Seminar Tung Desem Waringin

Seringkali kita memikirkan bahwa sebuah perubahan itu sangat menyakitkan, tetapi akan lebih menyakitkan seandainya kita tidak berubah. Potensi diri kita sebagai seorang manusia sangatlah besar, kadang-kadang kita sendiri yang meragukan atau menurunkan kemampuan itu sendiri. Ketika seorang ditanya, “Apakah kamu mau jadi kaya”? setiap orang sepakat “ya”, tetapi yang terjadi adalah banyak orang yang mau berubah tapi tidak mengambil sebuah tindakan untuk menuju kekayaan itu sendiri. Seminar kemaren mengajarkan saya, agar biar bagaimanapun kita harus bertindak, apapun tindakan kita. Kata Albert Eistein: “Hanya orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi tidak menggunakan cara yang berbeda”.

Langkah awal untuk sebuah perubahan adalah dengan merubah pola pikir atau cara pandang kita yang selama ini kita anggap “benar”, tetapi pada kenyataannya itu salah. Cara pandang kita dalam merespon sebuah hal akan sangat menentukan masa depan kita sendiri.

Sebagai contoh, jika kita mempunyai sudut pandang “Uang adalah sumber masalah”,(cara pandang orang-orang miskin) kira-kira apa yang terjadi? Secara logika kita tidak ingin mendapatkan uang itu sama sekali. Di alam bawah sadar kita, secara terus menerus ditempa untuk mengatakan “bahwa seberapa banyak pun uang yang kita peroleh, uang tersebut bukannya untuk membahagiakan kita, tetapi justru hanya merupakan sumber masalah bagi kita”.

Contoh lain adalah “orang kaya itu korupsi”, (sudut pandang orang miskin) apa yang terjadi? Dia tidak akan kaya, karena kenapa? Karena kalau dia kaya, logikanya dia akan korupsi, dengan demikian supaya dia tidak melakukan korupsi, hal yang terbaik adalah dengan tidak menjadi kaya. Contoh lainnya, “hati-hati kalau anda kaya, karena sewaktu-waktu bisa jadi miskin”. Apa yang terjadi dengan orang yang berpikiran seperti itu? Dia tidak akan kaya, “karena sebelum kaya pun dia sudah takut untuk jadi miskin” dan di alam bawah sadar dia pun secara terus menerus ditempa ketakutan akan kepastian bahwa sesuatu yang diatas pasti akan jatuh, hanya saja dia berpikiran bahwa kejatuhannya dibandingkan kenaikannya lebih banyak jatuhnya, sementara orang kaya selalu melihat turun naik itu biasa, karena mereka yakin bahwa kenaikan yang akan diperoleh lebih besar daripada penurunannya itu sendiri, jadi secara grafik, dia selalu naik naik, karena daya turunnya lebih kecil dibandingkan daya naiknya, sedangkan orang miskin daya turunnya justru lebih besar dibandingkan daya naiknya. Hal inilah yang membuat dia semakin terpuruk.

Bagaimana kita mempengaruhi alam bawah sadar kita? Sebenarnya sederhana saja, kita hanya dituntut untuk selalu terbuka terhadap sudut pandang lain dan selalu berpikiran positif. Kenapa harus berpikiran positif? Karena alam bawah sadar kita tidak bisa mengenal hal negatif. Sebagai contoh ketika kita berpikiran “saya melakukan bisnis ini supaya tidak miskin”, justru yang terjadi adalah dia akan benar-benar jatuh miskin, bukan menjadi kaya. Alam bawah sadar kita tidak mengenal kata “tidak” sehingga pernyataan diatas menjadi “ saya melakukan bisnis ini supaya miskin”. Jadi hati-hati mempunyai sebuah pernyataan, bisa jadi maksudnya baik, tetapi mempunyai efek negatif ke alam bawah sadar kita.

Pada tahap awal inilah perubahan yang sangat vital dalam menentukan masa depan seseorang. Jika dia dapat melalui perubahan sikap mental ini, maka dia akan bisa menatap masa depan yang lebih baik. Di seminar “Financial Revolution” Tung Desem Waringin (TDW), tanggal 7 – 9 Juli 2008, di Jittec Mangga Dua Square, banyak testimoni-testimoni mengenai hasil yang mereka peroleh setelah mengalami perubahan itu. Ada seorang pemuda umur 25 tahun, kita sebut saja Zaki, yang dahulu mengikuti seminar TDW sebelumnya memberikan testimonial yang mungkin menurut kita fantastis sekali. Bagaimana tidak, dalam transaksi pertama propertinya, dia memperolah uang Rp. 700 juta. Sepulangnya dari seminar TDW, dia mulai mempraktekan ilmu yang dipelajarinya. Dia mulai mencari properti-properti yang nilai jualnya lebih rendah dibandingkan nilai properti itu sendiri. Kata Pak Tung, “bisa saja kita dapatkan dari kata-kata seperti “dijual segera”, “butuh uang”. Hal-hal seperti itulah yang harus kita perhatikan, walaupun hal itu tidak menjadikannya sebuah prasyarat utama, bisa saja syarat-syarat yang lain.

Setelah mencari di koran, didapatkan sebuah properti yang harganya Rp.2,1 Milyar. Kata Pak Tung, “tidak diperlukan uang untuk mendapatkan uang”. Untuk itu Zaki, tidak menggunakan uang dia sendiri, karena sangatlah tidak mungkin dia mempunyai sejumlah uang sebesar itu. Untuk melakukan penawaran kepada pemilik properti itu, Zaki mengajukan penawaran yang menguntungkan si pemilik, yaitu Rp.2.4 Milyar tetapi dengan syarat properti itu tidak boleh ditawarkan kepada siapa pun dalam waktu 3 bulan ke depan (kata Pak Tung, “Naikan harga penawaran, turunkan persyaratan”), setelah itu dia mencari bank yang dapat membiayai properti tersebut. Perjalanan mendapatkan pembiayaan tidak semudah yang dia kira. Berulang kali dia ditolak, tetapi dia tidak pernah menyerah. Menurutnya hanya dibutuhkan satu bank saja, maka dia memperoleh keuntungan dari transaksi itu, lagi pula menurutnya jumlah bank di Indonesia ratusan, jadi masih banyak kesempatan.

Akhirnya ketemu juga dengan sebuah bank yang dapat membiayai properti itu, dan ternyata setelah dinilai, properti yang ditawarkan Zaki harganya hanya Rp.3.6 Milyar. Bandingkan dia ingin membeli rumah itu seharga Rp.2,1 Milyar ternyata bank dapat membiayai Rp.3,6 Milyar. Dia ambil tawaran itu sehingga transaksi pertamanya Zakim, tidak hanya mendapatkan rumah tersebut, tetapi dia juga memperoleh uang cash sebesar Rp.700 juta dari transaksi tersebut.

Dalam seminar tersebut Pak Tung, menjelaskan definisi tentang uang yang diperolehnya dari 2 gurunya, yaitu Anthony Robbins (motivator no.1 dunia) dan Robert T. Kiyosaki (Penulis buku Best Seller “Rich Dad Poor Dad” sekaligus konsultan kekayaan orang-orang kaya). Anthony Robbins menjelaskan bahwa uang adalah “alat tukar nilai tambah”, maksudnya untuk mendapatkan uang kita harus menjadikan barang yang hendak kita jual memiliki nilai tambah. Dengan adanya nilai tambah itu, nilai barang bisa mengalami peningkatan dari nilai sebelumnya. Dari Robert T. Kiyosaki, dia memperoleh pengertian uang adalah “ide”. Hanya dibutuhkan sebuah ide untuk menghasilkan uang. Dia paparkan seperti ini, anda belih BH di swalayan, Katakanlah kita membeli dengan harga Rp 10.000, tetapi karena kita kenal dengan bintang film seksi Pamela Anderson, kita suruh dia memakai BH baru tersebut hanya 10 menit saja, setelah itu BH tersebut dia tanda tangani. Hal terakhir yang kita lakukan adalah menjual BH tersebut. Setelah di lakukan pelelangan di seminar tersebut, BH itu ada yang mau membeli seharga Rp.1 Milyar. Peningkatan yang sangat besar sekali untuk sebuah BH yang harganya Rp.10.000.

Melihat kasus di atas, sepertinya untuk menghasilkan uang sangatlah mudah. Hanya dibutuhkan sebuah ide untuk menghasilkan uang , walaupun ide itu kecil. Tetapi bagaimana caranya kita memperoleh ide-ide tersebut. Satu hal yang harus kita lakukan adalah dengan membiasakan otak kita untuk selalu berpikir, jangan dibiarkan mati. Dan bagaimana kita selalu memperoleh ide-ide baru? Dengan kita banyak membaca dan selalu belajar apa pun ilmu yang dapat memperoleh manfaat bagi diri kita, dan juga dapat mengembangkan kekayaan. Ada 5 hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kekayaan kita supaya menjadi besar:
1. Mencari Uang
Selalu mencari celah-celah dimana kita dapat memperoleh uang, dari manapun hal tersebut berasal, entah itu melalui sebuah investasi, menjadi seorang makelar properti, atau sebagai penjual. Yang terpenting adalah selalu melakukan searching terhadap barang-barang yang berpotensial menghasilkan keuntungan yang menambah jumlah kekayaan kita.
2. Melindungi
Selalu melindungi aset-aset kita yang dapat menghasilkan keuntungan bagi kita, baik lewat Undang-undang atau proteksi secara langsung.
3. Memutuskan
Putuskan hal-hal apa saja yang dapat memberikan keuntungan dan yang dapat merugikan kita. Dan putuskan secepat mungkin tindakan-tindakan yang seharusnya kita lakukan untuk menambah atau melindungi kekayaan kita.
4. Gunakan Leverage (Pengungkit)
Agar kita dapat menjual barang kita, perhatikan adakah daya ungkit yang bisa kita lakukan terhadap barang tersebut. Bisa saja daya ungkit tersebut berupa testimoni selebritis, discount, money back guarantee, dsb.
5. Mencari informasi (bukan opini)
Seringkali kita terpedaya dengan pernyataan-pernyataan yang sebenarnya berupa opini namun kita menganggapnya itu sebuah pendapat. Akibatnya kita terjebak dengan opini tersebut. Untuk membedakannya, biasanya pernyataan sebuah opini dapat dimulai dengan kata-katan “menurut”, “sepertinya”, “agaknya”, “kalau nggak salah”, dsb.

Untuk memperoleh kebebasan finansial, kecenderungan dari kita tidak bertindak apa-apa, tetapi justru mencari-cari alasan apa pun untuk membenarkan tindakan kita, sehingga akhirnya kita tidak melakukan tindakan perubahan untuk menuju kebebasan finansial itu. Kata Pak Tung, tidak adanya tindakan seseorang untuk segera bertindak diakibatkan karena orang tersebut tidak memikirkan apa yang akan terjadi seandainya dia tidak melakukan tindakan perbaikan tersebut. Memang pada dasarnya manusia cenderung untuk “menghindari sengsara, mendekati kenikmatan”. Itulah kenapa banyak dari kita selalu menunda-nunda perubahan, karena kita sudah nyaman di zona nyaman kita. “Buat apa berubah, dengan begini saja kita sudah enak”?, Kalau kita mau jujur sebenarnya hal tersebut hanyalah menipu diri kita sendiri. Hidup ini selalu penuh resiko, apa yang kita anggap tidak beresiko, bisa saja di masa depan itu menjadi masalah bagi kita.

Kata Pak Tung, agar kita dapat bertindak segera dan melakukan sebuah tindakan, hendaklah apa yang kita pikirkan dimasuki unsur emosi dalam membayangkannya.
Coba anda tutup mata anda dan bayangkan sepenuh hati, bayangkan sejujurnya, dan bayangkan dengan imanjinasi anda. Akan jadi apa anda 10 tahun mendatang? Bagaimana kehidupan anda di masa itu? Bagaimana anda membiayai istri anda? Bagaimana pendidikan anak-anak? Apakah anda ingin anak-anak anda mengatakan bahwa anda adalah “papa terbaik di dunia ini? Apa yang telah anda lakukan untuk ibu-bapak anda? Apakah anda selama ini sudah membahagiakan mereka? Apakah mereka sudah tersenyum dengan hasil keringat anda? Apakah anda tidak ingin ibu-bapak anda tersenyum bahagia, bahwa anda sebagai anak dapat memberikan yang terbaik untuk mereka?

Coba anda bayangkan bagaimana jika gaji anda tidak mencukupi pengobatan ibu-bapak anda? Apakah anda hanya dapat pasrah, membiarkan orang-orang yang anda cintai itu, tergolek lemah tanpa kita bisa berbuat apa-apa?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya andalah yang dapat menjawabnya sendiri. Saatnya kita memikirkan masa depan kita, mau seperti apa kita di masa depan. Selama kita masih diberikan kesempatan untuk berubah, berubahlah walau perubahan itu sedikit demi sedikit. Selama perubahan itu memberikan hal yang baik untuk kita maupun orang-orang di sekeliling kita, alangkah baiknya kita melakukannya. Masa depan kita tergantung dari tindakan apa yang kita lakukan sekarang.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s