Kita harus Narsis!

Narsis di tangkuban perahu

Namun dalam pemikiran saya pribadi — karena saya suka berpikir yang tidak jelas — narsis itu tidak selalu identik dengan rendahnya harga diri. Justru dengan narsisnya seseorang secara tidak sadar dia sebenarnya sedang menanamkan hal-hal positif berupa kata-kata ke alam bawah sadarnya. Di tengah banyaknya berita negatif di dunia ini, kata-kata positif yang membangun menurut saya itu penting dan itu merupakan sebuah keharusan. Ibarat gelas kosong yang harus terisi air. Seseorang bisa mengisinya dengan air comberan atau pun dengan air mineral. Kita jelas menginginkan air mineral yang mengisi gelas itu, selain bersih, kita pun bisa meminumnya untuk kesehatan. Namun bagaimana seandainya orang itu mengisi gelas tersebut dengan air comberan. Parahnya lagi dia sendiri tidak mengetahui bahwa diri sendirinyalah secara tidak sadar mengisi gelas itu dengan air comberan.

Inilah yang terjadi sebenarnya dengan kondisi pikiran kita. Otak kita lebih cenderung ingin diisi dengan kata-kata negatif. Ini pun seringnya tanpa kita sadari. Makanya jangan heran, jika ada seseorang yang selalu melihat segala hal dari sisi negatif terus. Parahnya itu menjadi sebuah kebiasaan. Kenapa dia bisa seperti itu? Sebab dia tidak pernah diajarkan bagaimana mengisi otaknya dengan kata-kata positif. Apalagi melatih dirinya, mengetahui saja tidak pernah. Akibatnya sudah bisa ditebak. Tanpa disadarinya, jika berkomentar tentang sesuatu atau berpikir mengenai sesuatu, dia cenderung melihatnya dari sisi negatifnya melulu karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan hingga pada akhirnya itu wajar dia lakukan.

Itu pun bisa terjadi kepada diri kita sendiri jika kita terlalu meninabobokan pikiran-pikiran negatif dibandingakan pikiran-pikiran positif. Coba saja perhatikan, apa yang kalian lakukan ketika sampai di kantor? Mungkin sebagian orang akan mengecek email, mungkin juga lainnya mengecek jaringan sosialnya atau juga berita-berita terkini yang ada di surat kabar atau halaman situs. Jika hal pertama yang kita lakukan adalah melihat berita, maka sama saja kita sedikit demi sedikit membunuh otak kita sendiri.

Tanpa disadari kita membiarkan berita-berita negatif masuk ke dalam otak. Berita-berita perkosaan, pembunuhan, pencurian, perampokan dan berita-berita negatif lainnya sudah menjadi santapan otak kita sehari-hari. Parahnya lagi ini dilakukan pada pagi hari, ketika harusnya kita berpikiran positif dahulu dan  mengawalinya dengan sejuta senyuman. Tetapi justru ini tidak kita lakukan. Kita lebih memilih memasukan berita negatif ke dalam otak kita. Akibatnya pada hari itu kita akan lebih gampang marah, mudah tersinggung dan lebih emosional.

Saya memiliki teman wartawan dan bertanya kepadanya, mengapa ada kecendrungan berita di koran itu lebih banyak berita negatif dibandingkan berita positif? Jawabannya mudah: “kalau berita positif buat apa ditulis, justru karena adanya masalah itu, maka layak jadi berita”. Tidak ada yang salah dari jawaban teman saya. Sebagai wartawan, tugasnyalah menjadi pihak oposisi agar kita melek informasi akan lingkungan kita. Justru kita bersyukur mereka mau menuliskannya hingga membuat diri kita tercerahkan. Namun satu hal yang pasti, berita-berita yang mereka tulis lebih cenderung berita-berita yang berisikan kata-kata negatif.

Permasalahannya sebenarnya bukan pada mereka, melainkan kepada diri kita pribadi. Jika kita telah mengetahui hal itu (berita-berita negatif) apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Menolaknya dan membiarkannya begitu saja tanpa perlu kita baca? Tentu ini bukan tindakan yang baik. Kita sendiri yang merugi karena tertinggal informasi baru. Bisa saja dari permasalahan-permasalahan yang dipaparkan dari berita tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi diri kita. Jadi jelas keputusan tersebut bukan merupakan pilihan yang baik.

Alangkah baiknya, jika berita-berita negatif atau kata-kata negatif yang telah masuk ke dalam otak kita itu kita desak keluar dengan berita-berita positif atau kata-kata positif. Ini sesuatu yang mudah dan tidak perlu keluar biaya. Cukup hanya membiasakan diri bersikap narsis. Narsis yang saya maksud adalah narsis positif tanpa merendahkan orang lain dan bersikap sombong, tetapi lebih memfokuskan kepada pengembangan diri pribadi kita sendiri. Apa kalian telah melupakan bahwa saat ini kita telah memiliki pekerjaan sementara masih banyak orang lain belum memiliki? Bukankah selama ini kita dapat menyelesaikan pendidikan kita, meski orang lain harus bersusah payah menyelesaikannya? Bukankah kita ini pada mulanya merupakan salah satu sel dari jutaan sel yang berjuang untuk keluar dari rahim ibu kita? Dengan segala banyaknya nilai-nilai positif yang dapat kita ambil mengenai diri kita, harusnya kita bisa bersikap narsis. Jadi mengapa kita tidak boleh narsis? Toh narsis itu dapat mengingatkan diri kita bahwa kita mampu dan bisa sukses seperti hari-hari lalu yang pernah kita lalui dengan kesuksesan.

Memang menjadi narsis itu akan sulit pada awalnya, namun jika kita melakukannya dengan konsisten kata-kata negatif yang berada di dalam otak kita sedikit demi sedikit akan terdesak. Bagaimana jika ditanamkan terus-menerus kata-kata positif, detik demi detik, jam demi jam selama sehari, setahun, dan bertahun-tahun hingga ajal menjemput, kira-kira sekarang bagaimana kondisinya (kata-kata negatif)? Pastinya akan terkikis sedikit demi sedikit. Kita akan melihat segala hal dalam lingkup positif. Kita akan menjadi orang-orang yang memberikan solusi bagi permasalahan orang lain, bukan menjadi masalah mereka. Dan saya yakin kita akan lebih berbahagia dalam melangkah menatap kehidupan yang lebih cerah kedepannya. Itu semua karena apa? Karena kita selalu menarsiskan diri kita dengan terus menanamkan kata-kata positif dalam pikiran kita. Jadi sebagai penutup tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan: Jangan Lupa Narsis yach!

Iklan

2 comments

  1. ya tp narsis yg positif bkn yg negatif, yg bisa memotivasi diri & membuat orng lain jg ikut termotivasi , dan bukan narsis yg negatif yg membuat orng akan menilai berbeda akan hal tsb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s