Akal VS IQ, EQ dan SQ

Pernah tahu konsep IQ, EQ dan SQ? Banyak orang yang memahami ketiganya harus dilakukan secara parsial saja tanpa perlu yang lainnya. Jelas ini kesalahan besar. Apalagi yang lebih parahnya ada yang menganggap bahwa IQ itu adalah akal yang membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya. Tahukah bahwa diantara akal, IQ, EQ dan SQ memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan dan satu sama lain tak terpisahkan. Untuk lebih jelasnya, saya akan mulai pembahasan terlebih dahulu mengenai IQ lalu sedikit demi sedikit akan beranjak kepada yang lainnya untuk melihat apa yang menyebabkan orang bahagia dan sukses. Mungkin bagi sebagian teman-teman, sudah paham akan konsep ini, khususnya keterkaitan antara IQ, EQ, dan SQ namun mungkin belum paham kaitannya dengan akal. Jadi harap bersabar dahulu membaca tulisan ini.

IQ lebih bersifat intelektual. Jika teman-teman memiliki prestasi nilai tinggi di sekolahnya, bisa dipastikan bahwa teman-teman memiliki IQ yang tinggi. Untuk orang yang ber-IQ normal umumnya berkisar antara 90-120. Di atas 120 dikatakan orang itu memiliki IQ di atas rata-rata. Lalu Einstein itu berapa IQ-nya? Dari beberapa rujukan artikel, banyak yang menganggap IQ Einstein di atas 200. Bisa dibayangkan betapa pintarnya ia. Fisikawan ternama Stephen Hawking sendiri hanya memiliki IQ 160. Jauh di bawah Einstein. Begitu cerdasnya dan populernya Einsten hingga banyak umat manusia bila melihat seseorang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, maka orang tersebut umumnya dijuluki manusia berotak Einstein.

Keuntungan bagi orang-orang dengan IQ tinggi adalah mudah sekali bagi mereka menyerap ilmu baru. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan ranah logika. Akan sangat mudah sekali bagi mereka menganalisa suatu hal, sementara bagi orang lain butuh waktu yang cukup lama. Namun tidak ada gading yang tak retak, tingginya IQ seseorang ternyata berbanding terbalik dengan EQ yang dimilikinya. Tapi apakah memang seperti itu. harusnya IQ dan EQ itu saling melengkapi. Apakah mungkin jika IQ seseorang yang tinggi, lalu EQ-nya rendah karena porsinya sebagian besar telah diambil alih oleh IQ? Hal ini saya rasa tidak mungkin. Memang ada kecenderungan IQ seseorang yang tinggi akan memiliki tingkat empati yang lebih kecil dibandingkan orang ber-IQ rendah, namun hal itu tidak berlaku mutlak. Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya kita melihat ranah EQ terlebih dahulu.

EQ mencerminkan tingkat kestabilan emosi seseorang. Emosi disini bukan berarti orang yang mudah marah, namun lebih mencerminkan perasaan yang dialami oleh orang itu. Apakah orang itu bahagia, senang, takut, marah, terharu, dlsb? Perasaan-perasaan itulah yang di ukur oleh pakar EQ. Semakin seseorang dapat mengontrol tingkat perasaan yang dialaminya tanpa lepas kendali, maka dipastikan ia memiliki nilai EQ yang tinggi.

Kembali dengan pembahasan IQ dan EQ, menurut saya pribadi keduanya haruslah saling melengkapi. Tidak boleh mendewakan salah satunya, seperti pendidikan kita sekarang ini yang lebih mengedepankan peningkatan IQ, sementara EQ sendiri terabaikan. Kasus yang paling anyar ketika tulisan ini adalah kasus Ibu Siami. Tetapi disini saya bukan membicarakan Ibu Siami, melainkan teman sebaya anaknya. Ketika kasus itu semakin menjadi-jadi, tahu tanggapan mereka (teman-teman sekolahan anaknya) atas tindakan kecurangan yang mereka lakukan disertai dorongan berbuat curang dari oknum pendidik di sekolah itu? Jawabannya: “Kami tidak melakukan kesalahan, itu semua dilakukan untuk kepentingan bersama”. Dari sini saja kita langsung heran, bisa muncul jawaban seperti itu. Mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan itu salah, yang mereka ketahui justru mereka melakukannya untuk kepentingan bersama. Di sini saya kembali terhenyak akan jawaban itu, dan ini pula yang membuat saya tergugah membuat tulisan ini juga.

Dari dahulu sampai sekarang, bahkan ketika saya masih bersekolah, sistem pendidikan kita ini memang harus dibenahi. Memang ada sesuatu yang salah. Saya sendiri bingung, kenapa hasil jerih payah kita belajar selama bertahun-tahun pada akhirnya ditentukan oleh Ujian Akhir Nasional yang berlangsung selama seminggu saja? Seolah-olah proses menjadi tidak penting, yang terpenting adalah nilai akhir. Ini juga sebenarnya penyebab kecurangan-kecurangan dan main mata antar pengawas ujian dengan pihak sekolah. Jadi jika memang ingin kecurangan tidak terjadi, selain pengawasan dioptimalkan, sistem pendidikan kita juga harus dirubah, tidak hanya menekankan IQ tetapi juga melihat aspek EQ. Kenapa anak-anak itu bisa menganggap bahwa perbuatan curang adalah kebaikan? Dengan hanya penekanan kepada Aspek IQ saja dalam pembelajaran, saya tidak heran jika terjadi seperti kasus di atas.

EQ itu sendiri bisa dipelajari layaknya IQ. Dengan seseorang dibiasakan mengontrol tingkat emosinya, secara otomatis hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan. Pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan yang dijalani itu akan memcetak karakter positif dalam diri seseorang. Namun bagi sebagian orang, pengetahuan EQ yang tinggi tidak secara otomatis membuat orang itu menjadi lebih baik. Justru bisa berakibat sebaliknya. Karena dia memahami pengontrolan emosi dirinya, maka dia pun bisa mengontrol emosi orang lain. Coba anda pikir, apakah Adolf Hitler itu orang yang bodoh (IQ rendah)? atau dia juga orang yang emosional (EQ rendah)? Saya pribadi melihatnya bahwa Hitler memiliki skor tinggi pada keduanya. Bagaimana mungkin dia bisa memanipulasi bangsa Jerman bahwa mereka adalah bangsa pilihan di atas bangsa lain jika dia tidak memiliki pengetahuan (IQ) dan mengontrol emosi masyarakat Jerman (EQ)? Jelas dia memiliki itu semua.

Meski begitu, apa yang diusahakan Hitler akhirnya gagal. Banyak pihak yang tidak menyukai aksinya. Bahkan negara-negara lain akhirnya bersepakat menyerang Jerman. Jerman pun pada akhirnya kalah, dengan kematian bunuh dirinya Hitler, setelah basis pertahanan perang Jerman satu per satu dikalahkan oleh sekutu.

Dari sini bisa disimpulkan tingginya IQ dan EQ seseorang belum mampu menghantarkan kesuksesan. Kalau pun sukses, biasanya hanya sementara. Untuk itulah beberapa peneliti akhirnya melangkah lebih jauh lagi melihat hal apa yang membuat seseorang itu sukses? Akhirnya diketemukanlah konsep ketiga, yakni SQ.Tidak seperti IQ dan EQ yang lebih menekankan faktor manusianya, SQ justru menekankan faktor hubungan manusia dengan penciptanya. Jadi jika seseorang memiliki nilai SQ tinggi, dipastikan sukses akan datang dengan sendirinya. Kesuksesan disini bukan hanya secara materil saja, tetapi juga imateril (kebahagiaan).

Bukankah sering kita melihat walau seseorang itu telah memiliki kekayaan yang cukup banyak, namun sulit baginya merasakan kebahagiaan. Di sinilah peran EQ datang menjawab permasalahan itu. Apalah artinya kesuksesan tanpa kebahagiaan? Makanya jangan heran jika sekarang banyak orang belajar spiritualitas agar mereka menemukan kebahagiaan di dalamnya. Namun yang mesti diingat, jangan sampai pencarian spiritual atau peningkatan SQ akhirnya melupakan peningkatan IQ dan EQ karena menilai bahwa kebahagiaan akan datang dengan mendalami SQ saja. Lagi-lagi ini melihat dengan cara yang salah.

Tahukah teman-teman bahwa penggunaan ketiga aspek itulah disebut akal. Akal itu beda dengan logika. Sering juga kita mengatakan bahwa orang yang banyak akal adalah orang yang lebih mengerti. Memang itu salah satunya, tetapi hanya benar sebagian. Yang benar adalah akal itu memfungsikan IQ,EQ dan SQ secara bersamaan dan semaksimal mungkin. Tidak bisa hanya dua saja, atau satu saja. Seseorang yang berakal, pastilah dia orang yang ingin meningkatkan pengetahua dirinya dan lingkungannya. Pastilah juga dia orang yang dapat berempati kepada orang lain. Dan pasti jugalah dia orang yang mengetahui penciptanya dan yang patut disembah, Allah SWT.

Jika begitu, dimata letaknya akal? Sampai sekarang ilmu pengetahuan masih belum dapat memastikan dimana letaknya. IQ seperti yang kita ketahui bisa dilihat dari otak seseorang. EQ bisa kita lihat dari perasaan seseorang, dan itu letaknya ada di dalam hati. Sementara SQ sendiri terkait dengan hubungan kita kepada Allah itu sendiri yang dapat menerangi fungsi akal menjadi lebih maksimal lagi. Dari ketiga hal tersebut dapat disimpulkan bahwa akal itu imateril, seperti nyawa manusia yang tidak terlihat wujudnya. Kalau memang tidak terlihat wujudnya bagaimana mungkin kita mengetahui letak pastinya? Jadi apakah teman-teman telah berakal? Hanya teman-temanlah yang tahu jawabannya sendiri. 😀

Iklan

6 comments

  1. […] Saya yakin orang yang tinggi tingkatan spiritualnya, maka dia akan lebih wise memandang orang lain yang berbeda dengan dirinya. Mukanya akan bersinar, tidak ada kemurungan dalam raut wajahnya. Mudah menebar senyum seperti Rasulullah. Menjalani hidup dengan lapang dada, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Kenapa hal itu bisa terjadi? Ingat tulisan saya yang berjudul Akal VS IQ, EQ dan SQ. […]

  2. […] Dalam setiap seminar pengembangan kepribadian sang motivator pasti berusaha membangkitkan optimisme dalam diri kita, baik itu menjalani hidup atau pun melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Biasanya mereka akan memberitahukan segala teknik ampuh bagaimana menumbuhkan jiwa optimisme dalam diri kita. Setiap motivator memiliki keunikan sendiri dalam pendekatan membimbing peserta yang tidak ditawarkan oleh motivator lainnya. Saya pribadi cenderung membagi pendekatan mereka menjadi tiga, yakni: penekanan kepada IQ (Inteligent Quotient) berupa pengembangan soft skill, penekanan kepada EQ (Emotional Quotient) dan terakhir pendekatan kepada SQ(Spiritual Quotient). Perbedaan mengenai ketiganya dibahas dalam tulisan saya sebelumnya Akal VS IQ, EQ dan SQ. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s