Kesuksesan ala’ Ciputra

Selama perjalanan ke kantor tadi siang, dari pada bengong atau observasi orang-orang yang tidak jelas juntrungannya, akhirnya saya merelakan diri untuk membaca buku Pak Ci yang berjudul Ciputra Quantum Leap. Buku itu sebenarnya telah lama ditangkap radar mata, tetapi baru sekarang menyempatkan diri untuk membacanya. Isi dari buku lebih menceritakan tentang konsep entrepreneurship, yang memang harus dimiliki oleh setiap orang, terlepas dia sebagai seorang pegawai perusahaan atau pun pemilik usaha.

Sayangnya buku tersebut belum selesai saya baca, namun karena lagi terinspirasi oleh buku itu, saya memberanikan diri membuat tulisan ini. Dari pengalaman Pak Ci bertahun-tahun menggeluti dunai bisnis, dia berkesimpulan bahwa untuk seseorang sukses dibutuhkan jiwa entrepreneurship. Apa pun pekerjaannya, dia butuh jiwa itu. Dirasa hal itu penting dan dapat membangun bangsa ini, akhirnya dia membuka sebuah universitas yang dinamakan Entrepreneurship University untuk menumbuhkembangkan mental-mental entrepreneurship.

Ambil contoh Singapura. Negaranya kecil, tidak memiliki sumber daya alam yang memadai. Jika melihat 20 atau 30 tahun lalu, kita akan melihat Singapura tidak bedanya dengan Jakarta. Namun kenapa dia bisa menjadi sesukses sekarang? Itu semua bisa dilakukannya karena banyak orang-orang singapura berjiwa entrepreneurship. Dari total penduduk Singapura, 7,2% merupakan entrepreneur. Menurut penelitian, negara yang sukses harus memiliki minimal 2% entrepreneur dari total penduduk negaranya. Bagaimana posisi Indonesia? Indonesia hanya memiliki 0,18% entrepreneur dari 230 juta jiwa penduduk Indonesia. Untuk itulah Pak Ci ingin konsep entrepreneurship itu dikembangkan di Indonesia agar Indonesia tidak menjadi bangsa “kuli”, tetapi bangsa yang inovatif dan disegani di mata internasional.

Konsep entrepreneurship Pak Ci sendiri tidak sesempit pengertian kita selama ini. Jika kita berbicara mengenai konsep entrepreneurship pastilah dalam bayangan kita orang itu pedagang atau pemilik usaha dan bukan orang gajian seperti pegawai sebuah perusahaan. Mindset itu begitu mengakar di kepala kita, hingga akhirnya tanpa kita sadari hal itu menjadi sebuah kebenaran yang tidak perlu lagi diganggu-gugat. Konsep Pak Ci lebih dari itu. Dia membagi entrepreneurship menjadi 4 tipe:

1. Business Entrepreneurship

Dalam tipe ini pun, Pak Ci membaginya menjadi 2 golongan. Golongan I, Professional Entrepreneurship, yakni orang-orang yang bekerja ke dalam sebuah perusahaan. Golongan II, Owner Entrepreneurship, yakni pemilik usaha itu sendiri. Pak Ci jelas termasuk golongan Owner Entrepreneurship.

2. Government Entrepreneursip

Jika orang-orang tersebut bekerja ke dalam sebuah perusahaan pemerintahan, maka dapatlah digolongkan sebagai government entrepreneurship. Mungkin kita bisa melihat Dubai. Bisa dibilang negara tersebut tidak memiliki jumlah emas hitam (minyak bumi) yang begitu melimpah dibandingkan negara tetangganya. Untuk itu, hal yang harus dilakukannya adalah dengan membuat negara tersebut menjadi tujuan investasi. Jika orang ingin investasi yang aman di Timur Tengah, datanglah ke Dubai. Semuanya telah disiapkan dari infrastruktur dan kenyamanan investor.

3. Social Entrepreneurship

Muhammad Yunus dari Grameen Bank, yang memberikan kredilt kepada orang-orang miskin termasuk dalam golongan ini. Dia melihat sebenarnya orang-orang miskin itu bisa diberikan kredit usaha, jika memang diberikan kesempatan. Diharapkan dengan pinjaman untuk usaha, mereka dapat memperbaiki taraf hidup mereka dan keluar dari bencana kelaparan.

4. Academic Entrepreneurship

Orang-orang yang menggunakan hidupnya dalam akademisi untuk menanamkan dan mengembangkan jiwa entrepreneurship pada anak didiknya. Nicholas Negroponte, dengan anak-anak di belahan dunia lainnya.ketua dan pendiri Laboratorium Media di Institut Teknologi Massachusetts (MIT) memproduksi Laptop seharga US$100 per buah agar di kemudian hari setiap anak memiliki laptop sendiri. Hal itu dimaksudkan agar mereka dapat mengembangkan diri mereka sendiri tanpa hambatan dan saling belajar,

Dari keempat tipe yang di bahas dalam bukunya, kita bisa simpulkan bahwa siapa saja bisa menjadi seorang entrepreneurship. Tidak ada batasan pekerjaan di dalamnya. Seorang pegawai pun bisa diklasifikasikan sebagai seorang dengan jiwa entrepreneurship. Jika begitu, apa yang membedakan seorang pegawai biasa dengan seorang pegawai entrepreneurship? Perbedaannya terletak pada mindset yang dimiliki orang itu. Seorang entrepreneurship akan selalu mencari ide-ide baru yang berbeda dengan orang lain pada umumnya, tanpa lupa juga mengkalkulasikan segala resiko yang menyertainya.

Bisa dibilang dari kesemuanya, pada akhirnya kita akan menemui hal mendasar yang harus berubah, yakni mindset. Pertanyaan selanjutnya, bagiamana merubah mindset itu sendiri? Kita tidak dilahirkan seperti Pak Ci, yang bisa sukses seperti sekarang atau pun Muhammad Yunus dengan Grameen bank-nya. Sepertinya tidak fair juga kita melihat kesuksesan seseorang tanpa mengetahui proses mereka mulai dari nol. Ketika mereka banting tulang, sementara teman-temannya masih bersantai-santai dan bercanda-canda dengan teman lainnya. Dalam bukunya setidaknya ada beberapa hal yang penting diperhatikan.

Menurut Pak Ci setiap orang bisa sukses, jikalau memiliki 3-L:

1. Lahir

2. Lingkungan

3. Latihan.

Seseorang harus memiliki 3-L itu dalam kehidupannya. Pak Ci sendiri memilik 2-L pertama (Lahir & Lingkungan). Lahir karena dia memang dilahirkan di keluarga pedagang. Sejak kecil pun dia telah diperbantukan mengurus kelontong Ayahnya. Jangan heran jika setiap hari dan makin lama jiwa entrepreneurship-nya tumbuh. Begitu pun lingkungan dia berada. Ketika ayahnya meninggal, dia sendiri yang harus mengurus biaya hidup keluarganya. Belum lagi biaya kuliahnya di jurusan arsitektur ITB. Mau tidak mau dia harus mencari cara bagaimana semuanya tercukupi. Jualan kecil-kecilan pun dilakukan. Dari mendesain meubel hingga akhirnya bersama kedua temannya mendirikan perusahaan konsultan PT Daja Tjipta. Dari sini kita bisa lihat, bagaimana lingkungannya telah menempa dia terus-menerus menjadi seorang entrepreneur sejati.

Lalu bagaimana dengan kita yang tidak memiliki L pertama dan L kedua? Menurut saya, kita masih bisa menjadi seorang entrepreneur jika kita minimal memiliki L ketiga, Latihan. Dengan kita latihan terus-menerus, memupuk ide-ide baru dan membuat rongsokan menjadi emas, saya yakin kita akan bisa menjadi Pak Ci. Semakin tinggi latihan kita, semakin tinggi pula kedekatan kita terhadap lingkungan entrepreneurship, lingkungan yang memiliki satu pemahaman mengenai hal yang selama ini kita lakukan. Pada akhirnya kita akan melahirkan L pertama, orang-orang yang bisa menumbuhkan jiwa entrepreneurship kepada orang lainnya.

Hanya dibutuhkan satu ide untuk membuat kita sukses dari berbagai ide yang datang. Bukankah segala sesuatu harus dimulai dari langkah pertama untuk menapak langkah selanjutnya. Salam Sukses!

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s