargai Rp7.000 saja. Murah kan?

Kendati begitu, survey yang kami lakukan bisa dibilang susah-susah gampang, khususnya bagi saya. Logat Jakarta yang kental dan terlihat pembawaan yang berbeda dengan orang-orang sekitar pada umumnya, mudah sekali bagi saya dikenali. Hal ini tidak berlaku bagi Maul. Selain fasih bahasa Jawa, dia pun hafal mengenai seluk beluk Malang, namun Maul belum pernah melakukan survey sama sekali. Berkebalikan bagi saya. Sebelumnya pernah melakukan survey seperti ini, namun kendalanya saya tidak mengerti bahasa Jawa.

Mengingat kami berdua memiliki kelebihan dan kekurangan, maka akan lebih baik bagi kami untuk saling bertukar informasi dan menentukan bagaimana cara yang paling baik mendekati responden. Untuk mengetahui apakah tindakan kami sudah tepat atau belum, satu-satunya cara adalah melakukan trial and error dalam mendekati responden. Bagaimana mereka tidak curiga dan mau membantu kami. Faktor-faktor inilah yang menjadi perhatian awal kami.

Bakmi ayam mie hijau

Beragam profesi dan usia kami dekati. Dari tukang bakso, satpam, wiraswasta, orang-orang yang sedang berteduh di mesjid menjadi sasaran kami. Dari mbak-mbak, mas-mas, orang tua juga turut menjadi sasaran kami. Beruntung bagi kami. Mereka menerima dengan lapang dada maksud survey yang kami lakukan, walau kami menemukan beberapa orang yang kurang pede untuk di wawancarai.

Umumnya kendala yang biasanya dihadapi adalah ketidaktahuan lokasi survey dan kendala-kendala teknis peralatan survey, seperti baterai kamera yang lupa di charge, recorder yang tak terpasang pada saat wawancara, serta banyaknya bahan survey yang harus ditanyakan. Terkait isi surveynya sendiri, banyak dari para responden yang menilai terlalu banyak serta kesulitan mereka mencerna istilah-istilah akademis (seperti emosional, spiritual). Namun selain hal diatas, semuanya dapat berjalan lancar dan kami dapat berlanjut ke kota berikutnya, Kediri. Selain itu, agar mempercepat pengerjaan, Maul menelepon temannya agar berpartisipasi sebagai responden. Mengingat keterbatasan dana, kami hanya sanggup mengajak mereka makan bareng saja dan sebuah ucapan terima kasih.

Porsi pesanan nasi goreng untuk 1 Orang

Namun sebelum ke kota berikutnya, kami menyempatkan diri makan malam bertempat di Nasi Goreng Pak Dji yang tak jauh dari stasiun kereta api Malang. Makanannya murah. Nasi goreng hanya Rp20.000, sayuran cap-cay nya pun Rp20.000. Selain itu kami pun memesan ayam goreng tepung seharga Rp20.000. Murah kan? Bagaimana tidak murah, untuk nasi goreng seharga Rp20.000, porsinya untuk 5 orang, tetapi dijadikan satu di sebuah piring besar. Begitu pun 2 pesanan lainnya. Porsi yang besar mengharuskan chef harus naik di atas bangku panjang untuk mengolah masakan. Untuk wajannya sendiri tak kalah besarnya, berhubung setiap pesanan order pasti jumbo-jumbo besarnya. Kami duduk berhadapan di depan meja panjang dengan kiri-kanan kursi. Kami kaget ketika pertama kali disajikan. Porsinya besar sekali bagi ukuran makanan manusia normal. Sampai kami kekenyangan pun, makanan masih tersisa. Untungnya makanan yang telah dipesan dapat dibungkus dan dibawa oleh temannya Maul untuk dibagikan kepada teman-teman sekost-nya.

Sebenarnya bagi saya pribadi, masih kurang cukup hanya wisata kuliner. Akan lebih baik lagi jika menyempatkan diri sekaligus wisata alam di Malang, namun apa daya karena keterbatasan waktu kami harus berangkat menuku ke Kediri. Untungnya perjalanan menuju Kediri mengharuskan kami melewati kota wisata Batu Malang. Berhubung pada saat perjalanan berlangsung adalah hari Sabtu malam, maka bisa ditebak kami terjebak macet dari Malang menuju kota wisata Batu Malang. Namun setidaknya hal tersebut dapat mengatasi kekecewaan kami karena tak sempat berwisata.

Mesjid Agung Kediri di depan Alun-alun Kediri

Hal menarik perhatian bagi Saya adalah alun-alun kota Batu Malang. Jangankan alun-alun, jalan tanjakan menuju alun-alun pun sudah ramai di kiri-kanan jalan berjejer tempat makanan atau pun tempat jualan oleh-oleh khas Batu Malang. Ketika kami melewati alun-alun, kelap kelip lampu-lampu kecil mewarnai alun-alun seperti kembang api yang bertebaran di angkasa. Patung sapi, patung wortel, patung strawbery, kicir raksasa dan lain sebagainya pun dibuat sama. Tidak ada penerangan lampu putih terang, yang ada hanya kelap kelip lampu kecil. Meski terlihat redup, namun kami masih bisa melihat jalan dan setiap orang yang lalu lalang. Beruntung bagi kami melewati alun-alun itu pada malam hari. Coba bila siang hari, mungkin keindahannya tidak sama seperti kami melihatnya pada malam hari.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dan alun-alun pun menguap seperti titik kecil dari kejauhan. Kini kami harus melalui jalanan berkelok-kelok di sepanjang sisi gunung menuju Kediri. Kelokan-kelokan itu membawa memori jangka panjang saya terusik. Bagaimana tidak, jalanan kelak-kelok itu persis seperti jalanan menuju Cibodas, Bogor dari Kota Bogor. Hanya bedanya, jalanan ini lebih panjang, dan di sisi kiri-kanan di dominasi pepohonan yang menjulang tinggi.

Tanda Jalan Simpang Lima Gumul Kediri

Sesampainya di kediri terlihat jalanan kota sudah mulai lengang, padahal itu masih jam 9 malam. Semilir angin malam mulai menusuk kulit. Satu-satunya hal yang ingin kami lakukan adalah mengisi perut yang telah keroncongan dengan diselingi hirupan teh manis hangat atau pun kopi panas. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di emperan toko dengan memarkirkan mobil terlebih dahulu. Terlihat banyak mbak-mbak yang berjualan nasi pecel di sepanjang jalan itu. Menunggu tamu yang datang dengan sesekali tangannya mengayuh sayur di panci agar tetap hangat. Kami pun memutuskan untuk makan pecel sambil melepas lelah berpergian di daerah Malang sejak pagi hari. Rasa pecel berisi sayur-mayur dan bumbu kacang dilibas habis oleh kami. Bukan kenapa-kenapa. Selain rasanya cukup menyegarkan, kami pun sebenarnya telahkelaparan sejak sore hari di Malang. Sambil mengaso sebentar dan berbicara ngalor ngidul mengenai strategi tim selanjutnya menyasar ketiga kecamatan di kota itu, kami pun tak lupa bertanya ke arah mana hotel yang kami tuju. Untung hotel yang kami tuju tak jauh dari tempat kami makan. Selesai check in, rasanya tidak ada yang paling menggugah hati selain tertidur lelap dan hanyut dalam buaian mimpi.

Monumen Simpang Lima Gumul Kediri

Setiap kota memiliki adat istiadat yang berbeda serta bagaimana masyarakat kota tersebut berinteraksi dengan yang lainnya. Karenanya Kediri berbeda dengan Malang. Udara Kediri yang panas bertolak belakang dengan udara Malang yang sejuk. Jika Malang cukup ramai, maka pada Minggu pagi di Kediri jalanan terlihat lengang. Sepertinya banyak masyarakat Kediri yang lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah melepas lelah dibandingkan berkeliling pada hari libur. Kendati demikian, suasana yang berbeda terjadi pada Senin pagi. Kediri yang pagi sebelumnya lengang, saat itu terlihat ramai, terlihat dari banyaknya jumlah kendaraan yang berseliweran di depan hotel.

Tampak dari kejauhan Monumen Gumul

Strategi yang kami lakukan tak jauh berbeda dengan kota Malang. Kami head to head langsung ke responden. Memperkenalkan diri dan mohon bantuannya. Awalnya mereka ragu, namun setelah dijelaskan dengan menebar senyuman yang paling manis, akhirnya mereka luruh juga dan  bersedia menjadi responden kami. Pada dasarnya mereka ingin membantu, namun setiap orang memiliki gaya yang berbeda-beda. Ada yang ingin disanjung, ada yang ingin mengisi sendiri, ada yang curcol, ada yang sambil bercanda-canda dan masih banyak lagi lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu di sini. Satu hal yang pasti, banyaknya perbedaan pendekatan yang harus kami lakukan kepada responden justru memberikan nilai tambah positif bagi diri kami selaku surveyor. Hal tersebut secara tidak langsung melatih interpersonal skillyang kami miliki dengan berbicara kepada mereka tanpa menyinggung perasaannya dan dapat sefleksibel mungkin kami menempatkan diri. Syukur dalam 2 hari kami telah mendapatkan semua responden yang ditargetkan. Kini mulailah kami bertolak ke Surabaya, kota ke-3 tujuan kami selanjutnya dari 5 kota yang direncanakan.

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s