Pentingnya memahami Wealth Management buat kehidupan diri dan keluarga (Part 01)

Hari Sabtu (16/5) saat mentari menyinarkan senyumannya dengan hangat, diriku bersama beberapa teman kantor mengikuti sebuah workshop Wealth Management. Aku tidak mengetahui sama sekali apa sebenarnya inti dari workshop tersebut, namun berhubung itu merupakan free workshop karena aku mengikuti workshop sebelumnya “technical analysis”, akhirnya aku tekadkan diri untuk tetap mengikuti workshop tersebut. Toh tidak ada salahnya, selain free, aku beserta teman lainnya akan mendapatkan sebuah pengetahuan baru.

Jarak Kalimalang dengan Grogol bisa dibilang jauh, namun karena adanya tambahan ilmu baru aku relakan diriku bangun pagi-pagi. Akibatnya kondisi mata masih 5 watt. Nyawa pun masih setengah bersarang. Maklum selama ini selalu bangun siang, dan itu menjadi hal biasa bagi diriku. Aku berharapa payoff akan terbayar setelah mengikuti workshop itu. Benar saja, mataku langsung terbuka dengan pemaparan-pemaparan pembicara. Hal-hal baru yang sebelumnya belum ku pahami, kini mulai mendapat sebuah gambaran. Aku pun tercerahkan. Terus terang diriku sama sekali buta mengenai wealth management, makanya diriku mengikuti workshop tersebut.

Dari pemaparan sang pembicara, inti wealth management adalah bagaimana caranya kita mengelola keuangan kita sejak dini hingga kita pensiun nantinya. Tapi bukan hanya untuk diri kita pribadi saja, tetapi juga keluarga kita nanti. Artinya Istri dan anak-anak kita. Untuk yang terakhir, terus terang masih samar-samar bagaimana menghidupi mereka semua. Untuk diri pribadi terus terang, masih mencukupi, namun untuk kedepannya bagaimana? Nah itulah sebagian yang akan di bahas dalam workshop tersebut. Aku bersyukur karena telah mengikuti workshop itu. Setidaknya telah ada gambaran mengenai hal-hal apa saja yang akan dihadapi diri dan keluargaku.

Apakah kalian tahu selama ini aset yang kalian miliki itu dibiayai oleh utang ataukah uang sendiri? Berapa persen utang dibandingkan dari uang sendiri? Dan dari mana saja pendapatan yang kita hasilkan selama ini? Aku tidak menyangka pertanyaan itu akan mengusik alam bawah sadarku. Terus terang, selama ini aku tidak terlalu memperdulikan dari mana asal pendapatan dan bagaimana menggunakannya? Selama masih ada uang di tangan, ketika mau membeli sesuatu, aku pun langsung saja mengeluarkan uang kertas berwarna biru tanpa ragu-ragu lagi. Sekalipun barang tersebut paling juga hanya digunakan sebentar atau lebih parahnya, setelah membeli justru timbul penyesalan karena tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Aku rasa kalian juga pernah mengalaminya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s