Gugusan Bukit di Batu Raden

(Tulisan ini sebagai bahan latihan dalam Training menulis Calon Reporter Bisnis Indonesia oleh Iin Squall)

Gugusan bukit dengan udara dingin yang menyelimuti, serta pemandangan alami membuat kami berenam memutuskan ke Lokawisata Batu Raden sebagai tujuan liburan tahun baru kami. Tidak seperti biasanya yang selalu berada di Jakarta, kini kami memutuskan untuk pergi ke luar kota, kawasan Batu Raden, Purwokerto. Jalanan yang rapi, bersih, penduduk kota yang ramah, membuat dahaga awal liburan kami terpuaskan. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya kami terpesona dengan suguhan pemandangan sawah yang hijau. Nyaman, itulah yang kami rasakan pada saat itu.

Sampailah kami di kawasan Batu Raden. Seperti kami, telah banyak orang yang juga turut berwisata di sana. Maklum, lagi liburan panjang menyambut tahun baru 2010. Pintu loket karcis terusan sudah ditutup. Waktu telah menunjukan jam 2 siang. Dengan kami membeli karcis terusan artinya kami bisa langsung masuk ke 3 tempat obyek wisata: lokawisata Batu Raden, pancuran 3, dan pancuran 7. Untuk mencapai pancuran 7, kami harus berjalan kaki menanjak mulai dari Lokawisata Batu Raden melewati pancuran 3 dan akhirnya sampai di pancuran 7.

Mengingat waktu yang sempit, dan ditakutkan banyak dari pelancong yang tidak sempat untuk ke tujuan akhir, pancuran 7, maka petugas loket telah menutup loket karcis terusan sebelum waktu normal ditutup. Mau tak mau kami membeli karcis biasa seharga Rp7.000 untuk masuk lokawisata Batu Raden saja. Senyuman manis dan sambutan ramah dari petugas karcis membuat kekecewaan kami sedikit terhibur.

Patung macan yang dibekukan oleh air keras terpampang di depan kami. Beberapa mencoba berfoto dengannya. Anak-anak muda tertawa dengan riang gembira dan berpose tanpa kenal lelah di depannya. Antrian pun tak terelakan. Namun karena tujuan kami sebenarnya adalah pancuran 7, maka kami mengurungkan niat kami sebentar. Pikir kami, masih ada waktu setelah kami kembali lagi ke sini dari atas. Toh waktu masih panjang, yang terpenting kami sudah ke pancuran 7.

Namun kami juga tidak lupa menyempatkan diri berfoto. Berbagai gaya kami coba. Objek yang berbeda, gaya pun berbeda. Di jembatan gantung yang pernah ambruk pun kami tidak luput berfoto. Namun jembatan tersebut kini tergantikan dengan jembatan beton yang kokoh menjulang di tengah aliran sungai yang cukup deras. Pemandangan laut pun tampak dari sudut jembatan itu walau jarak sebenarnya sangatlah jauh. Bukit-bukit gunung yang berimpitan menari-nari membuat elok pemandangan yang terpampang. Kami beruntung bisa liburan disini.

Perjalanan dilanjutkan. Undak-undakan batu yang terbuat dari batu kali dan campuran semen tipis membuat perjalanan cukup melelahkan. Untuk mencapai pancuran 3 saja, kalau mau dihitung kami harus menaiki sekitar 400 anak tangga. Betapa melelahkannya. Kembali kami dihadang petugas. Kami kumpulkan uang Rp7.000 kembali per orang. 3 pancuran yang muncul dalam tebing yang berwarna kuning keemasan membuat kami terpesona. Tak luput kami mencoba air dari pancuran tersebut. Hangat. Itulah yang kami rasakan. Bau belerang yang menyengat menggugah kami semua akhirnya mencuci muka dan membasuh pergelangan serta kaki kami.

Tak jauh disampingnya ada sebuah danau teratai yang indah. Jangan salah, walaupun danaunya terlihat kecil, namun kedalamannya jangan ditanya lagi. Teratai yang tumbuh diatasnya tampak seperti kamuflase bagi dalam dan dinginnya air di danau tersebut. Tebing-tebing yang mengelilinginya membuat bulu kuduk merinding, pasalnya tak jauh darinya, ada makam yang biasanya dijadikan tempat peziarah bagi orang-orang sekitar maupun orang-orang yang mengenal sejarah tempat tersebut.
Kembali kami memutuskan ke tempat tujuan terakhir. Undakan-undakan yang lebih tinggi dan panjang masih menjadi makanan kami. Kami harus bersusah payah. Pohon-pohon yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan, membuat jalan setapak yang kami lalui akan menciutkan sebagian besar orang yang ingin ke pancuran 7. Di depan dan di belakang kami tidak melihat ada rombongan lain. Saat itu sudah pukul 4 sore. Perjalanan pun kami lanjutkan dengan tertatih-tatih.

Sampailah kami di pancuran 7. Setelah membayar karcis masuk, justru kami dihadapkan kembali kepada turunan terjal. Setelah kami naik undakan-undakan yang begitu panjang, justru kini sebaliknya, kami menuruni undakan-undakan. Bau belerang semakin menyengat. Banyak pelancong yang telah bermandikan belerang. Dengan celana pendek dan berbekal kepercayaan diri, beberapa orang mulai melulurkan badannya dengan belerang. 5 menit mereka melakukan hal tersebut. Terasa perbedaan di kulit mereka. Kulit mereka kemerah-merahan, namun hal tersebut berharga, pasalnya kulit terasa lebih halus.

Kota yang hilang, itulah menurut kami ketika kami tiba di pancuran 7. Berada di undakan paling bawah, dengan area yang dikelilingi pohon-pohonan yang menjulang tinggi seolah-olah membuat kami terlepas dari dunia kami saat itu. Benar-benar alami. Kami hanya ingin bersenang-senang. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga wisata tahun baru kami pun harus berakhir. Namun satu hal yang pasti, pengalaman ini tidak akan terlupakan, dan mungkin akan menjadi titik tolak kami untuk melakukan perjalanan-perjalanan wisata di kota lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s