Dr. Pincuss dan Ego Diri Kita Sendiri

Minggu lalu, ketika menyaksikan film “Ghost Town” membuat diri saya berpikir. Cerita dari film itu sebenarnya sederhana. Pesan yang ingin disampaikan pun begitu jelas sekali, khusunya bagi kita yang berada dalam kota metropolitan ini.

Diceritakan dalam film tersebut, terdapatlah seorang Dr. Gigi yang bernama Dr. Pincuss. Pada dasarnya dia orangnya baik. Saking baiknya dia tidak mau mencampuri urusan orang yang tidak terkait langsung dengannya. Orang yang memiliki dunia privasinya sendiri. Selama orang lain tidak mengganggunya, praktis dia pun tidak akan mengganggu atau bahkan menggubris sekalipun apa yang dilakukan orang-orang disekelilingnya.

Lalu kaitannya dengan judul film diatas? Kaitannya adalah ternyata Dr Pincuss ini pernah mengalami kecelakaan mobil, dan dia sempat mati selama 7 menit saja. Sejak dia hidup kembali, dia bisa melihat hantu sejelas melihat manusia. Ini pun tanpa disadarinya. Dia baru tersadar ketika ada seorang hantu yang menyapanya. Dunia hantu kota itu pun geger. Ternyata ada seorang manusia yang dapat berkomunikasi dengan mereka. Beramai-ramailah mereka meminta pertolongan kepada Dr. Pincuss. Tapi memang pada dasarnya Dr. Pincuss ini bukan tipikal orang yang suka bersosialisasi, melainkan orang yang menyendiri, dia tidak masa bodoh terhadap permintaan mereka. Dia tidak pernah memikirkan orang lain, hanya dirinyalah yang dipikirkan.

Sampai suatu hari jatuh cintalah dia dengan seorang wanita yang suaminya telah menjadi hantu gentayangan di kota itu. Hantu suaminya itu pun bersedia membantunya mendekatkan Dr. Pincuss dengan istrinya. Bukan tanpa maksud mantan suaminya itu melakukan hal tersebut, soalnya dia tidak suka dengan tunangan mantan istrinya itu yang menurut dia adalah orang munafik.

Hari demi hari berganti dan sampai lah saatnya menemui kenyataan. Diceritakanlah semua kejadian sejak awal dan kenapa dia bisa dekat dengan wanita tersebut, namun wanita tersebut tidak percaya. Bagaimana mungkin hantu suaminya masih bergentayangan dan membantu Dr Pincuss mendekati dirinya dan berada disamping Dr. Pincuss. Untuk membuktikan kebenaran cerita Dr. Pincuss, wanita tersebut mengajukan pertanyaan yang tidak mungkin diceritakan kepada siapapun oleh suaminya, terkecuali dirinya.

Setelah diberitahu oleh suaminya dan menceritakan kembali mimpi buruk sang suami. Dr. Pincuss pun terkejut akan hasilnya. Cerita yang dimaksud ternyata bukan itu. Sang suami telah membohonginya. Alasannya karena dia tidak mau melihat mantan istrinya itu dengan seorang yang egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri saja, tanpa memperhatikan kebahagiaan mantan istrinya itu.

Patah hatilah dia. Kehidupan sudah tidak sama lagi. Hati yang berbunga-bunga kini tertunduk layu. Di tempat kerja nya pun dia tidak bergairah. Sampai akhirnya dia, untuk kali pertama, menyapa rekan kerjanya. Bukan untuk bersosialisasi, namun untuk membuat resep dokter supaya dia bisa tertidur dan melepaskan beban hati yang dideritanya. Tentu saja rekan kerjanya menolak melakukan itu, dan berkata “Dr. Pincuss, pada titik tertentu dalam hidup Anda, anda harus berhenti dan menanyakan pada diri anda sendiri sebuah pertanyaan akhir. Apa keuntunganku menjadi orang yang menyebalkan?” Bagai tersambar petir, Dr Pincuss pun menyadari kesalahannya selama ini. Dia tersadar bahwa dia seorang egois, jarang senyum dan seorang anti sosial. Dan apa yang dia dapatkan? tidak ada. Dia hanya mendapati kesendirian dalam hidupnya. Lahir sendiri, mati pun sendiri.

Menarik bukan? menonton film itu membuat diri kita juga tersadar. Mungkin kita sendiri tidak pernah menyadari keegoisan diri sendiri. Mungkin apa yang dilakukan orang lain menurut kita adalah sebuah omong kosong? Tidak terlalu penting untuk kita gubris, toh kita sendiri masih banyak kerjaan yang lain. Tapi kita juga lupa bahwa apa yang kita lakukan, entah kita sadari atau tidak, akan menyebabkan orang lain mungkin tersakiti hatinya. Kita tidak pernah tahu, karena apa? karena kita tidak pernah peduli dengan orang disekeliling kita. Kita hanya peduli diri kita sendiri. Dengan dalih prioritas dan hal lain yang lebih penting dibandingkan dengan kepedulian kita kepada mereka, kita secara tidak langsung justru menyakiti hati dan menjauhkan mereka dalam hidup kita. Jadi selagi masih ada kesempatan, pedulikanlah orang-orang di sekeliling kita. Kita akan menjadi lebih bahagia dengan membantu walaupun itu hanya sebatas senyuman kecil.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s