Pengalaman Mistikal Kami di Batu Raden (True Story)

Pengalaman wisata ke Batu Raden tidak akan pernah terlupakan bagi 6 sekawan. Keceriaan, canda, dan pengalaman bisa dibilang berbau mistis pun datang kepada kami berenam. Kami yakni Iin Squall (indra), Inul (semmut), Jeva (jefry), Beruang (harry), Pompit (pipit) dan Mpai (supri) tidak menyangka bahwa dalam akhir perlanan kami di Batu Raden kami akah dihadapkan pada pengalaman mistis

Tanggal 1 Januari 2010, dimulailah perjalanan kami ke Batu Raden. Sehari sebelumnya kami telah sampai ke Purwokerto untuk malam Tahun Baruan di Alun-alun Purwokerto, menikmati indahnya fireworks. Guyonan, saling ejek udah merupakan menu langganan setiap kali kami bertemu. Dalam setiap perjalanan selalu saja candaan muncul, sehingga walau pun sebelumnya kami tidur jam satu pagi, dan bangun jam tujuh pagi, padahal sehari sebelumnya telah menempuh perjalanan panjang 6 ½ jam tidak menyurutkan langkah kami untuk tetap pergi ke Batu Raden.

Akhirnya sampai juga kami ke tempat tujuan, Batu Raden.

Untuk tiket masuk dikenakan biaya Rp 7.500/orang walaupun ada karcis terusan yang sekali masuk saja, tanpa membeli tiket lagi ke bagian lainnya. Secara umum dalam lokawisata Batu Raden terbagi menjadi 3 bagian. Pertama adalah lokawisata, yang tampak seperti taman dan adanya jembatan gantung yang tinggi, sehingga kami bisa melihat gunung-gunung yang mengelilingi lokawisata tersebut serta aliran sungai yang jernih menambah keelokan lokawisata Batu Raden. Kedua, adalah pancoran 3, untuk masuk kedalam pancuran 3 (karena kami tidak menggunakan karcis terusan), maka diharuskan membayar kembali sebesar Rp7.500/orang kembali. Dan bagian ketiga, merupakan bagian puncak dari lokawisata Batu Raden, yakni pancuran 7.

Sesampainnya dalam lokawisata (lihat video 01 Jan 2010 part 02 Sampai di Batu Raden), yang merupakan bagian pertama tujuan wisata kami, kenarsisan.com sudah melanda (lihat video 01 Jan 2010 part 03 Jembatan Gantung di Batu Raden), khsususnya inul yang dengan goyang ngebornya, selalu tampil dalam setiap kamera. Boyband jadi-jadian pun akhirnya terbentuk selama sesi pemotretan. Setelah selesai, kami pun menuju bagian lain, yakni Pancuran 3. Jeva dengan jurus goyangan pantatnya membuat kami terpingkal-pingkal (lihat video 01 Jan 2010 part 04 Menuju Pancuran 3). Undakan tangga sudah menghadang di depan mata kami, namun masih tergolong landai dan tidak seberat ketika kami menuju ke lokasi pancuran 7.

Hampir semuanya membawa kamera foto atau pun jika tidak, ponselnya memiliki kamera foto menyebabkan kenarsisan.com tidak terelakan lagi dalam perjalanan menuju pancuran 3, jadi jangan heran jika semuanya bisa dibilang banci foto semuanya. Jeva dan Mpai membawa kamera masing-masing. Beruang, Pompit dan Inul menggunakan kamera ponsel mereka, sementara aku, hanya menjadi objekan foto saja, mungkin karena memang cocok jadi objek fotografi sepertinya (hehehe). Untuk masuk ke pancuran 3 pun akhirnya mau tidak mau kami harus mengeluarkan kocek kami kembali (lihat video 01 Jan 2010 part 05 Banci Foto Semuanya).

Di pancuran 3, terlihat adanya kolam teratai yang indah. Namun kolam itu tidak seindah dari apa yang terlihat. Cerita yang menghantuinya baru kami ketahui kemudian, ketika kami ngobrol-ngobrol dengan anak dari pemilik warung makanan dekat lokasi Pancuran 7. Belum lama sebelumnya, ada kejadian meninggalnya pengunjung di kolam tersebut, karena sangat dalamnya. Ada sejumlah pengunjung yang mencoba berendam di dalamnya, namun tenggelam begitu saja. Dicari pun masih tidak ketemu, namun setelah di doain kolam tersebut, barulah pengunjung tersebut diketemukan. Memang unsur mistik masih terasa kental di area tersebut. Dekat pancuran 3 ada sebuah makam, yang sayangnya penulis lupa nama yang tertera dalam makam tersebut.

Kami tidak berlama-lama di pancuran 3, karena kegelapan pun telah datang dari peraduan, mendung pun tak terelakan hingga akhirnya hujan rintik-rintik pun mulai membasahi jalan kami. Seperti bisasa, setelah foto sana foto sini, kami melanjutkan perjalanan ke pancuran 7. Undakan-undakan semakin tinggi, dan membuat kami kelelahan, namun tekad kami yang begitu besar untuk mencapai pancuran 7, karena tampaknya hanya kami berenam saja yang terlihat di jalan setapak tersebut. Di depan dan di belakang kami tidak tampak batang hidung satu manusia pun yang menuju pancuran 7, namun kami tetap having fun, bercanda dan foto-foto seperti biasa, walau kesunyian telah menghampiri kami. Kami benar-benar berada di tengah hutan dengan pepohonan yang lebat, tidak ada rasa khawatir sama sekali akan terjadi sesuatu yang diluar perhitungan kami. Mungkin karena kesombongan kami justru kami akhirnya akan mengalami sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh kami beberapa jam kemudian. Kabut pun mulai turun. (lihat video 01 Jan 2010 part 07 Kabut Mulai Turun)

Akhirnya sampai juga kami di puncak undakan (lihat video 01 Jan 2010 part 08 Depan Warung Atas Bukit). Hujan pun akhirnya semakin deraas, dan kami memutuskan untuk berteduh di sebuah warung tempat peristirahatan bagi pengunjung pancuran (lihat video 01 Jan 2010 part 09 Hujan Mengguyur). Derasnya hujan membuat perut kami keruyukan dan beberapa dari kami pun mulai memesan makanan dan minuman untuk menghangatkan tubuh kami yang sudah disergap dinginnya udara. (lihat video 01 Jan 2010 part 11 Makan-makan di Warung).

Hujan sudah mulai mereda dan waktu telah menunjukan pukul 5 sore, rintik-rintik mulai menampakan dirinya kembali, kami pun akhirnya memasuki pintu masuk pancuran 7. Informasi baru yang telah kami ketahui adalah kami dapat kembali ke bawah tanpa harus berjalan kaki kembali tetapi dapat menaiki angkutan umum yang akan mengantarkan kami dari pancoran 7 ke tempat asal kami berangkat dari bawah. Suatu kelegaan tersendiri bagi kami, yang memang sudah cukup lelah untuk kembali berjalan mengikuti undakan-undakan yang naik turun serta curam. Kami berenam pun mulai mengumpulkan kembali uang sebesar Rp7.500/orang untuk memasuki area pancuran 7, namun ketika kami mau masuk, penjaga loketnya justru memberikan kami diskon, sehingga kami hanya dikenakan Rp5.000/orang. Betapa senangnya hati kami kembali (lihat video 01 Jan 2010 part 12 Masuk ke Pancuran 7).

Sesampainya di dalam, kami telah disuguhkan pemandangan yang begitu indah. Hamparan belerang dan kepulan asap belerang yang membentuk awan serta tampak di kejauhan barisan gunung-gunung semakin membuat kami terlena dan tak terpikirkan bahwa kami harus menanggung akibatnya tidak begitu lama lagi. Tampak adanya 7 pancuran yang mengeluarkan air belerang, namun terlihat juga makam “Mbah Atas Angin” di samping pancuran 7 tersebut (lihat video 01 Jan 2010 part 13 Area Pancuran 7).

Sedikit sekali pengunjung yang tampak, karena rata-rata mereka satu per satu justru meninggalkan area tersebut (lihat video 01 Jan 2010 part 14 Hamparan Belerang). Kami pun mulai memisahkan diri. Jeva dan Mpai mulai melepaskan baju mereka dan mulai melapisi tubuh mereka dengan belerang dan hangatnya air di sekelilingnya. Jadilah SPA alam dimulai. Sementara Aku, Inul, Beruang, dan Pompit menyusuri lebih dalam ke bawah area pancoran 7 yang ternyata ada alirang sungai dibawahnya (lihat video 01 Jan 2010 part 15 Menuju Gua Mbah Tapa Angin).

Waktu pun berlalu dengan kami berfoto ria (lihat video 01 Jan 2010 part 16 Foto-foto dan Kembali ke Atas). Kami tidak mengira bahwa dibalik kegembiraan kami justru tersembunyi malapetaka yang tidak pernah kami kira sebelumnya. Kami pun mulai bersiap-siap untuk kembali turun ke bawah, ke tempat asal kami tadi naik (berarti masih dibagian 1 lokawisata) (lihat video 01 Jan 2010 part 17 Ganti Baju & Siap-siap Kembali). Kami pun berpapasan dengan salah satu pedagang yang berada di situ, yang tampaknya ia ingin mandi, dan ia bilang

“angkutannya udah nggak ada, kalian jalan aja”.

Betapa kagetnya, kami tidak mengira bahwa sudah tidak ada angkutan lagi yang akan mengantarkan kami. Kami melihat sekeliling, dan ternyata tidak ada pengunjung lain lagi selain kami!! Dan yang lebih parahnya lagi, lampu pun tidak ada!! Hanya gelap yang menyelimuti kami. Kami hanya berenam saja di pintu masuk pancuran 7, Lima elaki (Aku, Jeva, Mpai, Harry dan Inul) dan seorang wanita (Pompit) . Tidak ada siapa-siapa lagi. Benar-benar sepi. Kami tidak mengira bahwa hal ini akan terjadi pada kami (lihat video 01 Jan 2010 part 18 Kegelapan dan Kesunyian Menghadang). Sendirian di tengah Hutan!!! Dengan gerimis yang masih masih mengguyur, dan tidak adanya senter sebagai penerangan perjalanan balik kami.

Kepanikan mulai melanda. Tetapi kami harus tetap fokus!!! Hanya itulah yang bisa kami lakukan. Pada akhirnya kami dihadapkan pada 2 pilihan jalan. Jalan pertama adalah jalan setapak yang telah kami lalui yang berbatu dan licin karena hujan, dimana kami mau tidak mau jika kembali melalui jalan tersebut akan dihadapkan dengan kegelapan yang pekat!!! Kami benar-benar berada dalam hutan, tanpa siapa pun di sekeliling kami selain kami berenam. Pilihan kedua adalah dengan kami berjalan ke arah asal dengan mengikuti jalur angkutan umum yang belum kami lalui, dengan aspal yang halus, tetapi kami belum tahu ke arah mana jalan ini menuju.

Awalnya kami menyusuri jalan angkutan, karena selain beraspal, kegelapan tidak begitu pekat sehingga lebih aman. Namun beruang tiba-tiba ingin kembali ke warung tempat kami makan sebelum masuk ke pancuran 7, mungkin saja pemilik warungnya masih ada. Kami pun menunggu di jalan, sementara beruang dengan ditemani Jeva menyusuri jalan menuju warung tersebut. Kami menunggu dan menunggu. Gelap semakin pekat. Rintik-rintik hujan semakin deras. Tiba-tiba teriakan dari beruang mengagetkan kami.

“Guys ke sini cepat!!

Kami pun mulai berlarian kesana, karena dari suaranya yang tidak wajar, seperti suara kepanikan akhirnya menggerakan kami untuk secepatnya sampai ke depan warung. Namun Mpai, yang terbiasa Hiking (naik gunung), dia berkata:

“Pelan-pelan aja, gak usah cepat-cepat”

Kami pun memperlambat ayunan langkah kami, dan sampailah di sana. Ternyata tidak ada apa-apa, hanya panggilan biasa supaya kami yang lain bergabung. Jeva dan Beruang lebih setuju untuk kembali dengan mengambil jalan setapak, karena beralasan kami tahu jalan tersebut menuju kemana, apalagi kami tidak memiliki penerangan sama sekali hanya lampu ponsel saja, sementara jalan aspal angkutan tersebut kami tidak tahu akan kemana menuju. Alasan yang masuk akal. Akan sangat tidak baik, jika ditengah hutan, tanpa ada penerangan sama sekali, kami justru membuka jalur baru.

Karena ponsel beruang lebih terang diputuskan dia sebagai penunjuk jalan, dan kami mulai berjalan beriringan. Di ikuti oleh Jeva dibelakangnya, Inul, Pompit, Mpai, dan Aku dibelakang mereka. Kami mulai menyusuri jalan setapak itu. Keadaan benar-benar gelap.

Beruang : “Guys ada tanjakan di depan” , “Hati-hati licin guys”, “Ada pipa di depan”

Beruang sebagai navigator. Satu hal yang Aku takutkan sebenarnya adalah ketika mulai jalan setapak itu, jika ternyata ada hal-hal gaib yang iseng. Percaya atau tidak dunia gaib itu ada. Mpai yang memang sensitif terhadap penampakan-penampakan yang terjadi pun menundukkan pandangannya. Baru kami ketahui seringnya dia menundukkan kepala karena banyaknya hantu-hantu yang melirik ke iringain kami. Dan aku juga baru tahu kalo ternyata ada yang mengikuti kami, dimulai dari warung tempat kami makan-makan sebelumnya sampai ke pancuran 3 yang untungnya dia tidak mengganggu, hanya mengikuti saja. Mungkinkah itu Mbah Atas Angin yang ingin melindungi kami dari sergapan hantu-hantu yang matanya tidak terlepas dari kami sedetik pun? Ini hanya pemikiran belum tentu benar, karena kenapa juga dia mengikuti tanpa berbuat apa-apa? Dan kenapa hanya sampai di pancuran 3, yang kebetulan di dekat pancuran 3 ada makam adiknya. Kesemua ini kami ketahui ketika kami telah sampai di rumah.

Setapak demi setapak kami berjalan. Hujan kembali turun dengan deras!!! Secara tiba-tiba Pompit terjatuh. Walau pun Mpai dibelakangnya sudah menahan kejatuhannya, namun dia tetap terjatuh juga. Tampaknya pompit kesakamin, terlihat dari wajahnya. Kami benar-benar bermodal nekat saja menyusuri jalan setapak di kegelapan hutan tanpa penerangan sama sekali. Perjalanan tetap dilanjutkan, dan pompit kembali terjatuh. Terpaksa Mpai memapahnya, sementara Aku masih berada di belakang barisan. Beruang masih tetap meneriakan keadaan jalan setapak yang akan kami lalui.

Sampailah kami di pancuran 3 dan tibalah kami disamping makam yang ada di pancuran 3. Secara tiba-tiba Mpai berkata dengan pelan walau terdengar jelas bagi kami berenam

“Assalamu’alaikum”

Aku tahu pasti ada sesuatu sehingga Mpai berkata seperti itu. Aku pun berkata yang sama

“Assalamu’alaikum”

Aku tidak tahu tindakan itu benar atau tidak, namun aku baru tahu alasannya ketika Mpai menceritakan kejadian tersebut di rumah, bahwa ternyata ketika kami telah berada di area pancuran 3, di depan makam tersebut ada “penuggu makam” dan dia akhirnya pun menjawab

“Wa alaykum salam”

Dan ini hanya Mpai sendirilah yang tahu karena dia memang sensitif akan penampakan-penampakan gaib. Kami sempat berhenti sebentar untuk memeriksa kaki Pompit, tampaknya dia mengalami kesakamin. Ketika penerangan diarahkan ke kakinya, ternyata di kaki kami banyak pacet (lintah) yang menempel. Karena gelap dan tidak mungkin untuk dibersihkan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lewat dari pancuran 3, sampailah kami di pendopo yang tidak jauh dari batu gantung, yang berarti kami telah berada pada posisi bagian lokawisata. Hujan semakin deras ketika kami sampai di pendopo tersebut. Pompit tiba-tiba memegang erat pergelangan tangan Mpai dan memalingkan mukanya secara tiba-tiba, yang ternyata kami ketahui kemudian ketika saat itu kami berhenti ketika dihitung sama Pompit, kami bukan berenam, tetapi bertujuh!!!. Kami tidak tahu siapa itu, Aku pun tidak sadar. Yang sadar hanya Mpai dan Pompit. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kembali walau di tengah derasnya hujan yang mengguyur.

Perjuangan kami akhirnya membawa hasil, Kami telah sampai ke pintu utama Loket wisata Batu Raden, tempat awal kami masuk. Alhamdulillah kami telah dilindungi sampai selamat oleh Allah SWT. Kelegaan timbul di hati kami. Kami tidak menyangka bahwa wisata yang kami lalui ternyata membuat kami harus melalui itu semua.

Pembicaraan kami sesampainya di rumah tidak lain membicarakan tentang kenapa hal tersebut bisa terjadi? Dipikir-pikir, tampaknya kami yang kurang berlaku sopan terhadapa area pancuran tersebut. Kami sering bercanda dan merasa sombong, padahal area tersebut merupakan tempat keramat. Banyak peziarah yang datang ke makam yang ada dalam batu raden tersebut dan juga dijadikan sebagai tempat bertapa bagi peziarah-peziarah tersebut. Wallahu Alam.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s