Persepsi diri kita di orang lain dan orang lain di diri kita

Dalam menyikapi sesuatu tentunya kita memiliki sudut pandang mengenai masalah tersebut, yang mungkin dan seringkali berbeda dengan sudut pandang orang lain. Sebagai contoh, kita bisa mendapatkan 3 sudut pandang mengenai sebuah gelas yang terisi setengah air. Pertama, ada yang mengatakan bahwa “gelas tersebut berisi setengah air”, kedua ada yang bilang “gelas tersebut berisi setengah udara, dan terakhir ada yang bilang bahwa “gelas tersebut penuh terisi (terisi setengah air dan setengah udara)”. Apakah dari jawaban-jawaban tersebut ada yang salah? Tidak ada yang salah, karena jawaban semuanya benar adanya.

Pertanyaan selanjutnya darimana sudut pandang itu berasal? sebuah sudut pandang pasti akan terdistorsi oleh persepsi yang dibentuk oleh orang lain, entah itu dia membentuk persepsi mengenai dirinya hingga dipersepsi oleh orang lain atau persepsi mengenai orang lain yang terbentuk dibenak pribadi.

Persepsi berbeda dengan kenyataan. Kenyataan merupaka fakta yang tidak terbantahkan, sementara persepsi itu bisa kita bentuk. kita bisa membuat diri kita baik atau buruk dihadapan orang lain, tanpa mereka mengetahui sebenarnya diri kita itu seperti apa (biasanya politikus seperti ini nih). Jadi tergantungk kita yang membentuk mau seperti apa diri kita dipersepsikan di benak orang lain (kalo istilah marketing nya sich Positioning). Semakin kita jago membuat sebuah persepsi, semakin orang sulit membedakan antara fakta dan persepsi yang kita ingin tampilkan, oleh karenanya orang mungkin akan menganggap “persepsi yang ingin kita tampilkan ke orang lain” merupakan sebuah fakta yang memang sebenarnya dari orang tersebut. Kalo ada orang yang jago memainkan persepsi, berarti dia manipulatif ya? benar gak sich?

Persepsi juga dapat dibentuk oleh diri kita mengenai sikap, sifat maupun tindakan orang lain kepada diri kita pribadi. Kita bisa menilainya dengan kacamata kita, dari sudut pandang kita, bahwa si A itu begini, si B itu begitu. Tapi ini kan sekedar persepsi, kita bisa saja salah menilai. bukankah dalam sebuah pertemanan, semakin kita bersama teman-teman kita, kita jadi tahu karakter mereka seperti apa. Kita akan lebih mengetahui tingkah laku dan karakter orang lain jika kita telah menikah dengannya. Repotnya adalah, jika kita berpersepsi negatif kepada orang lain, padahal kenyataannya mungkin bisa saja salah.

KITA TIDAK AKAN PERNAH TAHU SUDUT PANDANG DAN TINGKAH LAKU orang lain tersebut tanpa kita menyertakan diri kita di lingkungan orang itu berada, teman-temannya, buku-buku yang dia baca, kerjaan dia sehingga pada akhirnya membentuk karakter orang itu, bagaimana dia bereaksi terhadap sebuah masalah, bagaimana dia memiliki sudut pandang yang berbeda.

Tentu saja pada akhirnya kita bisa menentukan sikap terhadap tindakan orang lain yang membuat kita berpersepsi terhadap dirinya. Apakah kita ingin membiarkan termanipulasi oleh tindakan orang lain atau kita menerima begitu saja tindakan dia? dan sejak kapan sudut pandang kita lebih benar dibandingkan sudut pandang orang lain? pikirin sendiri yach jawabannya.. hehehe,,,,

by: Iin Squall

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s