Tipe-tipe Dosen semasa Kuliah

Ada-ada saja tingkah laku dosen mengajar mahasiswanya. Setiap dosen pasti memiliki sudut pandang yang berbeda-beda mengenai cara mengajar, bahkan untuk hal absensi pun mereka memiliki cara yang yang berbeda satu sama lainnya. Inilah yang menjadi keunikan tersendiri ketika kita membicarakannya dengan sesama mahasiswa atau orang lain. Dari penampilan hingga tidak memperdulikan absensi mahasiswanya, kadang membuat kenangan-kenangan itu masih terpatri dalam hati kita. Ketika saat itu kita menjalaninya, pastilah sebal.

“Kenapa juga dosen ngurusin hal-hal seperti itu? bukannya fokusin aja ke pelajarannya. eh malah ngurusin yang nggak-nggak di luar pengajaran”.

Mungkin perasaan itulah yang kita rasakan. Sebal melihat tingkah laku dosen yang tidak sesuai keinginan kita, toh kita kan bukan anak kecil lagi. Kita ini seorang mahasiwa, yang siap terjun ke masyarakat dan melakukan perubahan yang berguna bagi masyarakat dan diri kita pribadi. Saat itu kita butuh pengakuan akan jati diri kita.

Namun harapan itu pupus, ketika dosen memperlakukan diri kita layaknya seorang anak kecil kembali. Bahkan beberapa dosen kadang kala auranya menebarkan aura pembunuh (killer). Kalau bertemu dosen tipe ini, biasanya kita langsung diam seribu bahasa. Cuma manggut-manggut mengiyakan. Parahnya lagi, kita mungkin tidak masuk kuliah. Dengan alasan bla bla bla, akhirnya kita lebih memprioritaskan ketidakhadiran kita dibandingkan ilmu yang akan kita dapatkan dari dosen killer itu.

Kalau mengingat kejadian zaman kuliah dulu, bisa dibilang dengan segala keunikan sang dosen dan seringkali membuat kita geleng-geleng kepala, kita dapat berhasil sampai sekarang ini. Justru pengalaman yang kita alami tersebut dapat memberikan nostalgia indah dan bahan senyuman ketika kembali mengingatnya. Bukankah justru dengan segala keunikan mereka, membuat diri kita sekarang lebih mudah beradaptasi dengan macam-macam pribadi yang unik lainnya.

Kalau boleh saya merincinya atau menuturkan kembali pengalaman pribadi saya, ada beberapa tipe dosen yang dapat saya ingat kembali, diantaranya :

1. Dosen yang suka kerapihan.

Saking rapinya, sang dosen sampai memperhatikan mahasiswanya pada saat kuliah, apakah sang mahasiswanya menggunakan sandal atau sepatu? Kalau pakai sepatu, jangan harap bisa ikut kuliahnya, kecuali kembali masuk menggunakan sepatu. Jangan pakai “kaos oblong” jika mengikuti kuliahnya. Harus rapi. Bagi lelaki disarankan untuk menggunakan kemeja dan bersepatu. Sementara bagi wanita, yang penting rapih, tidak menggunakan “kaos oblong/tanpa kerah”.

2. Dosen yang tidak memperdulikan absensi mahasiswanya.

Pernah saya ketemu dosen tipe seperti ini. Ketika pertemuan pertama, dia langsung bilang “Terserah kalian mau masuk atau tidak, Saya tidak memperdulikan absensi kalian. Saya anggap kalian selalu hadir”. Seketika hati mahasiswa pun bersorak riang. Ini kesempatan bolos tak terkira sampai UAS. Namun uniknya, selama pertemuan-pertemuan selanjutnya, mahasiswanya (termasuk saya), justru lebih memilih hadir dibandingkan bolos.

3. Dosen yang sering bolos.

Jangan heran kalau bertemu dosen seperti ini. Ternyata dosen pun bisa sering bolos. Ketika mengingatnya kembali, dosen satu ini hanya memberikan kuliah hanya 3 kali pertemuan saja, dari 14 pertemuan yang dijadwalkan. Saya sendiri mengerti kenapa dia sering bolos. Sebagai pejabat negara yang mengepalai sebuah departemen, saya rasa ada hal-hal yang lebih prioritas didahulukan dibandingkan memberikan kuliah kepada mahasiswanya. Walau di satu sisi, tentunya kekecewaan itu pasti ada. Bagaimana mungkin, saya dan mahasiwa lainnya sudah membayar biaya kuliah, tetapi sang dosen tidak melakukan pengajaran yang diharapkan. Kalau memang tidak bisa mengajar karena kesibukannya, bukannya lebih baik tidak mendaftar menjadi staf pengajar?

4. Dosen yang suka diskusi.

Pernah juga satu kali, ketika tingkat akhir, saya baru mengambil mata kuliah yang telah diambil oleh mahasiwa satu angkatan lainnya. Jadi bisa dibilang, saya dan kedua teman saya itu telat ambil. Untungnya ada dosen yang bersedia mengajar kami berempat. Jadilah kuliah tetap berlangsung dengan dosen dan kedua teman saya. Kuliahnya bagaimana? Jangan harap seperti kuliah pada umumnya. Kami kuliah di satu meja dengan berdekat-dekatan dan dikelilingi empat kursi di setiap sisinya. Jadi seperti lagi di interview pekerjaan. Setiap pertemuan, kami disuruh presentasi langsung di hadapan sang dosen dan kita mendiskusikan setelahnya. Presentasi dan presentasi setiap minggunya. Intinya sebelum diskusi dilakukan, setiap minggunya kita harus mempresentasikan materi kuliah pada saat itu yang akan diajarkan dengan sebelumnya kita membagi bagian presentasi di antara kita. Namun saya bersyukur, banyak ilmu yang lebih didapatkan dibandingkan kuliah dengan jumlah mahasiswa yang banyak.

5. Dosen yang suka kasih catatan dan handouts.

Ada juga tipe dosen yang sering memberikan catatan kepada mahasiswanya. Syukur-syukur handouts yang diberikan, tetapi bagaimana jika kita benar-benar mencatat materi kuliah dari papan tulisan. Rasanya koq seperti SMA. Masih saja ditulis di papan tulisan materi pelajarannya. Biasanya ada salah satu teman yang dipercaya menulis di papan tulis, kemudian sisanya beramai-ramai menulis. Namun hal ini jarang terjadi, biasanya hanya segelintir saja yang menulis, sisanya seperti layaknya mahasiswa gemar akan fotocopy, maka di-copy lah hasil tulisan yang telah dibuat oleh mahasiswa lain.

6. Dosen yang berbicara sendiri.

Sering juga bertemu dosen seperti ini. Seakan dunia hanya miliknya sendiri. Kalau bisa dibilang kasar, seolah-olah dihadapannya tidak ada sama sekali mahasiswanya. Mau tanggapan mahasiswanya biasa saja atau datar-datar saja, mereka pun tak perduli. Kita sendiri, sebagai mahasiswa yang butuh pengajaran, menjadi korbannya secara tidak langsung. Sudah tidak mengerti yang diajarkan, makin tidak mengerti lagi apa yang dimaksud sang dosen. Pada akhirnya, para mahasiswanya terbuai di alam mimpi. Bersyukur jika mimpinya ada kaitannya dengan mata kuliah tersebut, jika tidak. Celaka dua belas.

7. Dosen text book

Bukan bermaksud menyindir. Namun kita sering mendapatkan dosen yang mengajar mahasiswanya sama dengan apa yang ada dalam text book acuan. Saya pikir kalau mahasiwa diajarkan sama seperti dalam text book, suruh saja mahasiwanya membaca saja, tanpa mengharuskan menghadiri kuliahnya. Akan lebih baik seandainya sang dosen memberitahukan hal-hal yang tidak ada di dalam text book itu dan membagi ilmunya sesuai dengan kondisi sekarang. Jadi lebih mengena dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi sekarang ini.

Mungkin masih banyak lagi tipe-tipe dosen yang tidak tersebutkan diatas. Namun kembali saya ingatkan, keunikan-keunikan dosen mengajar akan memberikan sebuah nostalgia indah bagi kita nantinya. Pada bagian akhir tulisan ini, saya ingin bertanya kepada pembaca. Adakah tipe dosen yang mengajar seperti disebutkan diatas? Jika tidak bagiamana dosen itu mengajar?. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s