Siapa yang menciptakan Allah?

Kalo manusia diciptakan Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah?

Seringkali pertanyaan yang sederhana itu akan membingungkan, tapi apa memang pertanyaan terhadap Allah itu bisa sesederhana yang kita inginkan. Secara logika ada yang disebut akibat pastinya ada juga sebuah sebab. Ada yang kemudian pasti juga ada yang terdahulu. Dari akibat yang muncul dia akan menjadi sebab bagi kejadian berikutnya.

Kalau kita lihat dari sudut pandang akibat, pasti ada sebuah sebab, dan sebab itu juga ada sebab sebelumnya yang menyertainya. Setiap akhir pasti ada permulaanya kan? Apa ada yang tidak bermula? Kita hidup saja pasti ada kematian yang akan mengakhirkan kehidupan kita. Permasalahannya apakah itu juga berlaku kepada Allah SWT?

Allah dengan segala keMAHAan-Nya (Maha Awal, Maha Akhir, Maha Pengampun, Maha Penyayang, dsb) apakah bisa sebab dan akibat itu berlaku bagi-Nya seperti berlaku pada halnya manusia.

Intinya adalah kalau manusia diciptakan oleh Allah, maka siapa yang menciptakan Allah itu sendiri?

Pasti bingung kan? Kita sering kali diperingatkan oleh para Ustadz kita untuk tidak bertanya tentang perihal Allah, karena ilmu manusia tidak bisa untuk mengukur ilmu Allah. Itu benar, ilmu kita tidak mungkin bisa disamakan dengan ilmu Allah.

Pertanyaan ini sebenarnya ditanyakan kapada para ahli filsafat, yang sebagian ulama muslim bilang bahwa itu sesat walau ada beberapa ulama islam juga yang pernah turut juga dikenal sebagai filsuf, seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Ibnu Miskawah, Ibnu Farabi, Mulla Shadra, dan bahkan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali pun adalah seorang filsuf waktu masih mudanya.

Jawaban dari pertanyaan diatas itu sendiri sebenarnya berasal dari jawaban Imam Al Ghazali. Semoga Allah merahmatinya akan keluasan pengetahuan yang dimilikinya hingga kita bisa menjawab pertanyaan dia atas. Mari kita mulai pembahasannya.

Sebab-akibat itu terjadi karena ada yang awal dan ada yang akhir. Kenapa kita sebut sesuatu itu awal dan sesuatu itu akhir? Karena ada waktu yang menyertainya. Seandainya tidak ada waktu mungkinkah sesuatu itu disebut awal dan yang lain itu akhir? Tentu saja tidak.

Mengenai Allah SWT, mungkinkah Allah itu berada dalam waktu? Sepertinya tidak mungkin, karena waktu itu sendiri Dia yang menciptakan. Seandainya dia berada dalam waktu, berarti Dia bergantung kepada waktu itu dan Dia tidak punya kuasa terhadap waktu itu sendiri. ini jelas-jelas tidak mungkin. Hal yang masuk akal dan diterima oleh logika adalah bahwa waktu tidak mengenai Allah SWT.

Karena waktu terpisah dari Zat Allah dan tidak mengenai Allah itu sendiri, berarti sangat tidak mungkin kita bertanya siapa yang menciptakan Allah? Karena Allah itu sendiri tidak terikat oleh waktu yang diciptakannya. Dan juga kita tidak bisa menyebut bahwa Allah itu ada yang menciptakan sebelum adanya manusia, karena pada saat tersebut, waktu itu sendiri belumlah diciptakan. Itulah mengapa Allah itu disebut Yang Maha Awal dan yang Maha Akhir. Dia bisa berada di dua waktu yang bersamaan, karena sekali lagi, Dia tidak terikat waktu.

Kesimpulan akhir adalah Allah SWT tercipta dengan sendirinya. Wallahu alam.

By:Indrasquall

Iklan

2 comments

  1. tp tuhan berprilaku berbuat, mendengar, melihat, mencipta..dsb.. kl kita telaah pristiwa isra’ mi’raj nabi muhammad ke sidratul muntaha (langit ke 7) distu rosullulloh bertemu dg Allah dan berdialog yg alhasil perintah shalat. ini kan brrti Allah ada di dalam ruang dan waktu sbg yg diciptakannya ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s