Ulasan Seminar The 3rd International Conference on Corporate Social Responsibility (CSR)

Ulasan Seminar

The 3rd International Conference on Corporate Social Responsibility (CSR)

Balai Kartini Exhibition & Convention Center Jakarta, 29 – 30 September 2010

Break-out Session I : Leadership and Policy in Corporate Social Responsibility (CSR)

Josef Bataona (HR Corporate Relations Director Unilever)

and

Aristides Katoppo (Board of Trustees UID)

Oleh : INDRA

Dunia usaha sekarang tidak hanya memperhatikan masalah catatan keuangan perusahaan saja melainkan aspek Corporate Social Responsibility (CSR). Banyak kalangan melihat perusahaan seharusnya mulai memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitarnya, tidak terus berfokus mencari profit semata. Masyarakat akan melihat positif terhadap program CSR yang berkualitas, khususnya konsumen perusahaan tersebut, walau hal ini bukan merupakan tujuan utama program CSR. Namun secara tidak langsung dalam jangka panjang, kegiatan CSR akan mengangkat brand perusahaan. Jika hal tersebut terjadi, berarti brand social mission perusahaan berhasil karena brand tidak hanya terkait terhadap sebuah produk semata melainkan dapat dipersepsi positif terkait tanggung jawab sosial perusahaan.

Berbicara mengenai CSR maka tidak terlepas dari peranan Human Resources (HR). HR yang tangguh dan memiliki leadership yang tangguh dalam dirinya tentu akan membuat program CSR dapat mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. Setiap karyawan yang memiliki leadership yang baik dituntut untuk visioner serta mampu menggerakan orang-orang di sekitarnya untuk turut serta dalam program yang sedang dilakukannya.

Pentingnya pembentukan leadership bagi karyawannya membuat PT Unilever Indonesia Tbk, sebagai salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia, melakukannya semenjak karyawan baru masuk ke dalam lingkungan kerja. Jika umumnya perusahaan cenderung mencari karyawan yang cocok dengan culture mereka, Unilever lebih memilih untuk mencari fresh graduate dan mengembangkan karyawan tersebut agar sesuai dengan culture perusahaan mereka. Hal tersebut, setidaknya memberikan mereka jaminan akan dua hal. Pertama, mereka tidak kerepotan mencari talent-talent yang dibutuhkan. Kedua, tidak akan terjadi kekosongan talent sepeninggal generasi yang mulai pensiun. Terlihat jelas peran serta perusahaan untuk mengembangkan karyawannya, karena jika terjadi penghentian pengembangan karyawan, jangan berharap bisnis dapat berkembang.

Selain pengembangan leadership, hal lain yang turut menjadi perhatian dalam CSR adalah coverage program tersebut ditujukan. Selama ini program CSR lebih ditujukan kepada pengguna produk atau masyarakat sekitar dimana perusahaan berada. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, bahkan patut kita acungi jempol untuk perusahaan yang mau menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membuat program SCR. Namun alangkah baiknya program CSR yang ada terintegrasi dan lebih mengglobal, dengan kata lain program CSR tidak dalam lingkup lokal saja, melainkan sudah dalam tataran dunia. Arahkan kepada satu tujuan yang sama, seperti global warming yang kini menjadi pusat perbincangan di seluruh dunia bisa menjadi contoh yang bagus untuk penerapan CSR dalam skala global. Setiap perusahaan yang ingin membuat program baru CSR diarahkan untuk mengedukasi masyarakat mengenai dampak global warming serta bagaimana mencegah dan menanggulanginya.

Program tersebut pernah dilakukan oleh Unilever melalui Yayasan Unilever Indonesia bersama mitra strategisnya diantaranya Badan Pengelola Lingkungan Hidup DKI Jakarta (BPLHD) yang membuat program “Jakarta Green and Clean” pada 2008 silam. Program Lingkungan Green & Clean merupakan program pelestarian lingkungan yang menitikberatkan pada masalah persampahan, penghijauan, dan resapan.

Untuk mencapai ke arah sana memang tidak mudah, namun peran serta yang berkesinambungan antara karyawan perusahaan dengan masyarakat sekitar tentunya akan membawa dampak yang lebih signifikan. Jika hanya perusahaan saja yang terlibat, ada kemungkinan proyek CSR yang sedang dirintis akan mengalami kegagalan, pasalnya masyarakat tidak dilatih mandiri, sehingga jika proyek tersebut tidak lagi dikelola oleh perusahaan, mereka akan kebingungan dan akhirnya mengalami kegagalan. Harus ada kesatuan visi dan misi di antara semua pihak yang terlibat. Dengan demikian akan terjadi tidak saja transfer of knowledge dari perusahaan tetapi juga collective learning pada masyarakatnya dan pada akhirnya jiwa entrepreneurship akan timbul bagi masyarakat yang teredukasi.

Unilever juga pernah membuat program CSR yang dinamakan trashion, singkatan dari trash and fashion. Program ini selain terkait mengatasi permasalahan global warming, tetapi juga membentuk kemandirian masyarakat yang di edukasi oleh Unilever. Program trashion bertujuan mengatasi permasalahan sampah yang semakin hari semakin banyak, khususnya sisa kemasan produk mereka, dengan cara membuat kemasan-kemasan tersebut didaur ulang sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat. Daur ulang tersebut nantinya akan dibentuk menjadi tas, payung, dompet dan bentuk lainnya yang lebih indah dengan motif-motif kemasan produk unilever. Masyarakat menjadi lebih mandiri karena Unilever hanya bertugas sebagai fasilitator, sementara masyarakatnya sendiri yang mengerjakannya. Selain itu adanya program trashion membuat masyarakat menghasilkan sumber pendapatan lain dari selama ini yang mereka miliki.

Banyak program CSR yang dapat dilakukan perusahaan namun dibutuhkan kreativitas bagi perusahaan jika ingin memulai program CSR di tempat baru yang belum mereka ketahui seluk-beluknya. Setiap tempat umumnya memiliki budaya dan aturan-aturan tertentu yang terkadang dapat menghambat program yang telah direncanakan gagal. Jika kita menyamaratakan semuanya, yang ada justru akan terjadi benturan sosial. Program CSR kita akan dipersepsi negatif dan brand image perusahaan pun akan goyah. Untuk itu program yang dibentuk hendaklah adaptable agar program dapat berjalan efektif sesuai tujuan semula. Namun seandainya terjadi benturan sosial, maka perusahaan mau tak mau harus menggunakan pendekatan lain yang lebih kreatif dan dapat diterima masyarakat sekitarnya.

Seperti diingatkan diatas, jangan menjadikan ajang CSR sebagai ajang promosi brand perusahaan, karena masyarakat tentu akan dapat melihat mana yang tulus atau tidak. Talk to their heart dan tunjukan apa pun upaya kita adalah demi kepentingan mereka. Berikanlah bantuan karena dibutuhkan bukan sekedar program CSR belaka, yang penting kita melakukan program CSR ke masyarakat. Intinya not just how but why?

Iklan

One comment

  1. […] Tidak urung ketika mengikuti sebuah seminar pun saya terinspirasi dan lagi-lagi ingin segera men-sharing dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Saya pribadi pernah mengikuti seminar Tung Desem Waringin dan mengulas isi seminarnya di Seminar Tung Desem Waringin, atau ulasan seminar lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan kantor seperti tulisan Potensi Pengembangan Sukuk Korporasi di Indonesia, Dampak Penerapan PSAK Terbaru terhadap Perpajakan, Seminar KTT INDEF 2010 “Kerentanan Mikroekonomi di balik Stabilitas Makroekonomi”, dan Ulasan Seminar The 3rd International Conference on Corporate Social Responsibility (CSR). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s