Outsourcing

Sejak krisis menimpa Indonesia pada tahun 1997 akibat merembetnya krisis Asia yang dimulai dari turunya nilai tukar Baht Thailand, banyak perusahaan Indonesia mulai melakukan efisiensi terhadap sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengalihdayakan SDM-nya ke dalam atau menyewa tenaga kerja dari perusahaan outsourcing (alih daya)

Krisis yang terjadi kemudian tidak hanya menyerang Indonesia, tetapi secara global turut juga memberikan pengaruh positif bagi perkembangan perusahaan-perusahaan baru outsourcing atau penggunaan tenaga outsourcing. Penggunaan jasa outsourcing di dunia sebenarnya telah dimulai sejak lama.

India merupakan negara penyuplai outsourcing dunia, diikuti oleh China. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh XMG Global, dari jasa outsourcing tersebut, India telah memperoleh penghasilan sebesar US$48 miliar, China sebesar US$28 miliar pada tahun ini dari US$373 miliar total pendapatan outsourcing dunia. Pertumbuhan outsourcing dunia saat ini saja telah mencapai 14,4% per tahun. India menguasai 44,8%, sementara China menguasai 25,9% jasa outsourcing dunia.

Perusahaan yang menggunakan jasa outsourcing akan menjadi lebih fokus pada core competency yang dimilikinya, hingga mereka tidak perlu repot mengurusi hal-hal di luar competency mereka, Nike, misalnya, yang merupakan produsen sepatau berkualitas, core competency yang dimilikinya ke arah desain dan brand building. Untuk masalah pembuatan sepatu, mereka akan menyerahkan kepada pabrik yang ada di Indonesia atau negara lain sehingga mereka tetap fokus kepada pengembangan perusahaan.

Meminimalkan biaya, efisiensi, kekurangan keterampilan dari tenaga kerja perusahaan yang bersangkutan, inovasi, modernisasi, bahkan transformasi bisnis juga menjadi beberapa alasan sebuah perusahaan menggunakan jasa outsourcing.

Secara definisi, outsourcing dapat diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyedia jasa, dimana badan penyedia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta kriteria yang telah disepakati oleh pihak pengguna, dalam hal ini yang mempekerjakan, dan pihak pemberi, dalam hal ini sebagai supplier bagi perusahaan yang mempekerjakan.

Demand yang sangat tinggi akibat krisis moneter memberikan stimulus bagi perusahaan-perusahaan outsourcing untuk tumbuh berkembang di Indonesia, diperkirakan secara total perusahaan outsourcing kurang lebih sebanyak 500 sampai 600 perusahaan. Umumnya management fee yang dikutip perusahaan outsourcing bervariasi dalam kisaran 10-20% dari anggaran gaji pegawai per bulan yang dibayarkan klien. Di Indonesia sendiri kita mengenal ABADI (Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia) yang merupakan ikatan penyedia jasa outsourcing.

Banyak pekerjaan yang dituntut oleh klien yang mereka tangani. Pekerjaan yang didelegasikan tersebut tidak hanya dalam bentuk sempit, seperti karyawan call centre, data entry, atau customer services namun juga mencakup tingkatan yang lebih tinggi seperti pengelolaan IT (information technology) sebuah perusahaan, financial services, atau penempatan karyawan di tingkat manajerial.

Dilihat dari sisi industri, penggunaan outsourcing telah lama dilakukan oleh perusahaan minyak dan gas, dimana setiap perusahaan di bidang itu memiliki spesialisasi masing-masing. Industri manufaktur berada pada urutan kedua, sementara industri perbankan masih harus dilakukan edukasi mengenai manfaat jasa ini. Kendala utama bagi mereka adalah masalah kerahasiaan data nasabah jika pekerjaan tersebut di alihdayakan.

Di Indonesia kita bisa melihat PT Pertamina dengan KPS (Kontrak Production Sharing)-KPS-nya, PT PLN dalam penyediaan sumber daya listrik dengan perusahaan pembangkit listrik (Indonesia Power), penyediaan sistem billing tagihan, pembuatan, perawatan dan perbaikan jaringan PLN dan perusahaan penerbangan dalam ticketing, catering, cargo dan perawatan pesawat.

Kendala yang dihadapi oleh perusahaan outsourcing adalah adanya konotasi negatif yang menyertai industri ini. Umumnya bagi karyawan outsourcing akan dianggap sebagai pekerja kelas dua, karena mereka dipekerjakan bukan sebagai pekerja inti, dan karenanya pekerjaan yang dilakukan hanya sebatas penunjang pekerjaan karyawan tetap.

Adanya perbedaan antara tenaga kerja inti dan tenaga kerja outsourcing harusnya memberikan kejelasan mengenai job description dari masing-masing pekerja. Berarti perlu diperjelas sebenarnya antara konsep pekerjaan yang termasuk core dan non-core, sehingga setiap karyawan tidak tumpang tindih dan tahu mengenai job description yang menjadi tanggung jawabnya dan hal ini menjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, penyedia jasa outsourcing dan penyewa jasa.

Kemampuan bahasa Inggris yang kurang memadai bagi karyawan outsource menjadi kendala tersendiri jika perusahaan tersebut akan go international. Keamanan yang masih dipersepsi negatif oleh luar juga menjadi kendala tersendiri bagi perusahaan dalam negeri. Manajemen yang masih kurang dibandingkan manajemen penyewa jasa membuat kontrak yang terjadi kadang seringkali menguntungkan penyewa jasa, karena mereka tidak memiliki bargaining power.

Namun tidak semuanya penyedia jasa outsourcing seperti di atas, salah satunya adalah PT Valdo International. Perusahaan ini bahkan telah mengakuisisi perusahaan menengah Filipina, WinSource Inc. yang bergerak di bidang yang sama. Dalam peta global, Filipina berada pada posisi ketiga di bawah India dan China dalam hal penyediaan jasa outsourcing. Di sana bahkan ada akademi yang melatih para karyawan outsource dalam hal pronunciation bahasa Inggris, sehingga masalah perbedaan bahasa tidak lagi menjadi penghambat untuk perusahaan luar negeri menggunakan jasa mereka.

Cost efficiency menjadi salah satu faktor penyebab mereka ditunjuk oleh klien mereka. Ketika mereka dapat pekerjaan dari penyewa jasa, mereka terlebih dahulu akan mempelajari dan melakukan re-engineering terhadap proses kerja. Proses inilah yang akhirnya menjadi daya unggul mereka. Perbaikan proses tentunya akan diiringi dengan efisiensi biaya dan hal itu bisa menghemat biaya 35%-50%. Agar dapat memberikan lebih banyak pilihan kepada kliennya dalam hal dimana lokasi pekerjaan akan dilakukan mereka akan mulai melakukan ekspansi ke wilayah Amerika karena demand¬-nya masih terbuka lebar di negara tersebut bahkan udah merambah ke Amerika Latin.

Perkembangan dan pertumbuhan industri outsourcing dunia membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat meraih sebagian kue pendapatan outsourcing global senilai US373 miliar. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk dapat mengambil ceruk pasar yang masih tumbuh tersebut adalah, pertama, pelatihan SDM, khususnya kemampuan bahasa Inggris yang sangat diperlukan untuk bersaing dalam skala global. Kedua, diperlukan akademi pelatihan khusus bagi karyawan outsource seperti yang dilakukan Filipina. Ketiga, adanya imbalan yang wajar bagi karyawan outsource, serta hak-hak yang harus mereka terima. Keempat, untuk menghasilkan karyawan outsource tingkat manajerial diperlukan sistem pendidikan kita yang mencetak profesional-profesional baru dan adanya kesusuaian antara lulusan serta pekerjaan mereka, karena selama ini sering kali antara lulusan dengan pekerjaan yang mereka dapatkan tidak sesuai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s