Taufik Mustofa Sabeni – Jagoan dalam Arus Modernitas

(Tulisan ini sebagai bahan latihan dalam Training menulis Calon Reporter Bisnis Indonesia oleh Iin Squall)

Suasana di trotoar pinggir jalan begitu ramai. Lalu lalang kendaraan berlarian tiada henti. Debu mengepul dibarengi asap kendaraan bermotor semakin menambah panasnya siang hari. Keadaan tak jauh berbeda di sebuah warung kopi. Letaknya di atas trotoar yang berada di sepanjang jalan Kebon Kacang Raya. Kepulan asap rokok tiada henti-hentinya bersahutan. Gelak tawa dan sesekali pembicaraan serius menjadi bahan obrolan sehari-hari yang tak pernah lelah dilontarkan oleh sekumpulan orang yang berada dalam warung kopi tersebut.

Kalau dilihat sepintas, tidak tampak seperti warung kopi, karena memang jalanan trotoar itu tidak diperuntukan sebagai tempat kongkow bagi pejalan kaki. Kedai itu hanyalah sebuah gerobak yang berisi aneka minuman. Kopi, susu, teh dan aneka minuman terlihat menghiasi gerobak minum tersebut. Pos jaga yang tak jauh dari gerobak itu, disulap menjadi tempat minum kedai tersebut. Tidak perlu susah payah untuk menyulap tempat itu, karena pasalnya tempat itu udah teduh karena dikelilingi rindangnya pepohonan.

Seorang lelaki tua singgah di tempat itu. Kerutan telah tampak di wajahnya. Motif bunga-bunga kecil berwarna kuning yang tersemat di bajunya menjadi daya tarik lelaki itu. Kesederhanaan terlihat di balik penampilannya yang tidak terlalu mencolok, dengan tidak lupa menggunakan kopiah di kepalanya. Dengan celana hitam dan sandal hitam yang dikenakannya, sesekali orang menyapanya dan ia pun membalas sapaan itu dengan senyuman ramah. Rupanya Ia sangat dihormati oleh warga perkampungan tersebut. Bisa dibilang semua mengenalnya. Perlahan dia duduk di bangku kayu berwarna coklat. Sambil memesan segelas kopi, pandangannya menyapu sekeliling tempat itu. Beberapa orang memulai bertanya kepadanya, dan spontan obrolan pun mulai terjadi dan tidak memerlukan waktu lama ia telah bercerita panjang lebar. Orang lain mulai menyimak apa yang dibicarakannya.

Taufik namanya. Bernama lengkap Taufik Mustofa Sabeni, dengan 3 anak ini ternyata merupakan cucu langsung Sabeni, seorang jagoan yang cukup terkenal di lingkungan betawi, sehingga dengan ketenarannya itu akhirnya menelurkan aliran silat Sabeni, khusunya daerah di Tanah Abang. Untuk menghormati Sabeni, jalan di depan tempat kediamannya pun akhirnya dinamakan Jalan Sabeni.

Seperti hal kakeknya, Taufik pun masih disegani. Lelaki berusia 52 tahun menjadi orang yang dituakan di daerahnya. Namun saudara dekatnya, Ali Sabeni, justru bertempat tinggal jauh dari daerahnya, di daerah Taman Mini. Khusus saudaranya yang satu ini , ia masih dipercaya untuk memegang kesenian Samrah, salah satu orkestra khas Betawi, yang umumnya diperagakan dalam acara-acara penting, seperti pernikahan dan selamatan.

Walaupun Taufik sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun kata-katanya masih sangat bersemangat. Apalagi jika obrolan tersebut berkaitan dengan Betawi. “Sangat tidak memberikan positif kepada warga sekitar,” ujarnya ketika ditanyakan kepadanya mengenai adanya bangunan Hypermart di daerahnya. Menurutnya justru akan mematikan pasar tradisional yang tak jauh dari bangunan tersebut.

Sesekali ia berhenti bertutur. Rokok kretek Djie Sam Soe ditangannya dihisap kembali secara perlahan. Asap mengepul keluar dari mulutnya. Kelegaan tampak di matanya. Ingatan masih lalu kembali datang. Sejak muda Taufik telah digembleng ilmu bela diri pencak silat oleh ayahnya. Walau sudah tidak terbilang muda lagi namun kesan bugar masih terlihat dari perawakannya. Dahulu, bagi orang Betawi, Pencak Silat merupakan hal yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Jadi jangan heran seandainya ia mengetahui 3 aliran pencak silat yang berasal dari ranah Betawi: Silat Sabeni, Silat Rahmat, dan Silat Cingkring. Masing-masing memiliki kekhususan sendiri. Perbedaan terjadi akibat adanbya variasi dan penambahan dalam ilmu silat dasarnya, hingga menjadi bercabang 3 seperti yang saat ini disebutkannya.

Lelaki yang gemar bermain catur ini ternyata apa adanya. Sangat blak-blakan. Orang baru yang belum mengenalnya pun tentu akan mudah akrab dengannya. Ketika ditanya mengenai kekerasan seperti yang selalu dipertunjukan oleh beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang mengatasnamakan Betawi, raut wajahnya seketika berubah. Tekanan suaranya semakin kencang. Terlihat geram tampaknya. “Orang-orang bego itu semua, balik lagi kayak zaman kolonialis,” ujarnya kemudian. Menurutnya orang-orang Tanah Abang agamis semua, tidak suka kekerasan, dan sangat kekeluargaan. Orang-orang yang tergabung dalam ormas dan sering melakukan tindakan kekerasan merupakan oknum, bukan merupakan sifat asli orang Betawi. Buktinya di tempat dia berada sekarang, aman-aman saja. Orang baru atau pun lama, berbeda ras atau pun tidak, tetap diperlakukan sama. Tidak ada pembedaan sama sekali. Setiap warga rukun-rukun saja.

Tidak seperti almarhum Benyamin Sueb–salah satu tokoh Betawi yang legendaris–yang menjadi tokoh babeh Sabeni di film Si Doel anak sekolahan, yang memajukan dan memelihara budaya Betawi lewat seni sehingga masyarakat Indonesia tahu dan memiliki pandangan positif tentang budaya Betawi, Taufik memiliki cara tersendiri untuk melakukan hal yang sama. Sebagai Tetua, ia sangat peduli dengan apa yang terjadi di lingkungannya dan setiap warga mengetahui hal itu. Jika terjadi sesuatu dengan warga lingkungannya, ia telah mendapatkan bocoran dari warga sekitar. Karena kepeduliannya yang begitu besar, ia beserta teman-temannya menggagas sebuah forum ikatan bagi warga Tanah Abang. Akhirnya terbentuklah IKTB (Ikatan Keluarga Besar Tanah Abang) sebagai forum komunikasi bagi warga sekitar, hingga jika ada masalah antar warga bisa didamaikan secara kekeluargaan. “Kalo emang ada yang buat onar, itu baru kita tindak rame-rame, karna udah ngeganggu warga. Gak orang Betawi aja yang turun tangan, tapi semua warga,” tuturnya kembali mengingatkan.

Itulah sebuah penggalan cerita suatu siang menjelang sore hari di sebuah warung kopi dari banyaknya penggalan cerita yang sering terjadi di sana. Kongkow-kongkow, membahas isu yang sedang hangat-hangatnya, serta problematika yang terjadi di lingkungan sekitar menjadi sarapan sehari-hari jagoan dari Kebon Kacang ini beserta kawan-kawannya. Dibalik arus modernitas yang begitu kuat menerpa dan ketika individualitas dijadikan sikap hati-hati yang terlalu ekstrem ternyata masih ada sosok yang peduli terhadap lingkungan sekitar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s