Perhelatan 17-an, Sebuah Catatan Refleksi Diri

Selalu setiap bulan Agustus, saya selalu dipanggil untuk menyiapkan segala hal berkaitan dengan perayaan kemerdekaan negeri kita. Mulai dari malam syukuran pada tgl 16 Agustus nya sampe koordinir perlombaan untuk anak-anak buat esok harinya. Pejabat RT selalu saja mengumpulkan anak-anak mudanya untuk kumpul menyiapkan segala perlengkapan dan perlombaan apa saja untuk anak-anak RT 07 RW 012.

Selalu terjadi setiap tahun. berulang-ulang tanpa ada perubahan, tanapa ada pergantian kepemimpinan. Bahkan ada teman saya yang berseloroh, kalo “saya panitia abadi”. wow, suatu yang simple, tapi memang seperti itu kenyataanya. Kalau udah sekali ditunjuk sebagai panitia, para pejabat RT lingkungan RT 07 selalu saja mengumpulkan orang-orang yang tahun sebelumnya juga jadi panitia.

Tidak ada yang baru dalam perhelatan 17an. Acara syukuran yang sama, Lomba yang sama, dan panitia yang sama. Kemonotonan menjadi makanan tahunan setiap perhelatan itu diadakan. Jika panitia ingin mengembangkan acara, selalu saja alasan klasik untuk menolaknya, “dana terbatas”. Jika panitia pelaksana ingin mandiri dengan membuat program acara baru, hal itu tidak mungkin, karena dapet selintingan kabar bahwa kenapa selama ini remaja tidak dikasih kebebasan untuk menyusun acaranya sendiri lebih disebabkan ketidakpercayaan pejabat RT kepada remaja RT 007. Selidik demi selidik, ternyata dahulu pernah ada salah seorang remaja yang jadi panitia, dan jadi panutan ternyata menggelapkan uang panita, jadinya anak-anak tidak bisa ikut lomba. Kasihan kan? dan imbasnya berlanjut sampai regenerasi kepanitiaan sekarang.

Dengan segala carut-marut kepanitiaan dan perhelatan 17an yang selalu jadi perdebatan di kalangan remaja setiap tahunnya karena perbedaan persepsi yang menyertainya antara pejabat RT dengan remaja selaku panitia. Remaja ingin uang perlombaan itu diberikan semuanya, biar remaja sendiri yang mengatur dan pejabat RT hanya tinggal nunggu hasilnya, sementara pejabat RT takut uang sumbangan yang telah dikumpulkan lenyap seperti dahulu. Permasalahan yang sama yang selalu berulang tiap tahunnya.

Hal yang dikemukakan di atas sebenarnya hanya bersifat teknis belaka, namun masih ada yang lebih penting yang ternyata baru diketahui belakangan setelah kegiatan 17an kemarin selesai dilaksanakan.

Tahun ini hanya diadakan lomba 17an sebanyak 4 perlombaan saja, yang penting ada perlombaaan. daripada tidak ada sama sekali. Terus terang saya sendiri sebenarnya sudah malas untuk koordinir acara 17an, men ngingat saatnya regenerasi kepemimpinan dilakukan, namun tampaknya hal tersebut masih belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Jangankan untuk regenerasi, untuk mengumpulkan anak-anak saja, sulitnya minta ampun. berbagai alasan dikemukakan. “gw kerja”, “pcar gw dateng, gak enak ditinggalin”, “males”, “bikin capek aja”, “mau aja kerja rodi”. pokoknya macem-macem jurus sudah dikeluarin. Alhasil panitia yang kumpul memang panitia yang masih concern terhadap anak-anak kecil lingkungannya.

Acara pun berlangsung dengan sedikit panitia yang datang. Untungnya karena perlombaan 17an dari tahun ke tahun tidak pernah berubah, panitia tidak merasa kesulitan untuk antisipasi hal-ahal apa saja yang mungkin kurang dalam pelaksanannya. Alhasil perlombaan hanya terdiri dari 4 lomba saja: memasukkan bendera ke dalam botol, makan kerupuk, sendok-kelereng, dan terakhir memasukan paku ke dalam botol, namun untuk yang terakhir diganti dengan lomba hoola hoop jadinya anak-anak kecil itu pada menggoyangkan perutnya. banyak kejadian lucu yang sebenarnya bisa diceritakan, tetapi nanti jadinya panjang tulisan ini.

semua anak kecil sangan antusias sekali. Ketika dilakukan pendataan saja, sudah ada 30-an lebih anak-anak yang ingin mendaftar, hingga panitia agak sibuk mendata anak-anak yang ingin ikut lomba. Walau makin siang semakin panas, hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme anak-anak tersebut untuk tetap ikut lomba.

Lomba masukan bendera kedalam botol ditunda pelaksanaan finalnya, hingga untuk sementara waktu dilanjutkan dengan lomba makan kerupuk sampai final. Lucunya di final lomba makan kerupuk, kerupuknya tersebut dikasih kecap, hingga muka anak-anak tersebut pada berleleran kecap. hehehe,, Akhirnya final lomba masukin bendera pun dilangsungkan, namun ternyata panitia tidak menyadari bahwa bendera yang dipakai semula telah diambil anak-anak sebagian dan ada pula yang rusak, sehingga, mau tidak mau harus dibuat kembali. Karena bendera plastik itu dilekatkan di kayu seukuran sumpit makan, maka kendalanya adalah kita harus membuat sumpit itu dahulu baru memasukan bendera di sumpit tersebut. Karena akan kelihatan lama, dan waktu makin siang, akhirnya ada anak-anak yang tahu akan hal tersebut mengusulkan untuk menggunakan lidi.

Akhirnya panitia bersama anak-anak yang ikut lomba, bikin dahulu bendera tersebut dengan menggunakan lidi sebagai pegangannya secara bersama-sama. bayangkan, anak-anak tersebut dengan secara sukarela, tanpa ada yang meminta, mereka menyiapkan alat lomba untuk perlombaan mereka sendiri. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Mereka tidak mengharapkan hadiah, yang mereka harapkan hanyalah bagaimana mereka bisa lomba kembali. Canda tawa mereka selalu menyegarkan panitia. betapa pun kelelahan yang dialami panitia, namun semuanya terbayar lunas. Mulai detik itu tidak ada lagi beban bagi panitia dalam mempersiapkan lomba. Lomba yang tadinya kita anggap hanya sebagai asal jadi saja, ternyata memberikan kami pelajaran indah. Kami selalu melihat bahwa lomba itu hanyalah lomba biasa yang diadakan setiap tahun, tapi kami lupa bahwa untuk apa lomba itu diadakan. kami kehilangan makna lomba 17-an yang sebenarnya. Jika sekarang kita memang telah merdeka, harusnya kita bergembira, dan anak-anak itu mampu untuk bergembira. Walaupun lomba hanya diadakan dengan dana terbatas, mereka tidak perduli, yang mereka perdulikan adalah kegembiraan dalam berlomba yang diadakan panitia. Dan mulai pada saat itu semua panitia akhirnya dapat menyatu dengan anak-anak merasakan kegembiraan dalam memperingati 17-an.

Kejadian yang lucu kembali terjadi pendaftaran lomba sendok-kelereng. saya selaku panitia dengan menggunakan microphone bilang ke anak-anak: “siapa yang mau ikut lomba sendok-kelereng segera mendaftar karena setelah makan kerupuk akan diadakan lomba sendok-kelereng”, anak-anak pun berhamburan menghampiri panitia yang mendata siapa saja yang akan ikut. dan saya pun iseng bilang “yang giginya ompong, dilarang ikut lomba”. Seketika itu ada anak-anak yang tidak jadi ikut. Yang lebih parah ada juga anak kecil yang menangis tidak bisa iktu lomba. Benar-benar nangies yang kencang. wah wah, saya yang jahil jadi tidak enak juga sama orang tuanya. Untungnya orang tuanya juga ikut pada tertawa (tahu lagi bercanda mungkin yach?) padahal kan cuma bercanda.

Satu pelajaran penting lagi yang bisa diambil dari pengalaman 17-an kemarin dan tidak kalah pentingnya adalah, ternyata ketika kita sulit memperoleh kebahagiaan dari diri kita sendiri, ternyata kita bisa juga memperoleh kebahagiaan dari membahagiakan orang lain. Karena panitia membahagiakan anak-anak kecil itu, tanpa disangka-sangka ada perasaan bahagia secara otomatis di hati setiap panitia. Pada saat itu benar-benar sudah tidak ada beban lagi, yang ada hanyalah kebahagiaan. Mungkin mulai kini saatnya kita membahagiakan orang lain, hingga tanpa kita sadari, diri kita sendiri menjadi bahagia. semoga Allah melimpahkan kebahagiaan itu bagi kita. Amin.

by: Iin Squall
^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s