Catatan Pribadi part 2 : Alquran & Hadist yang Saya Ketahui

Perkenalan dengan buku A. Hasan sebenarnya semakin membuat diri saya kebingungan, khususnya mengenai metodologi hadist. Belum lagi penafsiran yang berbeda. Namun dari buku tersebut juga saya mengetahui bahwa ada yang disebut Imam 4 Mazhab, terdiri dari Maliki, Hanbali, Syafii dan Hanafi. Di Indonesia sendiri mayoritas pemeluk agama islam lebih bermazhab Syafii. Sementara penilaian pribadi saya, terlepas bahwa Persis itu tidak bermazhab, namun kecenderungan metodologinya mirip dengan Mazhab Maliki. Kebermazhaban ini pun tidaklah kaku, bisa saja ada perbedaan terhadap kesimpulan hukum islam yang dibuat antara imam mazhab dengan para ulama mazhab di kemudian hari setelah para imam tersebut wafat. Bagi saya, justru itu hukum sunatullah, apa yang menjadi masalah kemudian hari itu tidak didapatkan ketika para imam itu masih ada, hingga akhirnya fatwa-fatwa yang didapat dahulu terbaharui disesuaikan dengan kondisi para ulama mazhab yang datang kemudian.

Pada akhirnya saya mempertanyakan, kenapa bisa ada 4 mazhab itu? Alquran satu, hadist yang beredar pun itu itu saja? Kembali saya mencari tahu lewat buku-buku bacaan lainnya. Akibat rasa penasaran yang begitu besar mengenai Islam, kadang ketika berada dalam toko buku, pasti bagian yang saya kunjungi pertama kali adalah sektor buku Islam. Apakah ada yang menarik pembahasannya ataukah ada yang bisa menjelaskan kebingungan saya. Untungnya beragamnya ilmuwan islam yang memiliki ghirah yang kuat untuk menyebarkan ilmu Islam, saya tidak menemui kesulitan sama sekali menemukan buku yang dicari. Jawaban terhadap pertanyaan di atas pada akhirnya saya temukan.

Ternyata perbedaan wilayah mereka menetap pun sudah membuat minimal satu perbedaan terhadap kesimpulan memahami sebuah hadist. Belum lagi perbedaan tingkat pengetahuan yang dimiliki para imam mazhab itu. Perbedaan yang paling mencolok adalah dari metodologi yang mereka gunakan. Ada yang lebih mengedepankan Alquran dalam penafsirannya. Jadi jika ada pertentangan antara hadist dengan Alquran atau ada isi hadist yang tidak ada dalam ayat Alquran, ulama tersebut lebih memilih tidak menggunakan hadist tersebut. Kalau pun menggunakannya, tingkatan yang dihasilkannya tidak sampai mengharamkan atau pun menghalalkan. Paling cuma makruh, mubah atau pun sunnah.

Ada juga ulama yang memilih, mengikuti apa adanya isi hadist secara harfiah. Bukankah rasulullah itu merupakan Alquran berjalan? Jadi segala tindakan yang dilakukan rasulullah sudah sesuai dengan Alquran. Dengan berprinsip terhadap kriteria itu, jika ditemukan isi hadist tidak ada padanannya dengan Alquran, maka fatwa yang timbul dari ulama mazhab adalah dengan menerima secara harfiah isi hadist itu. Jika ada pelarangan didalamnya, walaupun tidak ada ayat Alquran yang melarang, maka hukumnya menjadi terlarang. Contohnya, memakan makanan yang bertaring, bercakar dan hidup di dua alam. Bagi ulama mazhab yang pertama, hukumnya menjadi makruh, sementara bagi ulama mazhab kedua, fatwa yang timbul haram memakannya.

Itu jika saya melihat dari pembagian 4 ulama mazhab. Berbekal dari situ, pertanyaan saya selanjutnya? Bagaimana penggolongan hadist yang mereka gunakan? Bagaimana status hadistnya? apa mursal, mauquf, hasan, mutawatir, dlsb. Bagaimana kita tahu periwayatannya? Akhirnya kembali saya mencari buku-buku refrensi mengenai hal ini. Akhirnya saya temukan juga dari bagaimana ulama-ulama hadist mencari dan mengklasifikasikan hadist yang telah mereka ketahui. Berapa jumlah buku rujukan hadist yang jadi acuan bagi para ulama yang ingin mengeluarkan fatwa. Masih banyak hal lain sebenarnya yang bisa saya temukan, bahkan sampai keberatan-keberatan dan keraguan para orientalis mengenai metodologi pengklasifikasian hadist umat Islam.

Banyaknya pengetahuan yang saya dapatkan tentang hadist masih membingungkan. Apalagi jika ditambah dengan metode penafsiran Alquran. Ada yang menggunakan metode tahlili atau metode maudhu’i. Dalam metode tahlili, sang mufasir melakukan penafsiran dengan melihat secara berurutan konteks ayat yang dimaksud. Dengan kata lain, sang mufasir tidak melihat ayat yang dimaksud saja, tetapi melihat ayat sebelum dan sesudahnya dan melihat maksud runtutan ayat-ayat tersebut. Namun kelemahan metode ini dikarenakan pembahasannya masih secara umum, belum berlaku pembahasan-pembahasan khusus. Apalagi jika ayat tersebut berbicara mengenai kondisi zaman turunnya ayat, maka tidak bisa merepresentasikan permasalahan yang dihadapi umat islam sekarang. Karena adanya kelemahan itulah, muncul metode maudhu’i. Dalam metode ini sang mufasir lebih menekankan secara spesifik ayat yang dimaksud, lalu mencari ayat-ayat yang sama dalam surat lain di Alquran. Setelah itu menafsirkannya setelah sebelumnya melihat urut-urutan ayat-ayat yang turun serta penjelasan ayat yang dimaksud.

Akhirnya saya kebingungan yang pada awalnya besar, sedikit demi sedikit terkikis. Namun di sisi lain, keingintahuan yang lebih besar lagi akan Islam semakin mendorong saya untuk lebih mempelajari hal lainnya. Sampai pada akhirnya mengetahui tentang Sunni-Syiah dan pergolakannya, Sufi-Fiqh dan pergolakannya. Serta pemikiran-pemikiran dalam dunia Islam, seperti Jabariyah, Qadariyah, Asyiriah dimana Imam Al Ghazali sebagai salah satu ulamanya. Kalau dipikir-pikir, semakin mendalami Islam, semakin banyak yang belum saya ketahui tentang Islam itu sendiri. Ternyata Islam bukan hanya ritual belaka saja, tetapi mencakup segala aspek lainnya. Hal ini terbukti setelah Islam menemui kejayaannya pada dinasti Abbasiyah, dimana banyak pemikir-pemikir islam seperti Ar-razi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dan pemikir-pemikir lainnya yang menjadi kebanggaan umat Muslim dan menjadi acuan bagi dunia barat pada saat itu. Karena banyaknya informasi baru yang saya dapatkan, entah kenapa akhirnya saya juga tertarik filsafat, khususnya filsafat islam dengan tokoh-tokohnya Ibnu Sina, Al-Ghazali, Murthada Mutthari, Al Farabi, Mulla Shadra, Suhrawardi dlsb. Kenapa saya tertarik mempelajari itu semua? karena menurut saya, Allah telah menganugerahkan kita akal untuk membaca ayat-ayat Allah yang ada disekitar kita agar kita diberikan manfaat yang lebih besar dari sebelumnya. Lagipula ciptaan Allah tidak akan sia-sia. Bukankah tidak sama antara orang yang menggunakan akalnya dengan yang tidak?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s