Seminar KTT INDEF 2010 “Kerentanan Mikroekonomi di balik Stabilitas Makroekonomi”

Lokasi Hotel Atlet Century Park Senayan Jakarta
Waktu Kamis, 29 Juli 2009, 08.30-13.00 WIB

Pembicara
1. Ahmad Erani Yustika (Direktur Eksekutif Indef)
2. Halim Alamsyah (Deputi Gubernur Bank Indonesia)
3. Rimawan Pradiptyo (UGM)
4. Nusron Wahin (Komisi XI DPR RI)
5. Umar Juoro (CIDES)
6. Eko B. Supriyanto (Infobank)

Isi Pembicaraan
1. Ahmad Erani Yustika (Direktur Eksekutif Indef)

o Secara makroekonomi, fundamental Indonesia cukup baik namun tidak diiringi oleh perbaikan pada tingkat mikroekonomi.

o Investasi langsung (FDI) masih terpusat pada sektor sekunder dan tersier. Data BKPM (2010) menyebutkan 60,48% nilai Penanaman Modal Asing (PMA) berada pada sektor tersier, disusul sektor primer dan sekunder masing-masing 20,80% dan 18,72%.

o Untuk jangka pendek nilai tukar terapresiasi akibat adanya hot money walau sempat terdepresiasi akibat sentimen krisis utang Yunani, namun secara perlahan selama kuartal I/2010 telah mengaut rata-rata 2,2% ke level Rp9.5254 per dolar AS.

o Inflasi masih terkendali. Inflasi hingga kuartal I/2010 cenderung terjaga disebabkan relatif terjaganya pasokan bahan makanan meski mulai meningkat pada April-Juni, didukung pula oleh Apresiasi rupiah dari sisi internasional. Peningkatan harga komoditas belum begitu signifikan memengaruhi kinerja inflasi pada periode tersebut, terhambat apresiasi rupiah.

o Dari sisi perbankan, pada Mei 2010 kredit tumbuh 17,33%(yoy), Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 12,87%(yoy). Walau kredit meningkat namun pertumbuhannya yang lebih tinggi dibandingkan DPK akan menyebabkan kekeringan likuiditas.

o Terindikasi investasi yang berprinsip low risk-high return¸anomali dengan teori investasi pada umumnya. Resiko investasi di Indonesia masih relatif tinggi padahal secara fundamental perekonomian Indonesia cukup bagus. Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun Indonesia memiliki yield 10%, menjadikannya tertinggi di Asia, jauh di atas negara tetangga seperti Filipina 6,2%, Thailand 4,2%, Malyasia 3,7% dan Singapura 2,3%.

2. Halim Alamsyah (Deputi Gubernur Bank Indonesia)

o Pada kuartal II/2010, PDB diperkirakan tumbuh 6%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,7%, sementara investasi akan tumbuh mencapai 10%(yoy) sebagai respon permintaan domesttik dan eksternal yang semakin kuat.

o Pada 2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,5%-6,0%, sementara pada 2011 akan meningkat pada kisaran 6,0%-6,5%.

o Perkembangan inflasi pada 2010 & 2011 diprakirakan akan tetap dan dalam sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya sebesar 5%±1%.

o Kinerja perbankan cukup kuat dnegan CAR sebesar 17,5%, rasio NPL dibawah 5%, ROA 2,9% serta likuiditas tetap terjaga yang tercermin dari rendahnya LDR (77,5%).

o Dengan demikian dapat disimpulkan fundamental perekonomian Indonesia cukup solid yang ditandai dengan inflasi masih terkendali, nilai tukar yang stabil, pertumbuhan meningkat, defisit fiskal masih aman (dibawah 2% PDB) dan kinerja perbankan yang cukup solid.

o Tantangan ke depan dari sisi makroekonomi:
a. Bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih tinggi, 7-8%
b. Bagaimana me-recycle ekses likuiditas dalam sistem perbankan (SBI & SUN) menjadi lebih produktif.

o Sementara tantangan dari sisi mikroekonomi berupa:
a. Bagaimana membalikan gejala/proses deindustrialisasi?
b. Bagaimana meningkatkan peran perbankan dalam perekonomian?
c. Bagaimana mendorong kredit ke arah yang lebih produktif (bukan konsumtif)?

o Perlu pendekatan baru dalam pemecahan masalah ekonomi Indonesia. Perlu koordinasi dari tingkat mikro dan makro, tidak bisa terpisah-pisah, dengan kata lain perlunya kombinasi kebijakan makro-mikro, sebagai contoh: BI mulai memperkenalkan kebijakan Giro Wajib Minimun (GWM) yang dikaitkan dengan LDR yang bertujuan untuk mendorong intermediasi perbanakna dan menjaga bank tetap berada dalam koridor kehati-hatian.

3. Rimawan Pradiptyo (UGM)

o Fungsi pengawas sektor keuangan terbagi menjadi tiga:
a. Macro prudential
b. Micro prudential
c. Business Conduct

o Masalah yang akan dihadapai dalam pengawasan dapa berupa koordinasi dipersepsikan sebagai pertemuan rutin, egoisme sektoral serta kelangkaan dalam hal data sharing.

o Krisis 2008 menunjukan kegagalan sistem pengawasan integral seperti yang terjadi di Inggris dimana fungsi pengawasan bank dikembalikan lagi kepada Bank of England (bukan FSA). Namun temuan menarik lainnya tanpa ada otoritas pengawas keuangan pun, USA mengalami krisis. Jadi permasalahannya bukan pada otorisasinya, tapi pada pengawasannya itu sendiri dan koordinasi antar divisi atau lembaga yang berwenang.

o Biaya yang timbul untuk pembentukan OJK dapat berupa = biaya transisi + biaya jangka panjang. Namun yang menarik adalah seandainya lembaga OJK yang telah terbentuk itu gagal, maka akan timbul biaya penutupan yang lebih besar dibandingkan pembentukan OJK itu sendiri.

o Dengan pembentukan OJK estimasi biaya yang timbul cukup besar, tidak seperti dugaan selama ini yang hanya sebesar Rp2,5 triliun, tetapi dapat mencapai Rp27-33 triliun.

o Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah dari mana pembiayaan pembentukan OJK itu sendiri? Jika didanai dari utang luar negeri, maka utang Indonesia akan bertambah Rp27 triliun atau bertambah sekitar 57%-68,75% dari tahun 2010. Bagimana biaya operasionalnya? Apakah akan dibebankan kepada nasabah? Dan apakah iuran OJK merupakan pajak atau retribusi? Banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab sebelum melangkah lebih jauh.

4. Nusron Wahin (Komisi XI DPR RI)

o Pansus RUU OJK telah terbentuk. Pembentukan ini dalam upaya untuk perlu atau tidaknya OJK dibentuk sebagai pengawas sektor keuangan yang baru menggantikan Bank Indonesia yang dinilai gagal.

o Untuk sementara waktu pansus akan dengar pendapat kepada pemangku kepentingan yang terkait seperti Bank Indonesia, Bapepam-LK, Perbankan, Asuransi & Bappebti.

o Dan pada tanggal 31 Desember 2010 nanti akan diputuskan secara final apakah perlu dibentuk atau tidak OJK itu sendiri.

5. Umar Juoro (CIDES)

o Inflasi pada akhir 2010 diperkirakan sekitar 5,7%. Walau kecendrungan akan meningkatnya inflasi, BI kemungkinan tetap akan tetap mempertahankan BI rate pada 6,5%.

o Aliran modal asing yang masuk Indonesia meningkat. Kepemilikan asing di SUN mencapai sekitar Rp170 triliun, SBI sekitar Rp4,2 triliun, dan net buying asing sekitar Rp3,4 triliun pada Juli 2010.

o Pada Mei surplus perdagangan mencapai lebih dari US$ 2 miliar.

o Pertumbuhan ekspor non-migas 4,03% lebih tinggi dari pada pertumbuhan ekspor miga 2,97%. Dengan pertumbuhan perekonomian global diperkirakan 4%, maka pertumbuhan ekspor dapat lebih tinggi.

6. Eko B. Supriyanto (Infobank)

o Kredit bergulir sudah membaik. Kredit konsumsi terus bergerak naik, sektor konsumsi UMKM juga bergerak cepat. Kredit sektor pertambangan mulai bergerak dan perindustrian juga sudah bergerak dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian akan terganggu oleh tekanan suku bunga perbankan.

o Pertumbuhan kredit yang lambat di awal tahun bukan karena perbankan yang tidak mau memberikan kredit tapi dunia usaha yang masih ragu untuk meminjam kredit ke bank.

o Kebijakan pengaitan GWM dengan LDR bukanlah jawaban untuk mendorong kredit tapi lebih banyak untuk mengurang beban BI dari serbuan SBI.

o Porsi perbankan syariah sendiri belum melewati angka 3%, terkendala dari pertumbuhan kredit yang besar namun tidak diimbangi oleh pertumbuhan DPK.

o Pemasaran perbankan syariah tidak hanya pada pendekatan emosional tapi didukung juga dengan pendekatan rasional.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s